Fajar nyingsing perlahan, nyibak kabut tebal yang nyelimuti pos sepanjang malam. Embun mbasahi dedaunan dan rerumputan di sekitar pagar kayu yang mulai lapuk. Pos itu berdiri di tengah hutan lebat, batang-batang pohon njulang tinggi ngurung reka, nciptakan bayangan gelap ski cahaya pagi mulai nyelinap. Udara terasa dingin dan lembap, mbawa aroma tanah basah dan sisa asap dari api unggun yang mulai padam.
Di atas nara pengawas, Torr dan Falen tampak lesu, kantung mata reka nghitam setelah semalaman diliputi kecemasan. reka berbincang pelan, saling nguatkan.
"Aku yakin aku lihat sesuatu tadi malam... di balik pohon-pohon itu," gumam Torr, matanya nerawang ke arah barat.
Falen ngangguk kecil. "Aku juga rasa diikuti. Tapi saat aku periksa, hanya kabut. Mungkin pikiran kita mulai dipermainkan."
Kaelen keluar dari tendanya, narik napas panjang. Udara pagi yang segar justru terasa ganjil, seakan nyimpan sesuatu yang ngintai. Ia langkah nuju ja pertemuan di tengah pos, di mana Varrok, Rhal, Balrik, Serina, dan Lyra sudah berkumpul.
Beberapa prajurit di sekitar pos sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang najamkan pedang, mperbaiki pagar kayu yang mulai goyah, dan riksa jebakan di tepi perkemahan. Obrolan reka pelan, ncerminkan kecemasan yang tak terucap.
"Bagaimana penjagaan semalam?" tanya Kaelen, ncoba nutupi rasa kantuk dan kegelisahannya.
Rhal nghela napas. "Torr dan Falen lihat bayangan di barat pos. Kami sudah nyisir, tapi hasilnya nihil."
Varrok nyahut, sambil nyilangkan tangannya di dada. "reka sedang ncoba mbuat kita ketakutan. Itu cara Eryon. Dia ingin kita panik dulu sebelum reka benar-benar nyerang."
Kaelen ngetuk ja perlahan dengan jarinya. "Kita tidak boleh terjebak. Tapi... aku rasa ini lebih dari sekadar taktik. Aku mulai curiga ada yang mbocorkan gerakan kita."
Ucapan itu mbuat semua terdiam. Pandangan reka saling bertaut, nciptakan hawa ketegangan.
Lyra berbicara pelan, suaranya ragu. "Maksudmu... ada pengkhianat?"
Kaelen natap reka satu per satu. "Setiap kali kita mbuat rencana, reka tahu. Terlalu sering. Ini bukan lagi kebetulan."
Balrik ngepalkan tangan. "Siapa? Kau curiga siapa?"
Kaelen nggeleng. "Aku tidak nuduh siapa pun. Aku hanya minta kita lebih berhati-hati. Kita tak bisa lengah, bahkan terhadap orang yang kita percaya."
Serina terlihat gelisah. "Tapi Kaelen, kepercayaanlah yang mbuat kita bisa bertahan sejauh ini. Jika kita mulai ncurigai satu sama lain... bukankah itu yang diinginkan Eryon?"
Kaelen natap Serina, suaranya lemah. "Aku tahu... Tapi aku tak bisa nutup mata. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi."
Varrok ngangkat tangan, ncoba nenangkan suasana. "Kita akan tetap waspada. Tapi jangan biarkan kecurigaan mbunuh kepercayaan kita. Jika ada pengkhianat, dia pasti akan nunjukkan dirinya. Dan saat itu terjadi, aku yang akan nghadapinya."
Rhal nambahkan. "Mulai sekarang, patroli dilakukan berpasangan. Semua laporan langsung padaku. Tidak ada yang bergerak sendiri. Kita jaga satu sama lain."
Kaelen ngangguk pelan. ski sepakat, ia tahu benih kecurigaan telah ditanam.
Setelah pertemuan, Kaelen duduk di dekat pagar kayu yang lapuk. Pandangannya nerawang ke dalam hutan. Daun-daun bergoyang diterpa angin, namun baginya, setiap gerakan adalah ancaman.
Serina ndekat dan duduk di sampingnya. "Kaelen... benarkah kau yakin ada pengkhianat di antara kita?"
Kaelen nunduk, suaranya lirih. "Aku tidak tahu... Tapi aku tak bisa abaikan ini. Aku takut... takut kehilangan kalian."
Serina nggenggam tangan Kaelen, ncoba mberikan ketenangan. "Aku percaya padamu. Apa pun yang terjadi, aku tetap bersamamu."
Kaelen tersenyum kecil, tapi kegelisahan di dadanya tak surut.
Tak jauh dari sana, Lyra berdiri di dekat tumpukan persediaan. Matanya natap Kaelen dan Serina. Rasa cemburu perlahan rayap dalam hatinya, bercampur dengan rasa takut akan perpecahan.
Di sudut pos, Garel, seorang prajurit muda yang selama ini jarang diperhatikan, ncuri dengar pembicaraan reka. Setelah itu, ia bergegas pergi nuju hutan dengan langkah tergesa. Bayangannya lenyap di antara pepohonan.
Kaelen rasakan embusan angin dingin nyapu wajahnya. Ia rasakan firasat buruk. Kali ini, ancaman datang bukan hanya dari luar, tetapi mungkin juga dari dalam.
Suasana pos semakin sunyi. Hanya suara dedaunan yang bergesekan, seperti bisikan samar dari hutan yang tak pernah benar-benar diam.
Reviews
All reviews (0)