Malam mulai nyelimuti perkemahan Balrik ketika Kaelen dan kelompoknya duduk lingkar bersama pemimpin pasukan pemberontak itu. Api unggun di tengah reka ngusir dinginnya udara lereng bukit, tetapi kehangatan yang ditawarkannya tak mampu ncairkan ketegangan di udara.
Balrik duduk bersila, matanya tajam natap Varrok yang baru saja selesai maparkan rencana reka. Beberapa pemimpin pasukan Balrik ikut hadir, termasuk pria dengan bekas luka di pipi yang sebelumnya ngancam reka di perbatasan. Tatapan reka dingin, ncerminkan hidup yang keras di bawah penindasan Ordo Cahaya.
"Rencana kalian berani," Balrik akhirnya bersuara, suaranya berat. "Tapi, apa jaminannya ini bukan hanya mbawa kematian bagi orang-orangku? Ordo Cahaya lebih kuat dari sebelumnya. Dan aku tak lihat apa yang bisa kalian tawarkan selain tekad dan dendam."
Kaelen rasakan tatapan Balrik beralih kepadanya. Ia tahu, beban pembuktian ada di pundaknya. Napasnya dalam, ncoba ngendalikan ketegangan di dadanya.
"Kami mungkin hanya sekelompok kecil," Kaelen mulai bicara, suaranya tegas skipun dalam hatinya getar. "Tapi kami mbawa sesuatu yang lebih dari sekadar dendam. Kami mbawa harapan. Kami telah lawan Ordo Cahaya. Kami tahu kelemahan reka. Dan kami tahu ketakutan reka. reka takut pada persatuan orang-orang seperti kita. reka takut pada api yang mulai kita nyalakan."
Balrik nyipitkan mata. "Harapan saja tak cukup untuk ngalahkan reka. Apa kau punya kekuatan untuk benar-benar numbangkan reka?"
Kaelen terdiam sejenak. Ia tahu apa yang dimaksud Balrik. Ia tahu kekuatan gelap dalam dirinya bisa njadi jawaban, tetapi ia juga tahu harga yang harus dibayar. Setiap kali ia manggil kekuatan itu, sebagian dari dirinya nghilang.
"Aku punya sesuatu... kekuatan yang bisa mbalikkan keadaan," kata Kaelen akhirnya, lebih hati-hati. "Tapi kekuatan itu... miliki harga yang mahal. Aku hanya akan nggunakannya ketika benar-benar dibutuhkan."
Balrik ngamati Kaelen dengan tatapan penuh selidik. Seolah ia lihat lebih dalam ke dalam jiwa pemuda itu. Sejenak keheningan nyelimuti. Api unggun berderak perlahan, bayangan wajah-wajah reka bergoyang di cahaya temaram.
Serina yang duduk di samping Kaelen rasa jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu betul apa yang dimaksud Kaelen dengan harga yang mahal. Setiap kali kekuatan itu digunakan, Kaelen kehilangan bagian dari dirinya—bagian dari kenangannya. Ia takut Kaelen akan kehilangan segalanya.
"Kami tak minta kalian bertarung demi kami," Varrok angkat bicara lagi. Suaranya penuh ketegasan seorang pemimpin. "Kami ingin bertarung bersama. Ini bukan hanya perang kami, Balrik. Ini perang semua orang yang nginginkan kebebasan. Kita bisa kalah jika sendiri, tapi bersama... kita punya peluang."
Balrik nghela napas panjang. Ia lirik ke arah para pemimpinnya, yang sebagian ngangguk, skipun masih tampak keraguan di wajah reka. reka tahu, peperangan lawan Ordo Cahaya bukan sekadar pertempuran pedang—ini perang yang akan nghabisi siapa saja yang lemah hati.
"Baiklah," Balrik akhirnya berkata. "Kami akan berjuang bersama kalian. Tapi aku ingin satu hal jelas. Jika kita mulai perang ini, tak ada jalan mundur. Kita semua harus siap mati."
Kaelen ngangguk mantap. "Kami sudah siap sejak lama. Kami tak punya apa-apa lagi untuk hilang."
Suasana mulai sedikit ngendur. Percakapan beralih ke strategi lebih rinci. reka mbahas pos-pos Ordo Cahaya yang harus dijatuhkan, rute penyusupan, dan titik pertemuan pasukan. Varrok dengan cekatan ngatur peta yang digelar di atas tanah. Darek sesekali mberi masukan tentang jalur-jalur hutan yang lebih aman, sentara Aria ncatat dengan cepat.
Saat perundingan berlangsung, Kaelen sesekali lirik Lyra yang duduk tak jauh darinya. Gadis itu tampak lelah, tetapi ia tetap ndengarkan dengan saksama. Serina di sisi lain lebih banyak nunduk, sesekali ncatat, tetapi Kaelen bisa rasakan ada sesuatu yang ngganggunya. Tatapan Serina sesekali nerawang, seolah pikirannya layang ke tempat lain.
Malam semakin larut. Setelah semua rencana disusun, Balrik mbubarkan pertemuan. Para pemimpin pasukan kembali ke tenda masing-masing, nyisakan Kaelen dan kelompoknya.
Saat reka berjalan nuju tenda yang disediakan, Serina ndekati Kaelen.
"Apa kau yakin bisa ngendalikan kekuatan itu?" tanyanya lirih, suaranya nyaris seperti bisikan yang hanya reka berdua yang bisa dengar.
Kaelen terdiam sejenak sebelum njawab. "Aku harus bisa. Jika tidak, semua ini sia-sia. Kita semua akan mati."
Serina nundukkan kepala, nahan kekhawatiran yang terus mbayangi hatinya. Ia ingin percaya pada Kaelen, tetapi ia tahu betapa rapuh batas antara kekuatan dan kehancuran.
Di kejauhan, di puncak bukit yang gelap, sepasang mata ngamati reka. Eryon berdiri di sana, seperti bayangan yang tak pernah pergi. Senyumnya tipis, penuh arti. Ia tahu, persekutuan ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan ia nanti saat di mana Kaelen kembali tergoda untuk nggunakan kekuatannya—saat di mana kehancuran sejati akan dimulai.
Angin malam berhembus mbawa desau samar, seperti nyanyian kematian yang perlahan mulai ndekat.
Reviews
All reviews (0)