Fajar rayap perlahan di balik kabut tebal yang nyelimuti pos. Udara pagi terasa nusuk kulit, mbawa ketegangan yang nggantung di antara para prajurit. Suara burung-burung hutan tak terdengar, seakan alam pun nahan napas, nanti sesuatu yang buruk terjadi.
Kaelen berdiri di depan pintu gerbang kayu, ngenakan mantel kulit tebal untuk lawan dingin. Di sampingnya, Rhal riksa belati di pinggang, sentara Joren nggenggam busurnya dengan tangan yang sedikit getar. Wajahnya masih nunjukkan sisa ketakutan dari kejadian semalam.
Varrok nghampiri reka dengan ekspresi tegas.
"Pastikan kalian kembali sebelum matahari tenggelam. Jika kalian tidak kembali, kami akan nganggap yang terburuk," katanya sambil natap Kaelen.
Kaelen ngangguk. "Kami akan hati-hati. Jaga pos ini. Aku percayakan semua padamu."
Serina dan Lyra berdiri tak jauh, mperhatikan. Serina tampak ingin ngatakan sesuatu, namun ragu. Akhirnya, ia langkah maju.
"Kaelen... hati-hati," ucapnya lirih.
Kaelen tersenyum tipis, ncoba nenangkan. "Aku akan kembali. Aku janji."
Dengan isyarat pelan, Kaelen, Rhal, dan Joren mulai langkah masuk ke dalam hutan yang dibalut kabut tebal. Suasana langsung berubah begitu reka ninggalkan pos. Keheningan hutan begitu nekan, hanya suara langkah kaki reka yang terdengar. Kabut semakin tebal, mbatasi pandangan reka hingga hanya beberapa ter ke depan. Bau tanah basah bercampur aroma anyir samar ngiringi perjalanan reka.
"Rhal, tetap di sisi kiri. Joren, jaga bagian belakang. Jangan ada celah," bisik Kaelen.
Rhal ngangguk tegas, sentara Joren tampak sedikit gugup, namun ia tetap ngikuti.
Perjalanan terasa panjang ski baru berjalan setengah jam. Joren beberapa kali noleh ke belakang, seakan takut sesuatu ngikuti reka. Di antara batang-batang pohon, Kaelen rasa seperti diawasi, skipun ia tahu itu mungkin hanya pikirannya yang dipermainkan ketakutan.
"Berhenti. Kita istirahat sebentar di sini," kata Kaelen sambil nunjuk batang pohon tumbang.
reka duduk, ngatur napas. Rhal ngamati sekeliling, sentara Joren ngusap dahinya yang berkeringat ski udara dingin.
"Kaelen... apa nurutmu kita bisa nghadapi ini? Maksudku... kalau yang kita lawan bukan manusia lagi?" tanya Joren dengan suara bergetar.
Kaelen natapnya. "Aku tidak tahu, Joren. Tapi kita harus. Karena kalau kita nyerah sekarang, reka akan nghancurkan semua yang tersisa."
Rhal nimpali, suaranya tegas. "Ketakutan hanya akan mbuat kita lebih mudah dibunuh. Tetap kuat. Kita punya Kaelen di sini. Itu cukup."
Joren ngangguk pelan, ski wajahnya masih penuh kekhawatiran.
Setelah beberapa saat, reka lanjutkan perjalanan. Akhirnya, reka tiba di tempat yang dimaksud Joren. Bau busuk langsung nyergap hidung reka. Di tengah semak belukar, tergeletak mayat seorang prajurit Ordo Cahaya. Tubuhnya mbusuk dengan cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Di dada mayat itu, terlihat simbol cahaya yang retak, seolah terukir dengan paksa nggunakan benda tajam.
Kaelen berjongkok, neliti simbol itu dengan saksama. Tiba-tiba, rasa dingin njalari tubuhnya, dan suara bisikan samar terdengar di telinganya.
"Kaelen... Kaelen... pengkhianat..."
Kaelen tersentak, mundur selangkah. Rhal mperhatikan.
"Ada apa?" tanya Rhal tajam.
Kaelen nggeleng, ncoba nenangkan dirinya. "Tidak... hanya perasaanku saja."
Namun, Joren pucat. "Aku ndengarnya juga. Bisikan. Sama seperti semalam."
Rhal ncabut pedangnya. "Kita tidak sendiri."
Semak-semak di sekitar reka bergerak pelan. Bayangan hitam lintas cepat. Kaelen berdiri tegap, pedangnya terhunus.
"Siap-siap!" perintahnya.
Tiba-tiba, sosok dengan mata hitam lompat dari balik pepohonan. Tubuhnya kaku, bergerak seperti boneka yang dikendalikan. Rhal nebasnya, namun makhluk itu tetap bergerak ski terluka.
"Sasar kepala reka!" teriak Kaelen.
Joren lepaskan panah, nancap tepat di kepala makhluk itu. Ia roboh tanpa suara.
Namun, suara langkah lain terdengar. reka dikepung.
"Rhal, Joren, rapatkan formasi! Jangan biarkan reka misahkan kita!" seru Kaelen.
Pertempuran singkat tapi brutal pun terjadi. Kaelen bergerak cekatan, pedangnya nebas kepala satu demi satu makhluk bermata hitam. Rhal bertarung dengan ganas, sentara Joren getar, namun berhasil mbunuh satu musuh dengan panah jarak dekat.
Setelah beberapa nit, hutan kembali hening. Tubuh-tubuh makhluk itu berserakan, ngeluarkan bau busuk yang nyengat.
Kaelen terengah-engah, darah nodai pedangnya. "Kita harus pergi. reka pasti punya lebih banyak."
Rhal ngangguk. Joren tampak ingin muntah, namun ia berusaha bertahan.
Saat reka mundur perlahan, Kaelen noleh sekali lagi ke mayat dengan simbol cahaya retak. Bisikan itu kembali muncul, namun kini lebih jelas.
"Kaelen... pengkhianatan... sudah di dekatmu..."
Kaelen nggertakkan giginya. Sekilas, wajah Garel lintas di benaknya. Ia tak bisa mbedakan apakah itu hanya suara dalam kepalanya, atau mang sesuatu yang nyata.
reka kembali ke pos dengan napas mburu. Begitu lihat reka, Serina berlari ndekat.
"Kaelen! Kau baik-baik saja?"
Kaelen ngangguk, ski pikirannya jauh.
Varrok nghampiri, lihat darah di pedang reka. "Apa yang terjadi?"
Kaelen natap semua orang. "Kita dikepung... dan musuh kita... jauh lebih kuat dari yang kita duga. reka sudah dekat. Kita harus bersiap untuk perang."
Di sudut pos, Garel mperhatikan Kaelen dengan tatapan tajam. Senyumnya tipis. Ia ncatat sesuatu di atas sepotong perkan. Bisikan kegelapan telah nyusup, dan retakan itu semakin lebar.
Reviews
All reviews (0)