Font Size
15px

Kabut pagi masih nyelimuti pos penjaga yang kini reka duduki dengan susah payah. Aroma kayu terbakar masih samar tercium, bercampur bau darah yang mulai mudar. Di sekelilingnya, parit dangkal dan barikade kasar dari batang-batang pohon njadi satu-satunya perlindungan. Hutan lebat ngelilingi pos, nciptakan perasaan terisolasi sekaligus terancam.

Kaelen duduk di dekat perapian yang dibangun di tengah-tengah halaman terbuka, bersama Varrok yang sedang ngasah pedangnya dengan teliti. Udara dingin mbuat napas reka terlihat seperti asap putih tipis. Suara kayu terbakar sesekali berderak, njadi satu-satunya pengisi kesunyian selain suara burung-burung hutan yang sesekali terdengar jauh di kejauhan. Kenangan reka semalam belum sepenuhnya mberi rasa lega. Kaelen tahu, Eryon masih ngintai di luar sana.

Serina muncul dari salah satu tenda, mbawa secangkir air hangat. Pipinya agak rah karena udara dingin. Ia berjalan perlahan dan nyerahkan cangkir itu kepada Kaelen.

"Kau butuh ini."

"Terima kasih." Kaelen ncoba tersenyum, tetapi sorot matanya tetap suram. Ia neguk air itu perlahan, mbiarkan hangatnya ngalir di tenggorokannya yang kering.

Tak lama, Lyra datang dan duduk di seberangnya. Ia ngenakan mantel tebal, rambutnya sedikit berantakan, namun matanya lebih berbicara daripada bibirnya. Ia natap Kaelen lama, seolah ingin ngucapkan sesuatu, tetapi ragu-ragu.

"Kau tampak gelisah," kata Varrok akhirnya, cah keheningan.

Kaelen nghela napas pelan, matanya natap jauh ke arah pepohonan di ujung pos. "Eryon ada di sana semalam. Dia mperhatikanku."

Serina seketika negang. "Dia? Apa dia lakukan sesuatu?"

"Tidak. Tapi dia ingin aku tahu dia ada di sana. Seolah... nunggu," jawab Kaelen pelan, suaranya nekan ketakutan yang ngendap di hatinya.

Varrok berhenti ngasah pedangnya, natap Kaelen dalam-dalam. "Dia mainkan permainannya. Orang seperti Eryon tak pernah terburu-buru. Dia ingin nguji seberapa jauh kau bisa bertahan sebelum kau jatuh."

Kaelen nggenggam cangkir itu lebih erat. Ujung jarinya mutih karena tekanan. "Aku tak akan jatuh. Aku harus kuat."

Lyra akhirnya mberanikan diri angkat bicara, suaranya lembut namun penuh ketulusan. "Kami di sini untukmu, Kaelen. Kau tak harus nanggung semua ini sendirian."

Serina nimpali, suaranya lirih namun tegas. "Aku juga. Aku akan selalu ada di sisimu, apa pun yang terjadi."

Kaelen noleh, natap reka satu per satu. Tatapan reka bertemu, dan untuk sesaat, rasa hangat nyelinap di hatinya. Namun, bayangan kekuatan gelap itu masih terus berbisik di sudut pikirannya, ngingatkannya bahwa kehangatan ini bisa hilang kapan saja.

Suasana sedikit ncair, tetapi ketegangan itu belum sepenuhnya pergi. Rhal tiba-tiba masuk dengan langkah tergesa-gesa. Jaketnya basah oleh embun pagi.

"Ordo Cahaya tampaknya mundur untuk sentara. Aku lihat gerakan reka njauh ke arah timur. Tapi aku tak percaya reka akan nyerah begitu saja. Kita harus waspada."

Balrik nyusul masuk, wajahnya keras seperti biasanya. "Ini hanya ketenangan sebelum badai. reka mungkin hanya mundur untuk ngumpulkan kekuatan lebih besar. Kita harus mperkuat pos ini. Setiap sisi pagar harus diperiksa, jebakan di jalur masuk kita tambah lagi. Tak boleh ada celah."

Semua ngangguk setuju. Setelah Balrik dan Rhal pergi, keheningan kembali lingkupi tenda itu. Namun kali ini, atmosfernya berbeda—lebih sarat kekhawatiran yang terselubung.

Serina noleh ke Kaelen, suaranya bergetar pelan. "Aku tahu kau kuat... tapi aku takut. Aku takut suatu hari kau berubah njadi seseorang yang tak kami kenali."

Kaelen terdiam. Kata-kata itu nusuknya lebih dalam daripada tebasan pedang mana pun. Karena itulah ketakutannya juga.

"Aku juga takut," jawab Kaelen pelan. "Tapi aku akan berjuang. Untuk kalian. Untuk kita semua."

Lyra tersenyum kecil, ski matanya masih nyimpan ketakutan yang tak mampu disembunyikan. "Kami percaya padamu, Kaelen. Jangan lupakan itu."

Varrok berdiri, nepuk bahu Kaelen. Namun, sebelum pergi, ia bertukar pandang dengan Rhal. Ada ketegangan samar di antara reka, seperti dua pemimpin yang mulai berbeda pandangan tentang arah perjuangan ini.

Rhal nyuarakan kegelisahannya, suaranya pelan namun tajam. "Kaelen... aku ngerti peranmu penting, tapi jangan biarkan apa yang kau bawa njadi ancaman bagi kita. Eryon bukan musuh biasa. Jika dia terus ngincarmu, itu berarti kita semua dalam bahaya. Kita harus bersiap untuk segala kemungkinan."

Varrok nghela napas, seolah ingin mbantah, tapi ia milih diam. Kaelen nyadari percikan perbedaan di antara reka, dan itu nambah beban pikirannya.

Kaelen njawab lirih, ncoba nenangkan. "Aku paham... Aku akan lebih berhati-hati. Tapi aku butuh kalian tetap bersatu. Kita takkan nang jika mulai saling curiga."

Varrok ngangguk, ski sorot matanya masih nyimpan kekhawatiran.

Kaelen ngangguk, berusaha nurut, namun pikirannya tetap dipenuhi bayangan Eryon dan suara ibunya yang semakin mudar. Di sela-sela pikirannya, ia teringat malam-malam dulu di desanya. Ibunya duduk di samping perapian, nyanyikan lagu pelan sembari mbelai rambutnya. Kehangatan itu kini terasa jauh, seperti bara api yang perlahan padam. Ia rindukan rasa aman itu, sesuatu yang kini terasa mustahil didapatkan. Saat ia nutup mata, wajah ibunya hanya samar, semakin jauh setiap kali ia ncoba nggapainya.

Di luar pos, kabut mulai nipis, tetapi bayangan di balik pepohonan tetap terasa. Sesekali terdengar suara gerisik dari kejauhan—mungkin hewan liar, atau mungkin patroli Ordo Cahaya. Setiap suara kecil njadi tanda bahaya, mbuat semua yang berjaga tak bisa benar-benar tenang. Eryon berdiri di sana, tersembunyi. Wajahnya tenang, matanya ngamati dari kejauhan. Bibirnya nyunggingkan senyum tipis, penuh makna. Ia tahu, benih keraguan telah ditanam. Dan waktunya akan segera tiba.

You are reading The Shattered Light Chapter 41: – Retakan di Antara Kita on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.