Fajar nyingsing di langit timur, nyinari pos penjaga yang kini dikuasai pasukan Balrik. Asap tipis masih ngepul dari sisa pertempuran semalam. Mayat-mayat prajurit Ordo Cahaya tergeletak di tanah yang bercampur darah dan lumpur. Beberapa prajurit Balrik sibuk ngumpulkan senjata dan rawat yang terluka.
Kaelen duduk di sudut pos, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin. Bau anyir darah bercampur tanah basah nusuk hidungnya, mbuat perutnya bergejolak. Terdengar samar-samar suara geretak kayu terbakar dari sisa pertempuran, disertai erangan pelan prajurit yang terluka di kejauhan. Semua itu mbentuk simfoni duka yang terus nggema di telinganya. Napasnya berat, matanya natap kosong ke arah tanah. Tubuhnya terasa lelah, tetapi jiwanya lebih lelah lagi. Ia berusaha ngingat suara ibunya, namun hanya gema samar yang tersisa. Kehilangan itu nusuk lebih dalam daripada luka fisik mana pun.
Serina berjalan nghampirinya, mbawa sepotong roti kering dan kantung air. Wajahnya nyiratkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Kau belum makan sejak semalam," ucapnya pelan.
Kaelen ngangkat wajah, ncoba tersenyum, tapi gagal. Ia nerima roti itu dan nggigitnya perlahan.
Serina duduk di sampingnya. "Aku lihat matamu tadi malam. Sesuatu terjadi, bukan? Saat kau ngayunkan pedang itu..."
Kaelen terdiam. Bayangan semalam lintas di benaknya—mon ketika ia nebas seorang prajurit Ordo dengan kekuatan yang tak wajar. Tubuh lawan itu terlempar jauh, mbentur pagar kayu hingga patah. Ia ingat tatapan Serina saat itu—kaget, takut, dan khawatir bercampur jadi satu. Ia tahu Serina lihatnya. Ia tahu Rhal dan yang lainnya juga lihat. Bisikan kekuatan gelap itu mulai mperlihatkan dampaknya di mata reka.
"Aku kehilangan bagian dari diriku setiap kali aku nggunakannya," jawab Kaelen akhirnya. Suaranya lirih, seperti pengakuan dosa. "Suara ibuku... aku hampir tak bisa ngingatnya lagi."
Serina natap Kaelen dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin ngatakan sesuatu, tapi ia tahu tak ada kata yang mampu nghapus beban itu.
Lyra bergabung dengan reka, wajahnya sedikit pucat setelah mbantu rawat yang terluka. Ia duduk di sisi lain Kaelen, diam, namun kehadirannya mberi kehangatan tersendiri.
"Aku tahu aku harus kuat," lanjut Kaelen. "Tapi semakin jauh aku langkah, semakin aku takut aku akan lupakan kalian juga. Aku takut suatu hari aku bangun dan tak ada lagi yang aku kenali."
Lyra nggenggam tangan Kaelen erat. "Kami di sini. Kami akan ngingatkanmu siapa dirimu, apa pun yang terjadi. Kau tak sendiri, Kaelen."
Kaelen rasakan genggaman itu, dan untuk sesaat, rasa sakit di dadanya reda. Kehangatan tangan Lyra seolah njadi pengikat yang nahan dirinya agar tetap berada di dunia nyata, di sisi orang-orang yang peduli padanya. Ia nutup mata sejenak, mbiarkan kehangatan itu resap, lawan kehampaan yang perlahan nggerogoti jiwanya. Dalam mon singkat itu, ia rasa aman—seperti anak kecil yang berlindung di pelukan ibunya, ski ia tahu, rasa tenang ini bisa hilang kapan saja.
Di sisi lain pos, Rhal berbicara dengan Balrik dan Varrok. reka rencanakan langkah berikutnya. Penaklukan pos ini mbuka jalan bagi serangan lebih besar, tetapi juga mperbesar risiko pembalasan Ordo Cahaya.
"Ordo pasti akan ngirim pasukan besar untuk rebut kembali pos ini," ujar Balrik tegas. "Kita harus bersiap. Ini baru permulaan."
Varrok natap Kaelen dari kejauhan. Ia lihat beban di bahu pemuda itu. Ia tahu Kaelen adalah harapan reka, tapi ia juga tahu beban seperti ini bisa nghancurkan siapa pun.
Malam mulai turun lagi. Kaelen berdiri di atas nara penjaga, natap jauh ke arah hutan yang gelap. Bayangan Eryon terasa ngintai di antara pepohonan. Kaelen tahu, musuhnya tak hanya datang dari luar. Musuh terbesarnya ada di dalam dirinya sendiri.
"Aku tak akan kalah," bisiknya pelan, entah pada dirinya sendiri atau pada kegelapan di seberang sana.
Dan di kejauhan, Eryon berdiri di balik pohon, ndengar bisikan itu. Senyumnya lebar. Ia tahu, pertarungan sejati baru saja dimulai.
Reviews
All reviews (0)