Font Size
15px

frёewebηovel.cѳm

Kaelen dan timnya tiba di pos saat senja mulai rayap, warnai langit dengan semburat jingga yang tampak suram di balik barikade kayu yang mulai lapuk. Pos itu berdiri di tengah hutan lebat dengan parit dangkal ngelilinginya, serta pagar kayu runcing yang mulai nunjukkan tanda-tanda rapuh setelah pertempuran sebelumnya. Udara sore bercampur aroma tanah basah dan sisa darah yang mulai mudar, nciptakan suasana yang pengap dan ncekam.

Para penjaga nyambut reka dengan tatapan penuh tanya, sentara Varrok dan Rhal segera nghampiri dengan raut wajah tegang. Di kejauhan, suara burung-burung malam mulai terdengar, seakan mberi isyarat bahwa kegelapan segera ngambil alih.

"Bagaimana?" tanya Varrok, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Kaelen ngatur napasnya yang masih tersengal. "Ada sesuatu di hutan. Bukan sekadar Ordo Cahaya. reka... berubah. Mata rah, darah hitam. Ada nyanyian... sihir yang mbuat kami nyaris gila."

Rhal ngerutkan kening, wajahnya nunjukkan rasa bingung bercampur khawatir. "Nyanyian? Seperti apa?"

Ilva nyela, suaranya masih bergetar. "Seperti suara wanita. Samar-samar, tapi nusuk langsung ke kepala kami. Ketika suara itu semakin kuat, reka nemukan kami. reka bukan manusia biasa lagi."

Balrik datang bergabung, ndengarkan dengan raut khawatir. "Kutukan? Atau makhluk lain?"

Daren nambahkan, matanya masih diliputi ketakutan, "Aku lihat darah reka. Hitam. Bukan darah manusia. Aku... aku tidak tahu apa itu."

Varrok mandang Kaelen lekat-lekat. "Eryon?"

Kaelen ngangguk pelan. "Aku rasa ini mang ulah Eryon. Tapi aku juga rasa... ada sesuatu yang lebih gelap di belakangnya. Kita harus lebih berhati-hati. reka jadi makin kuat."

Keheningan liputi reka. Serina dan Lyra ndekat, ndengarkan dengan cemas.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Serina, matanya nyapu Kaelen dan timnya.

Kaelen ngangguk, berusaha nenangkan. "Kami selamat. Tapi ini peringatan. reka semakin berbahaya."

Lyra nyilangkan tangan di dada, wajahnya cemas. "Kalau begitu, kita harus lebih bersiap. Kita belum tahu apa lagi yang reka rencanakan."

Rhal ngetuk ja kayu kasar di tengah-tengah perkemahan, narik perhatian semua orang. "Kita perkuat penjagaan malam ini. Tak boleh ada yang lengah. Pasang jebakan tambahan. Setiap sudut harus terjaga."

Semua ngangguk. Ketegangan semakin terasa di udara. Angin malam mulai berembus, mbawa kabut tipis yang nyusup di sela-sela pohon dan celah pagar kayu.

Kaelen narik napas panjang, lalu berbicara pelan namun tegas. "Aku tahu kita semua lelah. Aku tahu rasa takut mulai njalar. Tapi kita tidak bisa mundur. Kita sudah sejauh ini. Kita berdiri bersama, atau kita jatuh satu per satu. Aku butuh kalian. Kita saling mbutuhkan."

Suasana njadi hening sejenak. Varrok nepuk bahu Kaelen dengan hangat. "Kami ada di sisimu. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."

Serina natap Kaelen dengan hangat. "Kami tidak akan mbiarkanmu nghadapi ini sendirian."

Lyra tersenyum kecil. "Aku juga. Kau bukan hanya pemimpin kami, Kaelen. Kau keluarga."

Daren, Ilva, Joren, dan Veyla saling berpandangan, kemudian ngangguk setuju. Rasa persatuan mulai nguat, ski ancaman masih mbayang.

Malam njelang. Api unggun berkobar di tengah pos, nerangi wajah-wajah lelah namun teguh. Pos itu kini tampak lebih suram dengan bayangan kabut yang perlahan turun, seakan mbungkus setiap sudutnya. Di kejauhan, suara burung malam berganti dengan suara gerisik dedaunan yang tak jelas sumbernya.

Kaelen duduk di tepi perapian, natap nyala api yang nari, ngingatkan pada rumahnya yang terbakar dulu. Bayangan kobaran api itu mbawanya pada kenangan lain—saat ia masih kecil, duduk di pangkuan ibunya di malam badai. Ibunya nyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara lembut, ngusap rambutnya hingga ia tertidur. Namun kini, wajah ibunya mulai kabur, suaranya mudar, mbuat dadanya semakin sesak.

Serina duduk di sebelahnya. "Apa yang kau pikirkan?"

Kaelen tersenyum tipis. "Ibuku. Aku takut aku mulai lupakannya. Aku takut kekuatan ini ngambil semuanya dariku."

Serina nggenggam tangannya. "Kau masih punya kami. Kami akan selalu ngingatkanmu."

Kaelen natapnya, rasakan kehangatan yang nenangkan di tengah kegelapan.

Suara ranting patah terdengar samar di kejauhan, mbuat beberapa penjaga negakkan tubuh. Varrok nghunus pedangnya perlahan, sentara Rhal mberi isyarat kepada dua prajurit untuk riksa.

Di balik pepohonan, Eryon berdiri diam. Senyumnya tipis. Ia tahu benih ketakutan telah tumbuh. Dan malam ini baru permulaan.

Kabut perlahan turun nyelimuti pos lebih tebal. Dua penjaga, Torr dan Falen, berdiri berjaga di sisi barat pos. reka berbicara pelan untuk nenangkan diri.

"Kau percaya rumor itu? Tentang makhluk-makhluk bayangan yang dibangkitkan Ordo?" bisik Torr.

Falen nghela napas. "Aku tak tahu... Tapi setelah apa yang diceritakan Kaelen hari ini, aku tak lagi bisa mbedakan antara kisah lama dan kenyataan."

Torr natap ke dalam kabut. "Kadang aku rasa ada yang ngawasi dari sana. Tapi setiap kali kulihat, tak ada apa-apa."

reka terdiam, hanya suara desir angin yang nemani. Angin dingin berembus mbawa bisikan samar yang hanya didengar oleh reka yang telah bersentuhan dengan kegelapan. Salah satu penjaga, Torr, tiba-tiba negang. Di tengah kabut, ia lihat sosok tinggi berdiri diam, bayangannya samar di antara pepohonan. "Siapa di sana?!" serunya pelan.

Falen ndekat, namun begitu reka berjalan ke arah bayangan itu, sosok tersebut nghilang seolah larut dalam kabut.

"Aku... aku lihatnya, Falen. Aku yakin itu manusia... atau sesuatu," bisik Torr.

Falen nggigit bibir, berusaha nyembunyikan rasa takut. "Kita laporkan ke Rhal nanti. Tetap waspada."

Di sisi lain pos, Lyra berdiri sendirian, natap ke arah Kaelen yang duduk bersama Serina. Ia mperhatikan keakraban reka, rasa hangat yang tampak di antara keduanya. Ada kegelisahan di hatinya, perasaan cemburu yang perlahan muncul ski ia ncoba nepisnya.

Tak jauh dari situ, Kaelen berbicara singkat dengan Varrok sebelum beranjak ke tenda. Varrok letakkan tangan di pundaknya, suaranya berat namun penuh perhatian. "Kaelen, jangan biarkan kekuatan itu ngubahmu. Aku tahu dendammu besar. Tapi jangan biarkan itu ngambil jiwamu. Jika kau butuh seseorang untuk nahanmu, aku akan ada di sana. Kita semua di sini untukmu."

Kaelen ngangguk pelan, rasa beban di hatinya sedikit berkurang. "Terima kasih, Varrok. Aku akan ingat itu." Rasa was-was rayap di dada setiap orang, seakan bayangan kematian ngintai di balik tiap pohon.

You are reading The Shattered Light Chapter 44: – Bayang-bayang Luka on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.