Font Size
15px

Fajar perlahan nyingsing, mbelah kabut tipis yang nyelimuti lembah. Udara dingin nusuk kulit, sentara embun mbasahi dedaunan di sepanjang jalan setapak. Kelompok Kaelen bersiap ninggalkan tempat peristirahatan reka. Wajah-wajah reka tampak lelah, namun sorot mata penuh kewaspadaan tak pernah padam.

Varrok berdiri di depan, matanya nyapu jalur nuju Lembah Curam. Lembah itu terkenal berbahaya, penuh perangkap dan tempat persembunyian para pengintai Ordo Cahaya. Setiap langkah yang salah bisa njadi akhir hidup reka.

"Kita masuk ke wilayah musuh. Jangan ada suara berlebih. Tetap rapat," ucap Varrok pelan.

Kaelen ngangguk. Serina, Lyra, Darek, dan Aria segera mbentuk barisan di belakangnya. reka bergerak hati-hati nuruni jalur berbatu yang curam. Batu-batu kecil sesekali bergeser di bawah kaki reka, nimbulkan bunyi lirih yang cukup mbuat jantung berdegup lebih cepat.

Pepohonan lebat nutupi sinar matahari, mbuat lembah itu tampak muram. Tak ada suara burung atau gerisik binatang. Keheningan yang ncurigakan mbuat Kaelen semakin waspada. Perasaan seakan diawasi terus nghantuinya.

Setibanya di dasar lembah, Varrok ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti. Ia berlutut, ngamati tanah dengan saksama.

"Jejak kuda... baru saja lewat," gumamnya. "Pengintai Ordo. reka tak jauh."

Kaelen rasakan bulu kuduknya remang. Seketika, dorongan kekuatan gelap di dalam dirinya bangkit, berbisik pelan, nawarkan perlindungan dan kekuatan. Namun, ia nolaknya. Bukan sekarang.

"Kita berputar ke jalur barat," kata Varrok.

reka ngikuti jalur sempit di antara tebing dan semak berduri. Napas reka tertahan, tiap helaan udara terasa berat. Mata dan telinga reka waspada nangkap gerakan sekecil apa pun.

Tiba-tiba, suara derap kuda ndekat. Varrok ngangkat tangan, mberi tanda untuk tiarap. reka bersembunyi di balik rimbunan semak.

Dua prajurit Ordo Cahaya lintas perlahan. Armor reka berkilauan samar. Salah satu prajurit turun dari kudanya, ngamati sekeliling dengan curiga.

Kaelen nahan napas. Serina nggenggam busurnya erat, tangan Lyra getar di gagang belatinya, sentara Darek bersiap dengan kapaknya.

"Aku rasa ada sesuatu di sini," ujar prajurit itu.

Suasana negang. Jika reka ditemukan, pertarungan tak terhindarkan. Namun, sebelum prajurit itu bergerak lebih jauh, suara burung gagak cah keheningan.

"Kita buang-buang waktu," kata prajurit lain. "Ayo kembali."

reka naik ke kuda dan berlalu. Baru setelah langkah kuda njauh, Kaelen berani narik napas panjang.

Setelah yakin aman, Varrok mberi isyarat untuk lanjutkan perjalanan. reka bergerak diam-diam hingga ncapai sebuah perkemahan kecil yang tampaknya baru saja ditinggalkan.

Kaelen berjongkok, riksa sisa abu api. "Baru semalam," ucapnya.

Varrok ngangguk. "Bisa jadi Balrik dan anak buahnya. Kita semakin dekat."

Namun, Serina nemukan sesuatu di balik semak. Sebuah simbol matahari bersilang terukir di batu—lambang Ordo Cahaya.

"reka juga sudah sampai ke sini," kata Serina cemas.

Kaelen berdiri. Dadanya sesak. Bukan hanya bahaya yang makin dekat, tetapi juga ketakutan akan dirinya sendiri. Ia tahu, jika dipaksa lagi nggunakan kekuatan itu, ia akan kehilangan serpihan kenangan berharga. Sudah terlalu banyak yang hilang, dan ia takut takkan tersisa apa pun selain kehampaan.

Varrok natap kelompoknya. "Kita harus lebih hati-hati. Lembah ini bukan tempat untuk lengah. Kita sudah masuki tanah kematian."

Serina nggigit bibir, berusaha nutupi kekhawatiran. Lyra ncoba tersenyum pada Kaelen, tapi matanya tak bisa nyembunyikan rasa takut. Darek dan Aria mpererat genggaman pada senjata reka.

Kaelen mandang ke arah jalur yang akan reka tempuh. Setiap langkah semakin ndekatkan reka kepada Balrik, tetapi juga semakin njerumuskan reka ke dalam bahaya yang tak kasatmata.

Dan di antara bayangan pepohonan di kejauhan, Eryon berdiri diam. Mata tajamnya ngikuti pergerakan reka, bibirnya lengkung tipis. Ia tahu, waktu yang dinantinya semakin dekat. Saat Kaelen jatuh ke dalam kegelapan, saat itulah kekuatan sejati bocah itu akan bangkit. Itu adalah mon yang ia tunggu-tunggu.

Perjalanan Kaelen dan kelompoknya baru saja masuki babak yang lebih matikan.

You are reading The Shattered Light Chapter 33: – Jejak Darah di Lembah Curam on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.