Matahari rangkak naik perlahan, namun kabut tipis tetap enggan ninggalkan hutan yang ngelilingi pos. Udara lembap mbuat pakaian terasa lekat di tubuh, sentara bau dedaunan basah bercampur samar dengan aroma anyir darah yang tertinggal dari pertempuran sebelumnya. Ranting-ranting patah berserakan di sekitar pos, ngingatkan reka bahwa tempat ini pernah njadi saksi pertumpahan darah.
Kaelen berdiri di dekat pagar kayu yang mulai lapuk, pandangannya tajam ngamati lebatnya pepohonan di sekeliling. Seolah ada sesuatu yang bersembunyi di balik semak-semak, nanti saat yang tepat untuk nerkam.
"Jangan berdiri di sana terus. Kau mbuatku ikut tegang," suara Varrok datang dari belakang. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya tetap waspada.
Kaelen tersenyum tipis. "Aku hanya rasa... ada yang tidak beres. Hutan ini terlalu sunyi."
Varrok nepuk bahunya. "Kita semua rasakannya. Tapi jangan biarkan itu nguasai pikiranmu. reka butuh pemimpin yang tenang."
Kaelen ngangguk, ski rasa was-was tak juga surut.
Tak jauh dari sana, Serina sedang mbersihkan busurnya dengan gerakan perlahan. Di sebelahnya, Lyra sedang najamkan ujung anak panah dengan wajah murung. Ada ketegangan di antara reka yang sulit diabaikan.
"Apa kau tidur nyenyak tadi malam?" tanya Serina pelan, ncoba ncairkan suasana.
Lyra nggeleng. "Tidak. Aku rasa ada yang ngintai dari kegelapan. Kau?"
Serina natap api unggun yang mulai padam. "Aku juga. Aku bermimpi buruk tentang Kaelen. Aku takut dia... akan nghilang seperti yang lain."
Sebelum pembicaraan semakin jauh, Kaelen ndekat.
"Ada masalah?" tanyanya sambil duduk di antara reka.
Serina tersentak kecil, buru-buru letakkan busurnya. "Tidak. Kami hanya... mbicarakan mimpi buruk."
Kaelen tersenyum kecil, namun ia bisa rasakan kegelisahan reka.
Saat itu, Rhal datang dengan napas sedikit terburu. "Aku baru dari tim penjaga di timur. reka nemukan jejak kaki asing di dekat jebakan kita. Tapi jejak itu hilang di tengah kabut."
Kaelen ngerutkan kening. "Manusia? Atau... sesuatu yang lain?"
Rhal ngangkat bahu. "Sulit dipastikan. Tapi reka yakin ada yang ngawasi."
Varrok yang sejak tadi ndengar langsung ndekat. "Aku akan mbentuk tim pengintai. Aku butuh dua orang untuk ikut."
"Aku ikut," kata Balrik dengan suara mantap, tangannya sudah nggenggam gagang kapaknya.
"Aku juga," sahut Joren.
Kaelen natap reka serius. "Jangan sampai terpisah. Jika ada yang ncurigakan, kembali. Jangan bertindak gegabah."
Varrok tersenyum singkat. "Aku tahu, Kaelen. Aku ngajarimu itu dulu, ingat?"
Senyum kecil terukir di wajah Kaelen, skipun kekhawatiran tetap nghantui pikirannya.
Setelah tim pengintai bergerak masuk ke dalam hutan, Kaelen duduk kembali bersama Serina dan Lyra. Ia lirik ke arah Serina yang tampak ingin ngatakan sesuatu.
"nurutmu ini jebakan?" tanya Lyra dengan suara lirih.
Kaelen nghela napas. "Mungkin. Tapi kita tak bisa nutup mata. Kita harus tahu apa yang terjadi di luar sana."
Serina natap Kaelen, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kalau keadaan mburuk... kita tetap bersama, kan?"
Kaelen tersenyum, ski hatinya terasa berat. "Ya. Apa pun yang terjadi, kita bersama."
Namun, jauh di dalam kegelapan hutan, Garel bersembunyi di balik semak-semak. Matanya ngamati setiap pergerakan di pos dengan cermat. Ia nanti sesuatu—perintah, atau mungkin waktu yang tepat untuk bertindak.
Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, bayangan hitam lintas cepat di antara pepohonan. Jejaknya nyaris tak terlihat, hanya dedaunan yang sedikit bergetar njadi tanda keberadaannya.
njelang senja, Kaelen berdiri di atas nara pengawas. Angin dingin nerpa wajahnya. Hutan di hadapannya perlahan ditelan kegelapan. Dia tahu, bahaya semakin dekat.
Dan kali ini, ia rasa musuhnya bukan hanya datang dari luar, lainkan juga bisa saja ada di tengah-tengah reka sendiri.
Reviews
All reviews (0)