Malam perlahan bergulir njadi dini hari, ketika hujan tipis mulai mbasahi perkemahan Balrik. Rintik-rintik air jatuh lembut di atas tenda-tenda lusuh dan tanah yang mulai berubah njadi lumpur. Kaelen berdiri di tepi perkemahan, natap kelamnya hutan yang akan reka lalui malam ini. Udara dingin nusuk, namun itu bukan hal yang ngganggunya. Apa yang lebih mbebani pikirannya adalah kemungkinan kegagalan misi ini.
Rhal datang nghampirinya, ngenakan mantel tebal dengan tudung yang nutupi sebagian besar wajahnya. "Orang-orangku sudah bersiap," katanya singkat. Mata tajamnya nelisik Kaelen, seolah mastikan anak muda itu tidak goyah.
Kaelen ngangguk. "Kita mulai bergerak dalam satu jam. Pastikan reka paham peran masing-masing. Gangguan di barat harus tepat waktu. Kalau tidak, kita terperangkap."
"Aku tahu," sahut Rhal dingin. "Aku tak ingin mati konyol di tempat ini."
Setelah Rhal berlalu, Serina dan Lyra nghampiri Kaelen. Wajah reka tampak cemas di bawah cahaya samar obor.
"Apa kau yakin dengan rencana ini?" tanya Serina, suaranya lirih.
Kaelen ncoba tersenyum, skipun ia sendiri masih ragu. Hatinya berdenyut dengan ketakutan yang tak terkatakan. Dadanya terasa sesak, tangannya sedikit getar skipun ia berusaha nyembunyikannya. Pikirannya berputar pada segala kemungkinan buruk—pembantaian, kegagalan, atau kehilangan reka yang ia sayangi. Namun, ia nekan semua itu ke dalam, berharap senyum tipisnya cukup untuk nenangkan Serina dan Lyra. "Tidak ada yang pasti. Tapi ini peluang terbaik kita. Aku harus ncobanya."
Lyra nyentuh lengan Kaelen perlahan. "Kalau sesuatu terjadi... kembalilah. Jangan paksakan dirimu. Kami butuh kau, Kaelen."
Kaelen rasakan sentuhan itu seperti pengingat akan sisi kemanusiaannya yang kerap terlupakan di dan perang. Ia natap Lyra sejenak, lalu Serina. "Aku berjanji akan kembali."
Waktu berlalu, dan saat yang dinantikan tiba. Kaelen mimpin tim kecilnya yang terdiri dari lima orang, termasuk dua prajurit Balrik yang tampak cekatan. Rhal dan pasukannya bergerak lebih dahulu ke arah barat untuk nciptakan pengalihan.
reka nyusuri jalan setapak sempit, nyelinap di antara pepohonan lebat yang basah karena hujan. Tanah berlumpur mperlambat langkah, namun reka tetap maju dengan hati-hati. Setiap suara ranting patah mbuat Kaelen negang. Ia tahu, satu kesalahan saja bisa berujung maut.
Saat ndekati pos penjaga, Kaelen mberi isyarat berhenti. Ia ngamati situasi dari balik semak-semak. nara penjaga njulang di kejauhan, dengan dua prajurit Ordo berpatroli. Gerbang kayu besar terkunci rapat, dijaga oleh tiga orang prajurit bersenjata tombak.
Kaelen nunggu tanda dari Rhal. Beberapa nit berlalu, lalu terdengar suara ledakan kecil dari arah barat, disusul teriakan dan gemuruh langkah kaki. Para penjaga di pos mulai panik. Dua dari tiga prajurit di gerbang bergegas nuju sumber suara.
"Sekarang," bisik Kaelen.
reka rayap keluar dari persembunyian, ndekati gerbang dengan hati-hati. Kaelen dan dua orang lainnya nghabisi penjaga yang tersisa dengan cepat dan senyap. Darah ngalir di bawah rintik hujan.
Kaelen ndekati palang gerbang. Ia bersama seorang prajurit berusaha ngangkatnya perlahan. Kayu basah itu berat dan berderit pelan, mbuat jantung Kaelen berpacu lebih cepat. Dalam sekejap, gerbang mulai terbuka.
Dari kejauhan, Rhal dan pasukannya lihat gerbang terbuka dan segera nerjang masuk. Pertempuran pun pecah. Kaelen ncabut pedangnya, nghalau serangan dari prajurit Ordo yang nyadari penyusupan itu. Denting logam beradu di tengah hujan, teriakan kesakitan bercampur dengan suara derasnya air.
Kaelen bertarung mati-matian. Setiap ayunan pedang adalah perjuangan untuk hidup. Di sela-sela pertempuran, ia lihat Rhal bertarung dengan gagah, mimpin pasukannya nembus pertahanan musuh.
Namun, Kaelen tahu perasaan ini. Perasaan di ambang batas. Tubuhnya mulai lelah, dan bisikan itu kembali. Kekuatan gelap di dalam dirinya manggil, nawarkan kekuatan instan untuk ngakhiri semua ini. Ia nolak, tetapi dorongan itu semakin kuat.
Saat seorang prajurit Ordo hampir nebasnya dari belakang, Kaelen refleks ngayunkan pedangnya dengan kekuatan lebih besar dari biasanya. Tubuh lawannya terhempas jauh, tak wajar untuk ukuran tenaga manusia biasa. Rekan-rekan Kaelen yang berada di dekatnya sempat terpaku sejenak. Salah satu prajurit Balrik natapnya dengan alis terangkat, sentara yang lain lirik dengan ekspresi bingung dan cemas. Rhal, yang sedang bertarung di sisi lain, sempat lirik ke arah Kaelen dengan tatapan penuh selidik, namun segera kembali fokus pada lawannya. Kaelen nyadari reaksi reka, mbuatnya semakin waspada akan kekuatan yang baru saja ia gunakan. Kaelen terhuyung, napasnya terengah. Ia tahu apa yang baru saja terjadi.
Misi itu berhasil. Pos utara jatuh ke tangan reka. Namun, saat Kaelen berdiri di tengah darah dan mayat, ia rasa ada sesuatu yang mulai hilang lagi dalam dirinya. Ia ncoba ngingat suara ibunya—tetapi semakin ia berusaha, semakin samar suara itu. Sekilas, ia terbayang mon ketika ibunya nyanyikan lagu pengantar tidur di samping perapian rumah reka. Suara lembut itu dulu mbuatnya rasa aman, hangat dalam pelukan kasih sayang. Namun, kini nada-nada itu terdengar jauh, seolah tertutup kabut tebal yang tak bisa ditembus. Kaelen nggenggam pedangnya lebih erat, nyadari bahwa bagian dari dirinya kembali terkikis.
Rhal ndekat, nepuk bahunya. "Kau lakukannya lagi, Kaelen. Kau punya jiwa pemimpin."
Kaelen ngangguk, tetapi di dalam hatinya, ia rasa kosong.
Di kejauhan, tersembunyi dalam bayangan pohon, Eryon nyaksikan semuanya. Senyum kecil terukir di wajahnya. Ia tahu, Kaelen semakin dekat dengan batasnya. Dan saat itu tiba, Eryon akan ada di sana untuk nyambutnya.
Reviews
All reviews (0)