Font Size
15px

Pagi itu, matahari masih tertutup kabut tipis ketika Kaelen keluar dari tenda. Udara dingin nyelusup hingga ke tulang, namun pikirannya jauh lebih berat daripada suhu pagi itu. Ia lihat Balrik berbicara dengan beberapa pemimpin kelompoknya, sentara Varrok tengah ngecek perlengkapan pasukan.

Kaelen berjalan ndekat. Varrok noleh dan ngangguk singkat. "Kita bergerak dalam dua jam. Balrik akan mbagi kekuatan njadi tiga regu. Kita mimpin satu regu bersama beberapa orang kepercayaannya."

Kaelen ngangguk. "Ke mana tujuan kita?"

"nyerang pos penjaga Ordo di perbatasan selatan. Itu salah satu titik suplai utama reka. Jika kita berhasil rebutnya, jalur logistik reka akan terganggu."

Sebelum Kaelen sempat respons, Balrik nghampiri. Tatapan tajam pria itu ngiris keheningan di antara reka.

"Kaelen," panggil Balrik. "Aku ingin kau mbuktikan sesuatu hari ini. Aku ingin tahu apakah kata-katamu semalam hanya bualan atau kau benar-benar punya kekuatan untuk mimpin."

Kaelen neguk ludah. "Apa yang harus kulakukan?"

Balrik lipat tangannya. "Aku akan ngutusmu mimpin serangan pendahuluan. Kau akan mbawa sepuluh orang, termasuk beberapa orangku. Kau harus mastikan gerbang pos itu terbuka untuk regu utama. Jika kau gagal, kami semua bisa mati."

Kaelen natap Varrok, ncari persetujuan. Varrok ngangguk pelan. "Ini kesempatan untuk ndapatkan kepercayaan reka."

Kaelen nghela napas panjang. Ia tahu ini bukan hanya tentang mbuktikan diri kepada Balrik, tetapi juga pada dirinya sendiri. Dan di balik itu, ada ketakutan—bahwa ia mungkin terpaksa nggunakan kekuatan itu lagi.

Dua jam kemudian, Kaelen berdiri di depan sepuluh prajurit. Di antaranya, ada pria dengan bekas luka di pipi, yang mperkenalkan dirinya sebagai Rhal. Wajahnya keras, penuh skeptisis.

"Aku tak percaya dengan pemimpin muda," kata Rhal dingin. "Tapi Balrik mberimu kesempatan. Aku akan nilai dengan mataku sendiri. Jika kau ragu di tengah jalan, aku yang akan ngambil alih."

Kaelen nahan emosinya. "Jika aku ragu, kau boleh nebasku di tempat. Tapi sampai saat itu tiba, aku pemimpin di sini."

Rhal nyeringai samar. "Baiklah. Kita lihat nanti."

Perjalanan nuju pos perbatasan berlangsung sunyi. reka nyusuri jalur sempit di sepanjang bukit, nghindari jalan utama. Kaelen berjalan di depan, diikuti Rhal dan prajurit lainnya. Serina, Lyra, Darek, dan Aria tetap berada di kamp utama bersama Varrok.

Ketika reka tiba di dekat pos, Kaelen ngamati situasi. Pos itu dikelilingi pagar kayu tinggi, dengan dua nara penjaga di setiap sisi. Enam prajurit Ordo Cahaya berjaga di luar, sentara lebih banyak terlihat berpatroli di dalam.

"Bagaimana caramu mbuka gerbang itu?" bisik Rhal.

Kaelen berpikir cepat. "Kita ciptakan pengalihan. Kita bakar gudang penyimpanan di sisi timur. Saat reka panik, kita serang gerbang barat. Jika reka lengah, aku dan dua orang masuk ke dalam untuk mbuka palang gerbang dari dalam. Sisanya nunggu tanda serangan."

Rhal natapnya lama. Akhirnya ia ngangguk. "Baik. Aku akan ngurus pembakaran. Kau pastikan gerbang itu terbuka."

Kaelen mberi isyarat kepada dua prajurit untuk ikut bersamanya. reka rayap ndekati pagar kayu. Jantung Kaelen berdegup kencang. Ia rasakan bisikan kekuatan itu lagi. Tawaran kekuatan instan untuk nghancurkan segalanya. Tapi ia nolak.

Asap mulai mbumbung dari sisi timur. Prajurit Ordo Cahaya panik, sebagian berlari nuju api. Kaelen manfaatkan kekacauan itu untuk lompati pagar bersama dua rekannya. reka mbungkam seorang penjaga yang lengah, lalu bergerak nuju palang gerbang.

"Cepat," bisik Kaelen.

reka ngangkat palang berat itu perlahan. Suara kayu berderit mbuat Kaelen tegang. Saat gerbang mulai terbuka, Rhal dan pasukan lainnya nerjang masuk.

Pertempuran pecah. Kaelen ncabut pedangnya, nghadapi seorang prajurit Ordo yang nyerangnya. reka saling beradu pedang dengan keras. Kaelen hampir terdesak, tapi ia nghindar dan nusuk lawannya di perut.

Napasnya mburu. Ia lihat Rhal bertarung dengan garang, mbuktikan dirinya sebagai pejuang tangguh.

Akhirnya, pos berhasil direbut. Beberapa prajurit Ordo tewas, sisanya larikan diri. Rhal berjalan ndekat, napasnya berat, wajahnya penuh darah.

"Aku akui, kau bukan cuma bocah. Kau pemimpin," kata Rhal sambil nepuk bahu Kaelen.

Kaelen ngangguk, rasa lega sekaligus lelah. Namun di balik kenangan itu, ia tahu ini baru permulaan. Bisikan gelap masih ada, semakin kuat. Ia sadar, pertempuran sesungguhnya bukan hanya lawan Ordo Cahaya, tetapi juga lawan dirinya sendiri.

Saat reka kembali ke perkemahan, Balrik nyambut reka dengan anggukan puas. Varrok tersenyum tipis, sentara Serina dan Lyra natap Kaelen dengan bangga bercampur khawatir.

Di kejauhan, di balik pepohonan, Eryon mperhatikan dengan mata penuh minat. Ia tahu, semakin dalam Kaelen langkah ke peperangan, semakin besar kemungkinan ia tergelincir ke dalam kegelapan yang selama ini ditakutinya.

You are reading The Shattered Light Chapter 36: – Ujian Kepercayaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.