Fajar nyingsing perlahan, nggantikan dinginnya malam dengan cahaya suram yang nembus celah pepohonan. Kabut belum sepenuhnya pergi, masih nyelimuti dasar hutan, nciptakan kesan seolah reka berdiri di antara dua dunia—yang nyata dan yang penuh bayangan. Udara pagi itu lembap, disertai aroma tanah basah dan dedaunan yang nguar samar. Kelembaban nusuk sampai ke tulang, nambah rasa letih yang terus numpuk di tubuh para penghuni pos.
Kaelen duduk bersandar di pagar kayu, matanya lelah natap hutan yang diam, namun terasa hidup. Setiap desir angin mbawa kekhawatiran, setiap bayangan di balik kabut terasa seperti mata yang ngintai. Tidur tak lagi njadi kewahan sejak reka tiba di pos ini.
Suara langkah pelan terdengar. Serina nghampiri dengan mbawa secangkir air hangat.
"Kau butuh ini," ucapnya lembut, ncoba mberi sedikit kehangatan di tengah suasana yang dingin.
Kaelen nerima cangkir itu. "Terima kasih, Serina. Kau tidur nyenyak?"
Serina nggeleng. "Tidak. Aku... khawatir dengan tim pengintai. reka belum kembali."
Kaelen ngangguk. Hatinya pun dipenuhi kegelisahan yang sama. Ketidakhadiran Varrok dan yang lain semakin nebalkan rasa cemas.
Tak lama, langkah-langkah tergesa terdengar. Rhal muncul dengan wajah tegang.
"Kaelen, Varrok dan timnya kembali! Tapi... Balrik terluka."
Kaelen langsung bangkit. "Di mana reka?"
"Di gerbang. Cepatlah."
Kaelen dan Serina bergegas nuju gerbang kayu. Varrok berdiri di sana dengan napas tersengal. Balrik terduduk, darah segar ngalir dari luka robek di bahunya. Joren mbantu nekan kain di atas lukanya, sentara wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Apa yang terjadi?" tanya Kaelen, suaranya penuh kekhawatiran.
Varrok ngusap wajahnya. "Kami nemukan jejak kaki itu... Manusia, tapi reka bergerak aneh. Seperti dikendalikan sesuatu. Saat kami ngintai, reka nyerang tiba-tiba. reka... bukan prajurit biasa, Kaelen. Mata reka hitam. Tak ada rasa takut. Tak ada nyawa di mata reka."
Joren nambahkan, suaranya bergetar. "Aku nusuk salah satu di dada... dia tetap bergerak, seperti tak rasakan sakit. Kami nyaris terkepung. Balrik lindungi kami, dia terkena serangan. Kalau bukan karena dia, mungkin kami tak akan kembali utuh."
Kaelen berjongkok di samping Balrik. "Bagaimana perasaanmu?"
Balrik nyeringai lemah, skipun wajahnya pucat. "Aku masih bisa nggal kepala musuh, Kaelen. Jangan khawatir. Aku belum ingin mati."
Kaelen tersenyum kecil, tapi hatinya diliputi kecemasan. Ini lebih buruk dari yang ia perkirakan. Musuh yang tak bisa mati dengan cara biasa—itu berarti kekuatan yang lebih kelam sedang bermain di balik semua ini.
Lyra datang tergesa-gesa setelah ndengar kabar itu. "Balrik... apa kau baik-baik saja?"
Balrik ngangguk, skipun jelas nahan rasa sakit. "Aku tidak akan mati semudah itu, Lyra."
Varrok natap Kaelen serius. "Ini bukan serangan biasa. Ada sesuatu yang gelap di hutan ini. reka seperti boneka. Aku belum pernah lihat yang seperti ini. Aku rasa ini bukan sekadar pasukan Ordo. Ada sesuatu yang lebih besar."
Kaelen terdiam sejenak, lalu berbicara dengan nada tegas. "Mulai sekarang, tak ada yang keluar sendirian. Kita harus mperkuat penjagaan di sekeliling pos. reka tahu posisi kita. Kita harus siap nghadapi yang lebih buruk."
Rhal ngangguk. "Aku akan ngatur penjaga di empat sudut. Aku juga minta beberapa orang riksa persediaan senjata. Jika reka datang malam ini, kita tidak boleh lengah."
Kaelen mandang teman-temannya satu per satu. Wajah-wajah yang lelah, namun tetap berdiri teguh.
"Kita semua sudah lewati banyak hal. Aku tahu kalian lelah. Tapi musuh kita... bukan lagi manusia biasa. Ini lebih dari itu. Aku tak tahu apa yang Eryon lakukan, tapi kita harus bertahan. Bersama. Jika kita runtuh sekarang, reka nang."
Varrok nepuk bahu Kaelen. "Kami bersamamu. Selalu."
Serina nggenggam tangan Kaelen, mberi dukungan tanpa kata-kata. Lyra berdiri di dekatnya, matanya mperhatikan interaksi itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan—antara kekhawatiran dan kecemburuan yang ia coba sembunyikan.
Saat reka mulai bersiap, Garel ngamati dari kejauhan. Wajahnya tenang, tetapi matanya nyimpan sesuatu yang berbeda. Ia tahu malam nanti akan njadi malam yang panjang. Dan perintah yang ia tunggu, bisa datang kapan saja.
Sentara itu, jauh di dalam hutan, sosok-sosok bermata hitam bergerak dalam diam. Suara bisikan samar terdengar di antara pepohonan, mbawa kabar tentang darah dan kehancuran yang akan segera tiba. Kabut seolah njadi pelindung reka, dan kegelapan njadi sekutu yang setia. Malam ini, mungkin bukan hanya tubuh yang akan jatuh—tetapi juga jiwa yang mulai goyah.
Reviews
All reviews (0)