Malam itu njadi awal perjalanan Kaelen nuju kegelapan yang tak terhindarkan. Dengan kaki telanjang yang terluka, ia berjalan nyusuri reruntuhan desanya yang kini hanya nyisakan arang dan abu. Tubuhnya yang kecil bergetar, bukan hanya karena dinginnya malam, tetapi karena kesadaran bahwa dunianya telah hancur selamanya.
Di antara abu yang masih ngepul, ia lihat tubuh-tubuh terbujur kaku, beberapa dikenalnya sebagai tetangga yang kerap tersenyum ramah padanya. Kini wajah-wajah itu mbeku dalam horor abadi. Bau daging terbakar nusuk hidung, mbuat perut kecilnya mual. Tapi ia terus berjalan.
Di tepi hutan, ia nemukan beberapa warga yang selamat. reka duduk berdesakan, sebagian nangis pelan, sebagian natap kosong ke depan. Wajah reka dipenuhi duka dan ketakutan. Namun, di antara reka, muncul satu sosok yang berbeda—seorang pria tua dengan jubah hitam kelam. Matanya tajam seperti nembus jiwa, penuh kewaspadaan sekaligus kelelahan. Dialah Varrok, seorang mantan prajurit Kegelapan yang kini hidup dalam pengasingan.
Varrok lihat Kaelen, dan dalam sorot mata bocah itu, ia ngenali sesuatu yang telah lama ia lihat pada banyak pejuang yang tersisa—dendam yang mbara. Tanpa banyak bicara, Varrok ngulurkan tangan. Kaelen ragu sejenak, tetapi genggaman kuat pria itu mberinya rasa aman yang samar. reka berjalan nembus kegelapan hutan, ninggalkan sisa-sisa desa yang telah njadi kuburan bagi masa lalu.
Perjalanan itu sunyi. Setiap ranting yang patah, setiap daun yang terinjak, seakan ngingatkan Kaelen pada jeritan terakhir ibunya. Setiap desiran angin seolah mbisikkan nama ayahnya yang gugur.
Hari-hari berikutnya dipenuhi keheningan yang berat. Varrok rawat luka-luka Kaelen dengan ramuan hutan. Bocah itu nahan perih, tak pernah ngeluh. Namun, luka di hatinya jauh lebih dalam.
Varrok mulai nanamkan pelajaran baru dalam hidup Kaelen. Bukan hanya cara bertahan hidup di alam liar, tetapi juga bagaimana nghadapi rasa sakit dan kehilangan. Setiap malam, di tepi api unggun, pria tua itu bercerita tentang Perang Agung, tentang pengkhianatan Cahaya, dan tentang Kegelapan yang sesungguhnya bukan hanya kejahatan, lainkan bagian dari keseimbangan yang dihancurkan.
"Dendam bisa njadi kekuatan, tapi juga bisa nghancurkan dirimu," ucap Varrok pada suatu malam di tepi sungai. Api unggun kecil nerangi wajah tua itu, sentara Kaelen duduk di seberangnya dengan mata penuh amarah.
"Aku ingin mbunuh reka semua... Orang-orang Cahaya itu... Aku ingin mbuat reka rasakan apa yang aku rasakan!" suara Kaelen bergetar nahan tangis, namun juga sarat dengan keteguhan.
Varrok ngangguk perlahan. "Keinginanmu itu akan mbawamu jauh. Tapi ingat, jalan ini penuh darah. Sekali kau langkah, tak ada jalan kembali."
Kaelen natap api unggun, pantulan kobaran itu tampak seperti cerminan bara dendam di dalam hatinya. Ia nggenggam tanah dengan erat. "Aku tidak peduli. Aku akan njadi lebih kuat. Aku akan mbalas reka."
Varrok natap bocah itu lama, lalu berkata pelan, "Kalau begitu, aku akan ngajarimu cara bertarung. Bukan untuk mbunuh—tetapi untuk bertahan hidup di dunia yang telah lupa caranya berbelas kasih."
Dengan keputusan itu, perjalanan Kaelen dimulai—perjalanan yang akan mbawanya dari seorang bocah yang rapuh njadi seorang pejuang yang ditakuti. Namun, tanpa ia sadari, harga yang harus ia bayar tidak hanya darah musuhnya, tetapi juga kepingan jiwanya sendiri.
Reviews
All reviews (0)