Font Size
15px

Pagi di pos penjaga yang baru dikuasai terasa lebih sunyi dari biasanya. Udara dingin mbekukan dedaunan, sentara para prajurit Balrik mulai mperkuat pertahanan. Kaelen berdiri di tengah keramaian, namun pikirannya jauh layang. Percakapan dengan Serina dan Lyra semalam masih terngiang di telinganya, mbayangi setiap langkahnya.

Rhal ndekat dengan wajah serius. "Pengintai kita lihat pergerakan pasukan Ordo Cahaya. reka bergerak cepat ke arah sini. Kita mungkin hanya punya waktu beberapa jam sebelum reka tiba."

Balrik yang tengah mberi instruksi langsung noleh. "Berapa banyak?"

"Sekitar dua ratus orang. Dipimpin oleh seorang kapten tinggi dari Ordo," jawab Rhal.

Suasana langsung tegang. Dua ratus orang bukan jumlah yang bisa direhkan. Pasukan Balrik dan kelompok Kaelen hanya sekitar separuh dari itu, dan banyak yang masih kelelahan setelah pertempuran sebelumnya.

Varrok langkah ke depan. "Kita tak bisa bertahan lama dalam posisi ini. reka akan ngepung kita. Kita harus milih—bertahan dan mati, atau mundur dengan cerdik."

Balrik ngepalkan tangannya. "Aku tak ingin nyerahkan pos ini begitu saja. Ini simbol perlawanan kita. Jika kita mundur sekarang, kita nunjukkan kelemahan."

Kaelen natap peta yang tergelar di atas ja. Garis-garis jalur penghubung terpampang jelas. Ia nunjuk ke sebuah celah sempit di lembah.

"Jika kita mancing reka ke sini," ujarnya, "kita bisa nyergap reka dengan serangan dari dua sisi. Aku bisa mimpin sekelompok kecil untuk ngalihkan perhatian reka sentara pasukan utama bersiap di titik ini. Begitu reka masuk ke lembah, kita jebak."

Rhal ngangguk. "Risiko besar. Tapi jika berhasil, kita bisa mukul mundur reka tanpa kehilangan pos ini."

Balrik mandang Kaelen lama. "Berani sekali. Tapi aku nyukai keberanian itu. Kau bersedia mimpin umpan itu?"

Kaelen ngangguk tanpa ragu. Serina dan Lyra yang ndengar percakapan itu langsung ndekat.

"Kau tak harus selalu ngambil peran paling berbahaya, Kaelen," ucap Serina dengan nada khawatir.

Kaelen natapnya dengan lembut. "Ini satu-satunya cara agar kita punya peluang nang. Aku akan baik-baik saja. Percayalah."

Lyra nunduk, genggaman tangannya ngepal erat di sisi tubuhnya. Namun, ia milih diam, skipun hatinya berteriak.

Beberapa jam kemudian, Kaelen bersama sepuluh prajurit berangkat nuju lembah. Hutan yang biasanya terasa nenangkan kini seolah penuh dengan mata yang ngintai. Bisikan kekuatan gelap itu kembali terdengar, namun Kaelen nekannya kuat-kuat. Namun, ia mulai sadar, semakin ia nolaknya, semakin kekuatan itu ncoba rasuk.

Saat reka ndekati lembah, suara langkah kaki pasukan Ordo mulai terdengar. Kaelen mberi isyarat kepada timnya untuk bersembunyi di balik semak-semak. Ia nahan napas, nunggu mon yang tepat.

Ketika pasukan Ordo mulai masuki celah, Kaelen bangkit dan berteriak keras, nghunus pedangnya. "Serang!"

Pasukan Ordo segera nyerbu ke arahnya. Kaelen dan timnya berpura-pura mundur, mancing musuh semakin dalam ke lembah. Begitu reka cukup jauh, suara terompet terdengar dari arah bukit.

Balrik dan Varrok mimpin serangan dari kedua sisi. Panah lesat, nghujani pasukan Ordo yang terjebak. Pertempuran pecah, darah kembali ngalir di antara bebatuan lembah.

Kaelen bertarung dengan gigih, pedangnya nebas musuh satu per satu. Namun di tengah kekacauan, ia rasakan sesuatu yang aneh. Dari sudut matanya, ia lihat sosok berjubah hitam berdiri di atas tebing, ngawasi reka. Sosok itu bukan bagian dari Ordo, tetapi keberadaannya nimbulkan ketakutan ndalam.

Eryon.

Mata reka bertemu. Senyum dingin terukir di wajah Eryon, seolah mberi isyarat bahwa ini baru permulaan.

Kaelen teralihkan sejenak, cukup untuk mbuat seorang prajurit Ordo nyerangnya dari belakang. Namun, sebelum pedang musuh nyentuhnya, Rhal berteriak dan nebas prajurit itu.

"Fokus, Kaelen! Jangan mati sekarang!" bentak Rhal.

Kaelen ngangguk, tetapi pikirannya tetap dihantui kehadiran Eryon.

Pertempuran berakhir dengan kenangan di pihak reka. Pasukan Ordo mundur, ninggalkan banyak korban di lembah. Namun, kenangan ini terasa pahit bagi Kaelen. Ia tahu Eryon tak akan berhenti ngawasinya.

Saat malam turun, Kaelen berdiri di tebing yang tadi ditempati Eryon. Tak ada jejak yang tertinggal, seolah musuhnya itu adalah bayangan semata.

Tapi Kaelen tahu, ini bukan ilusi.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" gumamnya pelan.

Angin berembus dingin, mbawa keheningan yang penuh tanda tanya. Di kejauhan, cahaya bulan nyinari hutan yang seakan nyimpan rahasia yang belum terungkap.

Kaelen nghela napas panjang. Ia rasa ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.

Dan ia tak tahu apakah dirinya siap untuk nghadapi itu.

Dari balik pepohonan yang gelap, Eryon masih ngamati. Kali ini, matanya bersinar samar—sebuah pertanda bahwa rencananya perlahan mulai berjalan. Senyum tipis kembali tersungging di wajahnya. Sesuatu akan terjadi. Dan Kaelen belum tahu apa yang nantinya.

You are reading The Shattered Light Chapter 40: – Balas Dendam yang Menyala on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.