Font Size
15px

Matahari mulai rangkak naik, nembus sisa kabut yang perlahan nipis. Udara dingin masih nggigit, ski sinar hangat mulai rayap ke permukaan tanah yang lembap. Pos penjaga yang reka duduki berdiri di tengah hutan lebat, di atas dataran kecil yang sedikit terbuka. Bangunan kayu sederhana itu tampak lusuh, dengan bekas-bekas kebakaran di beberapa bagian. Parit dangkal ngelilingi pos, dengan pagar kayu runcing sebagai perlindungan, ski terlihat rapuh setelah pertempuran sebelumnya. Bau anyir darah masih samar tercium di udara, bercampur dengan aroma tanah basah.

Kaelen berdiri di atas nara pandang, matanya nelusuri pepohonan yang bergerak pelan tertiup angin. Sekilas, hutan tampak tenang. Namun, Kaelen tahu ketenangan itu bisa jadi topeng bagi bahaya yang ngintai. Ia narik napas dalam, ncoba nenangkan pikirannya yang sejak semalam terus dipenuhi bayangan Eryon.

Di bawah, Rhal berbicara dengan Balrik di dekat palisade tentang pembaruan jebakan yang dipasang di sekeliling pos. Varrok terlihat latih beberapa prajurit muda di halaman tengah, suara dentingan pedang saling beradu nggema, berpadu dengan sesekali tawa getir para pejuang yang ncoba lawan ketegangan.

Serina dan Lyra duduk di dekat perapian yang mulai ngecil, nghangatkan tangan reka di atas api. Asap tipis ngepul perlahan ke udara, nyatu dengan kabut pagi yang belum sepenuhnya hilang. Keduanya tampak berbincang pelan, tetapi sesekali lirikan reka jatuh ke arah Kaelen.

Kaelen turun perlahan dari nara dan nghampiri reka. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya, ncoba nyisipkan nada ringan ski suaranya sedikit berat.

Serina tersenyum kecil. "Kami bertaruh siapa yang lebih keras kepala, kau atau Varrok. Aku milih kau, Lyra milih Varrok."

Kaelen tertawa pelan, ski tak sepenuhnya nghilangkan kekhawatiran di hatinya. "Aku rasa aku nang dengan mudah."

Lyra ikut tersenyum. "Kami hanya berusaha nenangkan diri. Semua orang tegang. Kau juga, Kaelen. Kami bisa lihatnya."

Kaelen terdiam sejenak, natap api yang berkedip lemah. "Aku rasa Eryon semakin dekat. Aku tahu dia di sana... dan dia ingin aku tahu. Tapi dia tidak bergerak. Dia nunggu sesuatu."

Serina nggigit bibir. "Permainan pikiran. Itu yang paling berbahaya. Dia ingin kita saling curiga, saling retak. Kita tak boleh mbiarkan itu terjadi."

Kaelen ngangguk. "Aku tahu. Aku hanya... aku takut dia akan terus datang sampai aku... sampai aku kalah."

Lyra natapnya lekat. "Kau tidak akan kalah. Aku percaya itu. Kami semua percaya."

Saat itu, Rhal datang dengan langkah cepat, wajahnya tegang. "Aku butuh kalian di tenda utama. Sekarang."

reka ngikuti Rhal ke tenda besar di tengah pos. Di sana, Varrok dan Balrik sudah nunggu. Di atas ja kayu kasar terbentang peta wilayah sekitar, dengan tanda-tanda rah yang nunjukkan pergerakan musuh.

"Pengintai lihat aktivitas di barat laut," ujar Rhal sambil nunjuk peta. "Mungkin patroli Ordo, mungkin lebih. Kita butuh kepastian. Kaelen, aku ingin kau pimpin tim kecil untuk nyelidiki."

Varrok ngerutkan dahi. "Kita baru saja ndapat waktu bernapas. ngirim Kaelen keluar sekarang terlalu berisiko. Eryon mungkin nunggu mon ini."

Balrik nimpali tegas, "Kita tak punya pilihan. Kita harus tahu apa yang reka rencanakan. Jika kita hanya nunggu, reka yang akan mukul kita lebih dulu."

Kaelen ngangkat tangan, nenangkan perdebatan itu. "Aku akan pergi. Aku harus lihat sendiri. Ini tanggung jawabku."

Serina tampak gelisah, sentara Lyra nghela napas panjang, jelas berat lepas Kaelen.

Rhal ngangguk. "Baik. Pilih empat orang terbaik. Berangkat sebelum matahari tepat di atas kepala. Hindari pertempuran, ini pengintaian."

Setelah pertemuan selesai, Kaelen duduk di luar tenda, mandang hutan yang mulai diterangi ntari pagi. Serina datang, duduk di sampingnya. reka terdiam sejenak.

"Kau takut?" tanya Serina lirih.

Kaelen natap tanah. "Bukan hanya pada musuh. Aku takut kehilangan semua ini. Takut kehilangan kalian. Takut suatu hari aku bangun... dan lupa semuanya. Ibuku, kalian, diriku sendiri. Aku takut njadi kosong."

Serina remas tangannya. "Kau tak akan sendirian. Kami di sini untuk ngingatkanmu siapa kau. Jangan lupakan itu."

Kaelen noleh, tersenyum samar ski matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Serina. Itu yang mbuatku bertahan."

Beberapa jam kemudian, Kaelen berdiri di gerbang bersama empat prajurit pilihan—Rhal milih orang-orang yang dianggap paling cekatan dan dapat dipercaya. Ada Daren, pemanah terbaik reka; Ilva, pengintai yang tangguh; Joren, seorang prajurit muda yang penuh semangat, namun sering gugup; dan Veyla, perempuan pendiam yang cekatan dengan belatinya. Kaelen natap reka satu per satu, mastikan reka siap.

"Kita bergerak cepat, diam, dan jangan terpancing pertempuran," ucap Kaelen dengan suara tegas. "Jika ada sesuatu yang ncurigakan, beri isyarat. Jangan bertindak sendiri."

Daren ngangguk mantap, sentara Ilva nyelipkan belatinya ke sarung di paha. Joren nghela napas panjang, nenangkan diri, dan Veyla hanya natap tajam, tanpa sepatah kata. Varrok dan Rhal mberi arahan terakhir. Serina dan Lyra berdiri tak jauh, wajah reka diliputi kekhawatiran.

Saat Kaelen langkah ke dalam kegelapan hutan, suara gerisik dedaunan dan ranting yang patah ngiringi setiap langkah reka. Udara di bawah naungan pepohonan terasa lebih lembap dan pengap. Di kejauhan, burung-burung sesekali berkicau, tetapi ada sesuatu yang ganjil—terlalu sunyi untuk ukuran hutan ini.

Setelah beberapa saat berjalan, Ilva berbisik pelan, "Berhenti." Semua diam seketika.

Ilva nunjuk ke tanah—jejak sepatu berat, lebih dari sepuluh orang. Tapi di sampingnya, ada bekas cakar panjang di atas tanah berlumpur. Garis-garisnya dalam, tidak seperti jejak binatang biasa.

"Apa ini...?" gumam Joren, suaranya bergetar.

Daren berlutut, nyentuh jejak itu dengan jarinya. "Bukan hewan yang kukenal. Tapi ini... terasa salah."

Kaelen natap hutan di depan reka. Kegelapan di antara pepohonan terasa semakin pekat. Bisikan samar kembali ngusik pikirannya. Kali ini bukan hanya kekuatan gelap—ia juga ndengar seperti suara lirih, seperti nyanyian jauh di kejauhan. Suara yang ngundang sekaligus nakutkan.

"Dengar itu?" tanya Veyla pelan.

Semua hening, mperhatikan. mang ada suara... samar, seperti perempuan yang nyanyikan lagu sedih, terhanyut bersama angin.

Kaelen rasakan bulu kuduknya berdiri. Ia mberi isyarat untuk lanjutkan, tetapi lebih hati-hati. reka bergerak lebih perlahan, nyusuri bayang-bayang di antara pepohonan. Perasaan diawasi tak pernah hilang.

Bisikan kekuatan itu makin kuat di kepalanya. Tapi sekarang, ia tak tahu mana yang lebih nyata—bahaya di dalam pikirannya, atau yang ngintai di sekitar reka. Bisikan kekuatan hitam—janji kenangan, kekuatan untuk mbalas dendam. Tapi ia tahu harga yang harus dibayar: setiap kali ia nyerah pada kekuatan itu, bagian dari dirinya lenyap.

Ia nggenggam gagang pedangnya erat, ncoba nepis suara itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu godaan itu takkan pernah benar-benar pergi.

Dari balik bayang-bayang pepohonan, Eryon ngamati. Senyum tipis terukir di wajahnya. Satu langkah lagi. Kaelen semakin ndekat ke jalur yang ia tentukan.

Kabut pagi akhirnya nghilang sepenuhnya. Namun, bayangan yang lebih gelap perlahan ngintai di kejauhan.

You are reading The Shattered Light Chapter 42: – Bayang-bayang Kepercayaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.