Kelompok Kaelen lanjutkan perjalanan nyusuri jalur sempit di tengah hutan yang semakin gelap. Udara malam mulai nggigit, sentara suara burung hantu nggema, nciptakan irama kesunyian yang ncengkram. Kabut tipis nyelimuti pepohonan, mpertebal rasa waspada yang telah lekat di tubuh reka sejak pertemuan terakhir dengan prajurit Ordo Cahaya.
Kaelen berjalan di depan bersama Varrok, sesekali bertukar pandang dengan pemimpin reka itu. Tidak ada kata-kata yang keluar, tetapi beban yang sama terpancar di antara reka. Darek dan Aria ngikuti di belakang, sedangkan Lyra dan Serina njaga posisi tengah, di dekat Kaelen. ski telah berjanji saling percaya, keheningan reka berbicara sebaliknya—masing-masing masih mbawa keraguan dan ketakutan.
Setelah nempuh perjalanan hampir satu jam, reka tiba di sebuah celah bebatuan yang ngarah ke lembah tersembunyi. Varrok mberi isyarat berhenti. Ia neliti sekeliling dengan tatapan tajam.
"Kita istirahat di sini," katanya lirih. "Tapi tetap waspada."
reka berjongkok di balik semak lebat. Kaelen duduk di atas akar besar, punggungnya bersandar pada batang pohon tua. Pandangannya terlempar ke langit yang mulai dipenuhi bintang-bintang pucat. Udara dingin malam itu mbuat napas reka terlihat seperti asap tipis.
Lyra duduk di sebelahnya, luk lututnya. "Apa kau rasakan sesuatu... seperti dia ngawasi?" bisiknya.
Kaelen tahu siapa yang dimaksud—Eryon. Sosok itu telah ninggalkan jejak ketakutan yang sulit dihapus. "Ya," jawab Kaelen pelan. "Aku rasa dia selalu ngawasi."
Serina duduk agak jauh, diam-diam mperhatikan Kaelen dan Lyra. Hatinya terasa perih lihat kedekatan reka. Kenangan masa kecil di desa kembali muncul di benaknya—saat Kaelen mbantunya ncari kalung milik ibunya yang hilang di ladang gandum. Kala itu, Kaelen berlari ke sana kemari di antara batang-batang gandum yang tinggi hingga akhirnya nemukan kalung itu. Ia nyerahkannya sambil tersenyum lebar, seolah kenangan kecil itu adalah segalanya. Serina rasa aman di dekatnya, seakan Kaelen akan selalu ada untuk lindunginya. Namun, kini semuanya terasa berbeda. Sosok Kaelen yang dulu njadi sandarannya perlahan njauh, dan Lyra terlihat mulai ngisi ruang yang dulu hanya dimilikinya. Serina berusaha ngusir rasa itu, tetapi cemburu terus nggerogoti hatinya seperti duri yang nusuk perlahan.
"Kita harus bicara soal apa yang akan kita lakukan selanjutnya," Varrok cah keheningan.
Darek ngangguk. "Serangan terhadap pos sudah mbuat kita njadi target utama. reka pasti akan nggandakan penjagaan di setiap titik."
"Kita butuh sekutu," kata Aria tiba-tiba. "Bayangan Malam mang mulai bangkit, tetapi kita hanya sekelompok kecil. Jika ingin nggulingkan Ordo Cahaya, kita tak bisa berjuang sendirian."
Kaelen renung sejenak. Kata-kata Aria ada benarnya. Namun, ncari sekutu di tengah tekanan seperti ini bukan hal mudah. "Aku setuju... Tapi, siapa yang bisa kita percaya?"
Varrok nghela napas. "Ada beberapa kelompok pejuang di wilayah barat. reka nolak tunduk pada Ordo Cahaya. Aku pernah bertemu salah satu pemimpin reka—Balrik. Orangnya keras, tetapi setia pada kebebasan. Jika kita bisa ncapai reka, mungkin kita bisa mbentuk aliansi."
Serina tampak berpikir. "Perjalanan ke barat lewati lembah Curam. Itu wilayah berbahaya, banyak mata-mata Ordo berkeliaran di sana."
Kaelen natap satu per satu wajah rekannya. Ia lihat keteguhan di mata reka, ski kelelahan tak bisa disembunyikan. "Kita tak punya pilihan lain. Jika kita terus bergerak tanpa dukungan, kita hanya akan njadi buruan sampai satu per satu dari kita mati."
Lyra natap Kaelen penuh kekhawatiran. "Kaelen... aku tahu kau kuat, tapi... aku takut kehilanganmu."
Kaelen natapnya dalam-dalam. Ada kehangatan di balik sorot matanya, tetapi juga luka yang tersembunyi. "Aku juga takut kehilangan kalian. Itu sebabnya kita harus tetap bersama. Dan aku... aku akan lawan kekuatan ini. Aku tidak akan mbiarkannya ngambil lebih banyak dari yang sudah diambil."
Serina nunduk, hatinya semakin berat. Kata-kata Kaelen negaskan posisinya, tetapi di saat yang sama mbuatnya sadar bahwa perasaannya mungkin hanya akan njadi beban.
Varrok berdiri. "Baik. Kita bergerak saat fajar. Bersiaplah."
reka berdiam diri beberapa saat, nikmati kehangatan kebersamaan yang perlahan mulai kembali, ski retakan masih ada.
Kaelen natap api kecil yang reka nyalakan, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Bayangan kekuatan gelap yang ngalir dalam dirinya terus nghantui. Setiap percikan api ngingatkannya pada kobaran amarah saat ia kehilangan kendali. Ia bertanya-tanya, berapa lama lagi ia bisa lawan bisikan itu? Sampai kapan ia bisa njaga jiwanya tetap utuh sebelum kegelapan sepenuhnya nelannya? Ia takut—takut bahwa suatu hari ia akan bangun dan tidak lagi ngenali siapa dirinya, atau lebih buruk lagi, ndapati orang-orang yang ia cintai telah njadi korban dari tangannya sendiri. Ia sadar, perjalanan ke barat bukan hanya untuk ncari sekutu. Itu adalah perjalanan untuk nemukan jawaban—tentang kekuatan gelap di dalam dirinya, tentang apa yang bisa ia lakukan untuk lindungi reka, dan tentang seberapa besar ia harus rela ngorbankan dirinya sendiri sebelum semua ini berakhir.
Di kejauhan, di atas puncak tebing yang diterpa angin dingin, sepasang mata ngintai dari kegelapan. Eryon berdiri tegak, mantel hitam panjangnya berkibar tertiup angin malam. Pandangannya tajam, nembus kegelapan seperti pemangsa yang tengah ngamati mangsanya. Dalam benaknya, ia nimbang-nimbang langkah selanjutnya—mbiarkan reka tumbuh kuat dalam keputusasaan, atau nghancurkan reka saat hati reka masih rapuh. Bibirnya nyeringai samar, nikmati kenyataan bahwa perlahan, Kaelen akan jatuh lebih dalam ke dalam cengkeraman kegelapan. Eryon berdiri diam, seperti bayangan yang nyatu dengan malam. Ia tersenyum tipis, ngetahui bahwa permainan ini baru saja dimulai.
Reviews
All reviews (0)