Font Size
15px

Malam rambat lambat, dinginnya nusuk hingga ke tulang. Api unggun yang nyala di tengah pos njadi satu-satunya sumber kehangatan, namun cahaya itu terasa rapuh di tengah kegelapan yang terus ngintai dari hutan. Kabut tipis masih nyelimuti sekitar pos, nciptakan kesan seakan bayangan di balik pepohonan bergerak setiap kali reka berkedip.

Kaelen berdiri di tepi pos, pandangannya nyapu sekeliling. Rhal berjaga di nara, sentara Varrok dan beberapa prajurit duduk lingkar, mperbaiki senjata reka. Balrik tampak berusaha nahan nyeri sambil mbersihkan bilah kapaknya.

"Aku muak dengan ketakutan ini," gumam Balrik pelan, suaranya bergetar.

Varrok ngangkat alis. "Kita semua muak. Tapi rasa takut itulah yang mbuat kita tetap hidup. Jangan abaikan itu. Ketakutan adalah pengingat bahwa kita masih bernapas."

Kaelen nghampiri reka. Ia ncoba njaga nada suaranya tetap tenang, ski pikirannya dipenuhi kekhawatiran. "Varrok benar. Kita tidak bisa nganggap ini perang biasa. Musuh yang kita hadapi... reka bukan manusia lagi. Kita harus tetap waspada. Bahkan sesama kita pun... bisa jadi musuh tanpa kita sadari."

Balrik nghela napas berat. "Aku hanya ingin pulang. Jika kita punya tempat yang bisa disebut rumah lagi."

Hening sejenak nyelimuti reka. Hanya suara api yang berderak pelan dan desir angin dingin yang lewati celah-celah pagar kayu lapuk.

Serina dan Lyra duduk sedikit njauh, ngamati suasana. Serina mberanikan diri bicara lebih dulu.

"Apa nurutmu Kaelen... baik-baik saja?" bisiknya.

Lyra natap Kaelen yang berdiri tegap di antara para prajurit. Wajahnya tampak keras, dingin, seperti beban dunia ada di pundaknya.

"Dia berubah... sejak pertempuran itu. Aku tahu dia kuat, tapi aku takut... sesuatu mulai nggerogoti jiwanya," jawab Lyra lirih, matanya berkaca-kaca.

Serina nunduk, jari-jarinya getar halus. "Aku takut kehilangan dia. Bukan hanya nyawanya... tapi dirinya. Aku takut dia njadi... seperti reka yang bermata hitam itu."

Percakapan reka terhenti ketika suara Rhal dari atas nara pengawas terdengar.

"Gerakan di timur! Aku lihat bayangan!"

Semua langsung bersiaga. Kaelen ncabut pedangnya, Varrok mberi isyarat kepada prajurit untuk ngambil posisi. Panah ditarik, ujung pedang berkilat di bawah cahaya bulan samar. Napas reka tertahan, keringat dingin mulai ngalir skipun udara begitu nusuk.

Dari balik pepohonan, terdengar langkah kaki tergesa-gesa. Sosok yang muncul mbuat reka nahan napas. Itu Joren, napasnya mburu, tubuhnya kotor dan lecet.

"Kaelen! Aku nemukan sesuatu! Aku nemukan mayat prajurit Ordo... tapi tubuhnya mbusuk seperti sudah berminggu-minggu, padahal dia baru mati beberapa jam lalu. Ada simbol aneh di dadanya—cahaya yang retak. Aku pikir ini... semacam ritual. Ini bukan hanya pertempuran biasa. Ini sihir kegelapan."

Kaelen ngernyit, hatinya makin berat. Simbol cahaya retak... seolah lambangkan kehancuran yang perlahan nggerogoti dunia reka.

"Di mana mayat itu sekarang?" tanya Kaelen, suaranya dingin namun tertekan.

"Aku tinggalkan di sana... aku takut disentuh lebih lama. Udara di sekitarnya... berat, seperti nghimpit dada. Aku rasa dia... lihatku ski sudah mati. Aku bersumpah aku ndengar bisikan samar di telingaku," kata Joren dengan suara serak.

Varrok ngepalkan tangan. "Berarti ini lebih buruk dari dugaan kita. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Jika reka bisa nghidupkan yang mati, siapa pun bisa jadi ancaman. Bahkan kita."

Kaelen natap reka semua. "Besok pagi, aku akan pergi bersama Rhal dan Joren untuk riksa mayat itu. Kita harus tahu apa yang kita hadapi. Yang lain, tetap di pos dan perkuat pertahanan. Jangan ada yang keluar sendirian."

Serina terlihat cemas. "Kaelen, apa ini... sepadan risikonya? Bagaimana kalau itu jebakan? Atau... mayat itu bisa hidup lagi?"

Kaelen natapnya dengan lembut, ski matanya nyimpan ketegasan. "Kita tak punya pilihan, Serina. Kita butuh jawaban. Dan aku tidak akan mbiarkan ketakutan mbuat kita diam di sini sampai kita habis satu per satu."

Serina nunduk, tak bisa mbantah. Lyra nggenggam tangannya, mberi dukungan.

Malam itu, penjagaan semakin diperketat. Namun, di antara para prajurit, bayang-bayang kecurigaan perlahan tumbuh. Setiap gerakan kecil diperhatikan, setiap tatapan terasa ngandung pertanyaan. Balrik terlihat gelisah, sentara Varrok diam-diam ngamati gerak-gerik semua orang, termasuk Garel.

Kaelen berbaring di tendanya, namun matanya tetap terbuka. Ia mikirkan simbol cahaya retak itu. Apakah ini pertanda kejatuhan Ordo? Atau lebih dari itu—pertanda bahwa cahaya yang selama ini reka yakini telah ternoda? Atau mungkin... cahaya itu sendiri telah berubah njadi ancaman?

Di sudut pos, Garel mperhatikan semuanya dalam diam. Senyumnya samar, hampir tak terlihat. Ia tahu, kepercayaan yang mulai retak itu lebih berbahaya daripada serangan musuh mana pun. Dan ia hanya tinggal nunggu... hingga waktunya tiba. Ia ncatat dalam pikirannya—Balrik lemah, Joren takut, Kaelen bimbang. Malam ini, benih keraguan telah tumbuh subur.

You are reading The Shattered Light Chapter 49: – Kabut di Antara Kepercayaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.