Senja rayap perlahan, warnai langit dengan semburat rah darah yang perlahan ditelan gelap. Kabut tipis masih bergelayut di sekitar pos, nebarkan aura dingin dan suram. Udara lembap nusuk tulang, bercampur dengan aroma tanah basah dan sisa anyir darah yang tak sepenuhnya hilang. Para prajurit tampak sibuk mperkuat pagar kayu dan riksa senjata reka. Wajah-wajah lelah namun penuh kewaspadaan tampak jelas di bawah sinar api unggun yang mulai dinyalakan. Kecemasan mbebani udara, mbuat setiap helaan napas terasa berat.
Kaelen berdiri di tengah lapangan pos, natap api yang berkobar. Di sampingnya, Varrok tengah mbalut luka Balrik dengan kain bersih.
"Rasanya luka ini mbakar, tapi aku masih bisa berkelahi," ucap Balrik ncoba bercanda, ski wajahnya nahan sakit.
Varrok terkekeh pelan. "Itu semangat yang aku suka. Tapi jangan paksakan dirimu. Kau akan lebih berguna hidup."
Kaelen tersenyum kecil ndengar itu, tapi pikirannya layang jauh. Hutan itu... bayangan-bayangan bermata hitam... Apa yang sebenarnya reka hadapi? Bayangan pertempuran kemarin masih mbekas di benaknya. Kepalanya dipenuhi ketakutan, bukan hanya tentang musuh yang tampak, tapi juga ancaman yang mungkin telah nyusup di antara reka.
Serina dan Lyra ndekat mbawa sup hangat.
"Makanlah. Kalian butuh tenaga," kata Serina lembut.
Lyra nyerahkan mangkuk kepada Kaelen. Pandangan reka sempat bertemu, namun Lyra segera ngalihkan tatapannya. Ada ketegangan yang sulit dijelaskan di antara reka sejak beberapa hari terakhir.
"Terima kasih," ucap Kaelen pelan.
Saat reka duduk bersama di sekitar api, suasana sejenak terasa lebih hangat, ski kegelisahan tetap bersembunyi di dalam dada masing-masing.
Rhal datang dengan laporan.
"Penjagaan sudah diperketat di empat sudut. Tim patroli akan bergantian tiap dua jam. Tak ada yang bergerak sendirian. Kita siap kalau reka datang malam ini."
Kaelen ngangguk. "Bagus. Tetap waspada. reka bukan musuh biasa. Kita tidak boleh nganggap reh."
Varrok nambahkan, "Aku akan tetap berjaga sampai tengah malam. Setelah itu, kau bisa gantikan aku."
Kaelen hendak njawab, namun tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari arah hutan. Semua terdiam.
Telinga Kaelen najam. Tangannya perlahan raih gagang pedang di pinggangnya. Lyra nelan ludah, Serina rapatkan jemarinya pada busur.
"Siapa di sana?!" teriak Varrok.
Tak ada jawaban. Hanya keheningan. Namun, langkah pelan terdengar ndekat. Napas beberapa prajurit mulai mburu.
"Angkat senjata!" perintah Kaelen dengan suara rendah namun tegas.
Para prajurit langsung bersiaga. Panah ditarik, pedang terhunus. Mata reka ngawasi bayangan di antara pepohonan.
Dari kegelapan, muncul sosok lelaki tua dengan pakaian compang-camping. Wajahnya lusuh, tubuhnya getar.
"Tolong... tolong aku..." suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
Kaelen mberi isyarat agar semua tetap waspada.
"Siapa kau? Dari mana asalmu?" tanyanya.
Lelaki tua itu tersungkur, napasnya tersengal. "Desaku... hancur... reka... reka datang dari bayangan... mata hitam... mbunuh semua... aku satu-satunya yang selamat... tolong..."
Serina langkah maju, ingin nolong, namun Kaelen nahan tangannya.
"Tunggu. Sesuatu tidak beres," bisik Kaelen.
Varrok maju ndekati lelaki itu. Matanya tajam, ngamati setiap gerak-gerik si pria tua.
"Apa kau diikuti?" tanya Varrok.
Lelaki itu nggeleng lemah. "Tidak... aku lari... aku pikir aku aman..."
Namun, tiba-tiba mata lelaki itu berubah. Hitam pekat. Senyum aneh terbentuk di bibirnya. Dengan gerakan yang tidak wajar, ia lompat ke arah Varrok.
"AWAS!" teriak Kaelen.
Varrok nghindar, pedangnya terhunus seketika. Lelaki itu ngeluarkan suara seperti geraman binatang. Tubuhnya bergerak kaku, namun cepat.
Prajurit-prajurit lain langsung ngelilingi reka.
"Jangan biarkan dia ndekat!" teriak Rhal.
Panah dilepaskan. Satu nancap di bahu pria itu, namun ia tak berhenti. Pedang Varrok nebas lengan pria itu, namun ia tetap bergerak, seolah tak rasa sakit.
Kaelen lompat ke depan, nebas tepat di leher. Kepala lelaki itu terpisah dari tubuhnya, namun sebelum jatuh, bibirnya nyeringai.
"Kalian... semua... akan njadi milik... cahaya palsu..." bisiknya sebelum tubuhnya ambruk.
Keheningan landa pos. Hanya suara napas reka yang tersisa.
Serina nutup mulutnya, ngeri. Lyra nggenggam busurnya erat, tangannya getar. Di kejauhan, burung hantu lengking, seperti pertanda buruk.
Varrok natap Kaelen. "Ini lebih buruk dari yang kita kira. reka sudah nyusup sampai sini."
Kaelen ngangguk perlahan. "Kita harus bertahan... sampai akhir. Apa pun yang terjadi."
Serina dan Lyra saling pandang sejenak. Dalam mata reka, terbersit rasa takut—bukan hanya terhadap musuh, tetapi juga terhadap apa yang perlahan mulai berubah dalam diri Kaelen.
Malam itu, penjagaan diperketat lebih dari sebelumnya. Namun, di dalam hati masing-masing, ketakutan telah tumbuh—bukan hanya pada musuh di luar, tapi juga pada kemungkinan bahwa kegelapan itu perlahan mulai rasuki jiwa reka sendiri.
Reviews
All reviews (0)