Kelompok Kaelen bergerak lebih jauh ke dalam hutan setelah pertempuran itu, namun ketegangan yang mbebani reka tak kunjung reda. Langkah-langkah kaki reka di atas dedaunan kering terasa semakin berat, seolah bayangan kematian ngikuti di belakang. Matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, nciptakan siluet kelam yang mperkuat rasa was-was.
Varrok mimpin dengan sikap lebih waspada dari biasanya. Matanya nyisir setiap sudut, sentara tangan kanannya tak pernah jauh dari gagang pedangnya. Darek dan Aria tetap di belakang, njaga formasi, tetapi sorot mata reka ncerminkan kelelahan bercampur kecemasan. Serina berjalan di samping Kaelen, namun jarak di antara reka terasa lebih jauh dari sebelumnya. Lyra, di sisi lain Kaelen, sesekali lirik ke arahnya, seakan ingin mastikan bahwa pemuda itu masih bersamanya—secara fisik maupun batin.
Setelah nempuh perjalanan selama beberapa jam, Varrok akhirnya mberi isyarat untuk berhenti. reka tiba di sebuah ceruk kecil yang tersembunyi di balik bebatuan besar, tempat yang cukup aman untuk beristirahat. Udara dingin mulai nusuk, seiring kabut tipis perlahan rayap di sela pepohonan.
Saat semua duduk, suasana sunyi mbekap reka. Hanya suara napas berat dan desir angin yang nemani. Kaelen duduk bersandar pada batu besar, pandangannya kosong natap tanah. Dalam benaknya, sisa-sisa kenangan ibunya terus nghilang, seperti pasir yang terbang ditiup angin. Ia ncoba ngingat suara lembut ibunya yang biasa mbangunkannya saat kecil, tetapi hanya gema samar yang tersisa.
"Kita selamat... untuk saat ini," kata Varrok, cah keheningan. "Tapi reka tahu kita di sini. Kita harus bergerak sebelum malam."
Serina mandang Kaelen. "Apa kau yakin baik-baik saja?" suaranya pelan, namun penuh perhatian.
Kaelen ngangguk, ski dalam hatinya ia tahu itu kebohongan. "Aku baik."
Namun, Lyra yang duduk di dekatnya tampak tak percaya. "Kaelen... aku lihat matamu tadi. Itu bukan kau."
Kaelen terdiam. Ia rasakan tatapan semua orang tertuju padanya. Beban itu kian berat. Jantungnya berdetak cepat, seolah nantikan penghakiman.
Varrok, yang biasanya tenang, kini bersuara dengan nada lebih tegas. "Aku tahu kau miliki kekuatan itu, Kaelen. Tapi kau harus bisa ngendalikannya. Jika kekuatan itu mulai ngendalikanmu... kita semua dalam bahaya."
Kaelen ngepalkan tangannya, nahan rasa sakit yang bergejolak dalam dirinya. "Aku tidak pernah ingin nggunakan kekuatan itu. Tapi jika aku tidak nggunakannya, Lyra bisa mati." Suaranya bergetar, nahan emosi yang bercampur antara rasa takut dan bersalah.
Serina nunduk. Ia mahami dilema Kaelen, tetapi ketakutan akan dampak kekuatan itu terus nghantuinya. Dalam benaknya, ia ngingat senyum Kaelen di masa lalu, sebelum kegelapan itu mulai rayapi jiwanya.
"Bagaimanapun, kita adalah satu tim," kata Darek, ncoba ncairkan suasana. "Kaelen, kami hanya ingin mastikan kau tetap bersama kami, utuh."
Kaelen ngangkat wajahnya, natap satu per satu rekan-rekannya. Ada ketulusan dalam mata reka, namun juga kekhawatiran yang sulit disembunyikan. Ia rasa terasing, seolah jurang antara dirinya dan reka semakin lebar.
Tiba-tiba, Aria berbicara, suaranya getar. "Apa kita benar-benar bisa mpercayai kekuatan itu? Bagaimana jika suatu hari... dia tidak lagi bisa ngendalikan dirinya?"
Pertanyaan itu mbuat semuanya terdiam. Bahkan Varrok pun tak segera njawab. Angin malam bertiup lirih, seakan negaskan ketakutan yang mulai tumbuh di antara reka.
Kaelen berdiri perlahan. "Aku paham jika kalian ragukanku. Aku juga takut... setiap kali aku nggunakan kekuatan itu, aku kehilangan sesuatu yang berharga. Ibuku... suaranya... senyumnya... sekarang hampir hilang dari ingatanku."
Matanya berkaca-kaca. "Aku tidak ingin kehilangan kalian juga. Aku bersumpah akan lawan kegelapan ini. Tapi... aku butuh kalian di sisiku."
Keheningan panjang nyusul. Serina bangkit, ndekat, lalu letakkan tangannya di bahu Kaelen. "Kami bersamamu, Kaelen. Selalu."
Lyra ngangguk, ski wajahnya masih diliputi kekhawatiran. Darek dan Aria saling pandang, lalu mberikan anggukan singkat. Varrok nghela napas panjang.
"Kita semua punya ketakutan masing-masing. Tapi kita juga punya tujuan yang sama. Kita hanya akan nang jika kita saling percaya," kata Varrok tegas.
Kaelen rasa sedikit lega, ski jauh di lubuk hatinya, ia tahu ini baru permulaan. Ia harus mbuktikan pada reka—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia mampu lawan kegelapan dalam dirinya tanpa kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Sore mulai njelang. reka bersiap lanjutkan perjalanan. Namun, retakan kecil di antara reka telah muncul. Dan Kaelen hanya bisa berharap, retakan itu tidak akan njadi jurang yang misahkan reka selamanya. Di kejauhan, burung gagak lintas di langit yang mulai gelap, seolah njadi pertanda bahwa badai yang lebih besar tengah nanti.
Reviews
All reviews (0)