Kabut pagi perlahan nipis saat Kaelen dan kelompoknya lanjutkan perjalanan lewati jalur setapak yang nanjak. Udara masih terasa dingin, nusuk kulit, namun keringat mulai mbasahi tubuh reka akibat ketegangan dan kelelahan. Setiap langkah terukur, setiap gerakan penuh kewaspadaan.
Setelah berjam-jam berjalan, reka tiba di sebuah celah sempit di antara dua tebing tinggi. Varrok ngangkat tangan mberi isyarat berhenti. Matanya tajam nyisir sekeliling.
"Ini batas wilayah kelompok Balrik," bisik Varrok. "reka dikenal keras dan curiga pada orang asing. Kita harus nunjukkan niat baik."
Kaelen rasakan jantungnya berdegup lebih cepat. reka berada di ambang pertemuan penting—mungkin awal terbentuknya kekuatan baru, atau akhir dari perjalanan reka.
Serina ndekat ke Kaelen. "Apa kau siap?" suaranya lembut, tetapi penuh kekhawatiran.
Kaelen natapnya dan ngangguk. "Aku harus siap. Kita semua harus."
Varrok langkah maju, ngangkat tangannya sebagai tanda damai. "Kami datang untuk bertemu Balrik. Kami mbawa tujuan yang sama—lawan Ordo Cahaya. Kami ingin bicara."
Hening. Tak ada jawaban.
Tiba-tiba, dari balik bebatuan dan semak-semak, beberapa pria bersenjata muncul dengan busur terarah ke reka. Wajah-wajah reka keras, penuh curiga. Salah satu dari reka, bertubuh kekar dengan bekas luka di pipi, langkah maju.
"Apa bukti bahwa kalian bukan mata-mata Ordo?" suaranya serak.
Varrok narik napas dalam. "Aku pernah bertemu Balrik di dan pertempuran tiga tahun lalu. Kami bertarung bahu-mbahu lawan penjaga Ordo di Benteng Arhel. Aku adalah Varrok. Jika dia masih ngingatku, dia tahu aku tak berbohong."
Pria itu natap Varrok lama, nimbang-nimbang. Lalu, ia mberi isyarat kepada anak buahnya untuk nurunkan senjata.
"Ikut kami. Satu kesalahan saja, nyawa kalian taruhannya."
Kaelen dan yang lain saling pandang sebelum ngikuti langkah para prajurit itu. reka dibawa lewati jalur berliku, hingga akhirnya sampai di sebuah perkemahan tersembunyi di lereng bukit. Puluhan pejuang tampak berjaga di sana, sebagian latih pedang, yang lain mperbaiki perlengkapan perang.
Di tengah perkemahan, berdiri seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang disisir ke belakang, dan bekas luka panjang di pelipis. Tatapan matanya tajam, penuh wibawa. Itulah Balrik.
"Varrok..." Balrik ngangguk pelan. "Aku ngira kau sudah mati."
Varrok tersenyum tipis. "Belum. Tapi hampir."
Balrik tertawa kecil, ski jelas ada kelelahan di balik tawanya. "Apa yang mbawamu ke sini?"
Varrok natap Kaelen sesaat sebelum njawab. "Kami ingin mbentuk aliansi. Ordo Cahaya semakin kuat dan kejam. Kami tak bisa lawan reka sendirian. Kami butuh bantuanmu, Balrik. Demi kebebasan yang kita perjuangkan bersama."
Balrik terdiam sejenak. Ia ngamati wajah satu per satu anggota kelompok Varrok. Tatapannya berhenti lebih lama di Kaelen, seolah nilai sesuatu yang tak terlihat.
"Kau terlihat berbeda, anak muda," ujar Balrik pada Kaelen. "Apa yang mbuatmu bertarung?"
Kaelen ngangkat wajahnya. Kenangan akan desa yang terbakar dan kedua orang tuanya yang tewas terlintas sejenak. Suara ibunya yang semakin hilang dari ingatannya nggema samar.
"Aku bertarung karena aku kehilangan segalanya. Dan aku tak ingin orang lain ngalami hal yang sama." Suaranya tegas, namun ada getar kesedihan di dalamnya.
Balrik ngangguk pelan, tampaknya puas dengan jawaban itu.
"Baik. Aku akan ndengarkan rencana kalian. Tapi ketahuilah... jika kalian ngkhianati kami, tak ada tempat bersembunyi di dunia ini yang bisa nyelamatkan kalian."
Kaelen ngangguk mantap. "Kami paham."
Varrok mulai njelaskan garis besar rencana reka. Serina ncatat beberapa hal, sentara Lyra sesekali lirik Kaelen dengan cemas. Darek dan Aria mperhatikan setiap gerak-gerik para prajurit Balrik.
Matahari mulai condong ke barat. Di bawah cahaya redup itu, benih persekutuan mulai tumbuh. Namun di kejauhan, di balik bayangan tebing, Eryon masih ngamati, dengan senyum samar di wajahnya. Ia tahu, semakin Kaelen langkah maju, semakin ia ndekati jurang kehancuran dirinya sendiri.
Angin lembah berdesir, mbawa firasat akan peperangan yang semakin dekat.
Reviews
All reviews (0)