Kaelen rayap perlahan di antara semak-semak yang basah oleh embun. Udara hutan terasa lembap, dingin nusuk kulit, dan aroma tanah bercampur dedaunan busuk nyelimuti indra penciuman. Pepohonan tinggi njulang seperti penjaga bisu, sentara ranting-ranting tua nggantung bagaikan tangan kurus yang siap raih siapa pun yang lintas. Cahaya matahari nembus celah dedaunan, nciptakan bayangan kelam yang nari di tanah berlumpur.
Di belakangnya, Daren dan Ilva ngikuti dengan langkah ringan. Veyla dan Joren berjaga di sisi lain, mata reka waspada ngamati setiap pergerakan di balik pepohonan. Udara terasa begitu sunyi, hanya sesekali diselingi suara burung yang terbang ketakutan, seakan mberi peringatan akan sesuatu yang ndekat.
Suara nyanyian lirih itu masih terdengar, seperti ngalun dari kejauhan, nelusup di antara angin yang liuk-liuk di antara pohon-pohon tua. Suara itu semakin jelas, semakin dekat, namun tetap tidak nyata. Sesuatu yang ngusik naluri Kaelen.
"Apa kau dengar itu?" bisik Joren, suaranya sedikit getar.
"Dengar," jawab Kaelen pelan, matanya tak lepas dari jalur di depan. "Tetap rapat. Jangan pisah."
Ilva berlutut, nunjuk bekas jejak baru di tanah berlumpur yang lembek. "Lebih segar. reka baru saja lewat sini."
Daren ngamati sekitar dengan cermat, tangannya nggenggam busur erat. "Tapi suara itu... bukan manusia biasa. Kau yakin ini pasukan Ordo?"
Kaelen nggeleng. "Aku tidak yakin. Tapi apa pun itu, kita harus tahu."
Veyla ndekat, matanya nyipit. "Ada sesuatu di depan. Aku lihat pergerakan di balik batang pohon besar."
Kaelen mberi isyarat berhenti. reka runduk di balik semak-semak tebal. Kelembapan tanah nyusup ke lutut reka, namun tak ada yang peduli. Di kejauhan, samar-samar tampak tiga sosok berjubah putih berjalan perlahan di antara pepohonan. Lambang Ordo Cahaya terpampang di dada reka. Namun, gerakan reka aneh—kaku, seakan ragu langkah.
"Pasukan Ordo," bisik Ilva.
"Tapi kenapa... reka seperti itu?" tanya Joren.
Kaelen mperhatikan lebih seksama. Wajah para prajurit itu pucat, mata reka kosong seperti boneka tanpa jiwa. Salah satu dari reka tampak berbisik sendiri, bibirnya bergerak cepat seolah ngucapkan mantra atau doa.
"Ada yang salah," gumam Daren.
Kaelen ngangkat tangan, mberi isyarat mundur. Namun, sebelum reka bergerak, suara nyanyian itu berubah—njadi lebih nyaring, lebih nusuk telinga. Telinga Kaelen berdenging, kepalanya berdenyut seakan ditusuk.
"Apa ini?!" seru Joren sambil nutup telinganya.
Tiba-tiba, salah satu prajurit Ordo noleh tajam ke arah reka, matanya rah darah. Ia ngeluarkan teriakan lengking yang tidak manusiawi. Suara itu bergema, ngguncang keheningan hutan.
"Ketahuan! Mundur!" perintah Kaelen.
reka berbalik dan berlari di antara pohon-pohon, langkah kaki berpacu dengan detak jantung yang nghentak keras. Nyanyian itu berubah njadi jeritan yang nggema di seluruh hutan, seperti suara makhluk-makhluk yang tersiksa.
Panah lesat dari balik pohon, nyaris ngenai Daren. "reka nyerang!" teriaknya.
Kaelen berbalik, nghunus pedangnya. Salah satu prajurit Ordo berlari ke arahnya dengan gerakan liar. Kaelen nangkis tebasan kasar, lalu mbalas dengan tusukan ke perut. Darah hitam nyembur—bukan rah, tapi pekat seperti racun. Bau amis bercampur busuk langsung nguar, mbuat Kaelen nyaris muntah.
"Apa-apaan ini?!" seru Ilva.
"Lari ke titik kumpul! Jangan bertarung lama di sini!" teriak Kaelen.
reka terus berlari, nghindari anak panah dan serangan mbabi buta dari prajurit-prajurit aneh itu. Joren tersandung akar besar, hampir terjatuh, namun Veyla nariknya bangkit dengan kasar.
"Jangan berhenti!" bentaknya.
reka akhirnya ncapai tebing kecil yang nghadap ke lembah. Di sana, reka berhenti, napas tersengal-sengal. Suara nyanyian itu reda, tetapi gema jeritan prajurit tadi masih terngiang di telinga. Angin lembah berembus dingin, nyapu wajah reka yang berkeringat. Dari atas, reka bisa lihat kabut tipis yang nyelimuti pepohonan di bawah sana—tenang, namun terasa ngancam.
"Apakah itu... sihir?" tanya Daren dengan suara tertahan.
Kaelen ngangguk, wajahnya tegang. "Ini bukan hanya Ordo Cahaya. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap."
Ilva remas gagang belatinya. "Apa kita kembali? Atau...?"
Kaelen natap hutan yang kembali sunyi. Eryon. Ini pasti permainannya. Atau mungkin lebih buruk.
"Kita kembali. reka harus tahu apa yang kita temukan," ujar Kaelen akhirnya.
reka pun kembali ke pos dengan hati waspada, mbawa kabar bahwa perang ini mungkin lebih ngerikan dari yang reka duga. Hutan di belakang reka tetap sunyi, namun Kaelen tahu, sesuatu telah bangkit dari kegelapan. Dan itu baru permulaan.
Reviews
All reviews (0)