Font Size
15px

Kenangan atas pos penjaga di perbatasan selatan mbawa angin segar di perkemahan Balrik. Namun, Kaelen rasakan beban yang tak kunjung reda. skipun dirinya mulai diterima sebagai pemimpin oleh Rhal dan para pejuang Balrik, ia tahu cobaan yang lebih berat masih nanti. Perasaan puas itu hanya sesaat, karena bayangan kekalahan dan kehilangan masih nghantuinya.

Hari itu, Balrik ngumpulkan semua pemimpin regu di tengah perkemahan. Peta wilayah Ordo Cahaya terbentang di atas ja kayu kasar, penuh coretan jalur penyusupan dan titik penjagaan musuh. Varrok berdiri di samping Kaelen, sentara Serina, Lyra, Darek, dan Aria mperhatikan dari kejauhan dengan wajah tegang.

Balrik nunjuk ke sebuah titik di peta. "Ini pos penjaga berikutnya di utara, lebih besar dan lebih terjaga. Jika kita bisa rebutnya, kita bisa mutus jalur komunikasi Ordo Cahaya di sepanjang lembah ini. Tapi serangan ini takkan mudah. reka pasti sudah ngetahui kekalahan di selatan, dan reka akan lebih siap."

Rhal, yang berdiri di seberang Kaelen, ngangguk. "Penjagaan reka akan berlipat ganda. Kita mbutuhkan penyusupan yang lebih cerdik kali ini. Tak bisa hanya ngandalkan serangan frontal seperti kemarin. Aku ngenal dan itu. reka punya nara pandang lebih banyak. Salah langkah, kita terkepung."

Kaelen natap peta itu lama. "Bagaimana jika kita mancing sebagian pasukan reka keluar? Kita ciptakan gangguan di hutan barat, seolah-olah kita akan nyerang dari sana. Sentara itu, tim kecil nyelinap dari timur, mbuka gerbang dari dalam."

Balrik nyipitkan mata, nimbang usulan itu. "Ide yang bagus, tapi berisiko tinggi. Jika penyusupan gagal, kita semua bisa terkubur di sana. Siapa yang akan mimpin penyusupan?"

Kaelen rasakan semua mata tertuju padanya. Ia tahu jawaban itu sudah jelas.

"Aku," ucap Kaelen tegas. "Aku akan mimpin tim kecil itu. Aku ngenal cara penjaga Ordo bekerja. Aku bisa nembusnya."

Varrok tampak ingin nyela, tetapi ia nahan diri. Balrik ngangguk pelan. "Baiklah. Rhal akan mimpin gangguan di barat. Kalian berangkat besok malam. Bersiaplah. Pastikan orang-orangmu paham betul, ini bukan sekadar misi biasa. Ini bisa nentukan hidup dan mati kita semua."

Saat pertemuan bubar, Kaelen berjalan nuju Serina dan Lyra. Wajah keduanya dipenuhi kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

"Kau tak perlu selalu njadi yang pertama nghadapi bahaya," kata Serina pelan, suaranya bergetar.

Kaelen tersenyum tipis, berusaha yakinkan. "Aku tahu. Tapi ini jalanku. Aku tak bisa minta orang lain lakukan sesuatu yang aku sendiri tak berani lakukan. Jika aku ingin reka percaya, aku harus nunjukkan itu."

Lyra nunduk, suaranya hampir berbisik. "Berhati-hatilah. Kami tak ingin kehilanganmu... aku... tak ingin kehilanganmu."

Kaelen natap keduanya bergantian. Ada sesuatu yang hangat di hatinya, tapi juga nyakitkan. Ia takut kehilangan reka, lebih dari apa pun. Namun, ia juga tahu, pertempuran ini akan nuntut lebih banyak pengorbanan. Dan mungkin, ia sendiri yang harus njadi korbannya.

Malam itu, Kaelen duduk sendirian di pinggiran perkemahan. Ia renung di bawah langit berbintang. Bisikan kekuatan itu masih ada, mbujuknya dengan janji kekuasaan yang bisa mbuatnya tak terkalahkan. Tapi Kaelen tahu, setiap kali ia nyerah pada kekuatan itu, ia kehilangan sebagian dari dirinya. Wajah ibunya yang mulai kabur di ingatannya njadi pengingat akan harga yang harus dibayarnya.

Langkah kaki terdengar ndekat. Varrok duduk di sampingnya, mbawa secangkir teh hangat yang ngepulkan uap tipis.

"Kau mbuat keputusan yang tepat," ujar Varrok. "Tapi kau harus tahu, semakin jauh kita langkah, semakin sulit jalan pulang. Aku pernah berada di posisi sepertimu dulu. mimpin, bertaruh nyawa untuk orang lain. Tapi jangan lupa satu hal—jangan kehilangan dirimu sendiri. Aku sudah lihat banyak pemimpin jatuh, bukan karena pedang musuh, tapi karena reka lupa siapa reka."

Kaelen ngangguk, suaranya lirih. "Aku takut, Varrok. Aku takut suatu hari aku bangun dan aku tak lagi ngenal siapa diriku. Aku takut aku lupakan semua yang berharga. Aku takut aku hanya njadi alat kekuatan ini."

Varrok nepuk bahunya pelan. "Karena itulah kau harus terus ingat alasanmu bertarung. Bukan untuk balas dendam, tapi untuk reka yang masih hidup. Untuk masa depan yang lebih baik. Pegang itu erat-erat. Itu satu-satunya yang bisa mbuatmu tetap njadi Kaelen."

Kaelen natap langit malam. Ia rasa sedikit lebih kuat, skipun perasaan takut itu masih ada. Esok adalah langkah baru, tapi ia tahu, bayangan kegelapan masih ngintainya di setiap sudut.

Di tempat lain, jauh di antara pepohonan, Eryon berdiri diam. Mata dinginnya natap ke arah perkemahan. Ia bisa rasakan Kaelen semakin kuat, tetapi ia juga tahu, semakin kuat cahaya itu bersinar, semakin besar bayangan yang ngikutinya. Eryon nanti. Saat yang tepat akan datang, dan saat itu tiba, Kaelen akan milih—njadi pahlawan, atau njadi sesuatu yang jauh lebih ngerikan.

You are reading The Shattered Light Chapter 37: – Perpecahan yang Halus on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.