Font Size
15px

Setelah ninggalkan perkemahan pagi itu, langkah Kaelen dan kelompoknya terasa semakin berat. Udara hutan yang biasanya sejuk kini terasa nyesakkan. Ketenangan semu nyelimuti pepohonan, namun di balik itu, reka tahu bahaya ngintai di setiap sudut.

Varrok berjalan paling depan, matanya tajam neliti setiap jejak di tanah. Serina di sisi kanan dengan busurnya siap, sentara Darek dan Aria njaga bagian belakang. Kaelen berada di tengah, diapit oleh Lyra yang sesekali liriknya dengan khawatir.

"Kita harus nghindari jalur terbuka. Ordo Cahaya pasti telah mperkuat pengawasan setelah peristiwa di pos perbatasan," bisik Varrok.

Kaelen ngangguk. ski tubuhnya bergerak, pikirannya terpecah. Pertemuan dengan Eryon terus nghantuinya. Sosok itu seakan njadi bayangan yang selalu mbayang-bayangi setiap langkahnya. Rasa takut akan kekuatan gelap dalam dirinya yang semakin sulit dikendalikan juga makin nguat.

Saat reka lewati celah bebatuan yang sempit, tiba-tiba terdengar suara ranting patah dari kejauhan. Semua berhenti seketika. Napas reka tertahan.

Varrok ngangkat tangannya sebagai isyarat. Serina narik tali busurnya, bersiap nghadapi apa pun yang muncul. Kaelen rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Keringat dingin mulai mbasahi pelipisnya.

Dari balik semak-semak, seorang prajurit Ordo Cahaya muncul. Namun, ia bukan prajurit biasa. Armor hitam ngkilap dengan lambang matahari bersilang tergambar di dadanya. Wajahnya tertutup separuh topeng, tetapi sorot matanya penuh kebencian.

"reka di sini!" teriak prajurit itu.

Dalam sekejap, prajurit lain muncul dari berbagai arah. Kepungan terjadi.

"Bertempur!" seru Varrok.

Pertempuran pecah di tengah hutan. Serina lepaskan anak panah bertubi-tubi, numbangkan dua prajurit yang bergerak ndekatinya. Varrok nangkis tebasan pedang lawan dengan kekuatan penuh, balasannya begitu cepat hingga musuh roboh dalam satu tebasan.

Kaelen bertarung lawan dua prajurit sekaligus. Pedangnya beradu, percikan api mancar. Setiap serangan yang ia lakukan terasa lebih berat. Dorongan kekuatan gelap itu kembali rayap dalam tubuhnya.

"Gunakan aku... Lindungi reka... Akhiri semua ini dengan kekuatanku..." bisikan itu semakin jelas di telinganya.

Kaelen nggigit bibirnya. Ia nolak—tetapi lawannya semakin ndesak. Salah satu prajurit berhasil nggores bahunya. Darah ngucur.

Lyra berteriak, "Kaelen!"

Kaelen ngayunkan pedangnya, nangkis serangan berikutnya. Namun, ia tahu jika terus seperti ini, reka akan kalah.

Ketika salah satu prajurit nghunuskan tombaknya tepat ke arah Lyra, waktu seolah lambat. Kaelen lihatnya dengan jelas. Jika ia tidak bertindak, Lyra akan mati.

Tanpa berpikir panjang, ia mbiarkan kekuatan itu keluar.

Darahnya bergejolak. Mata Kaelen mancarkan cahaya rah gelap. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang tak wajar. Ia nebas tombak prajurit itu, lalu nusuk dadanya dalam satu gerakan.

Prajurit lain terkejut, tetapi Kaelen sudah nerjang. Ia nebas satu demi satu, tanpa ampun. Dalam hitungan detik, hanya tubuh-tubuh tak bernyawa yang tersisa.

Napas Kaelen terengah. Tangannya getar. Rasa dingin njalar ke kepalanya. Ia tahu, ada sesuatu yang hilang lagi.

Ia ncoba ngingat wajah ibunya. Namun kali ini, bukan hanya suaranya yang kabur—senyum ibunya pun mulai mudar. Ia ncoba ngingat mon terakhir ketika ibunya ngusap kepalanya dengan lembut, tetapi yang tersisa hanya kekosongan.

Kaelen terdiam. Dadanya sesak, seakan-akan sebagian dirinya kembali direnggut.

Serina berlari nghampirinya. "Kaelen... kau... kau pakai kekuatan itu lagi?" Suaranya penuh kecemasan bercampur ketakutan.

Lyra natapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau nyelamatkanku... tapi... apa yang kau rasakan?"

Kaelen narik napas panjang, nahan air matanya. "Aku baik... tapi aku kehilangan sesuatu lagi."

Varrok nghampiri reka. "Kita harus pergi. Suara pertempuran ini pasti terdengar jauh. reka akan datang lebih banyak."

Kaelen ngangguk. reka lanjutkan perjalanan dengan langkah berat. Namun, di dalam dirinya, Kaelen tahu ia semakin dekat dengan kehampaan. Setiap kenangan yang diraihnya, selalu diiringi dengan kehilangan yang tak tergantikan.

Serina berjalan di belakang, natap punggung Kaelen dengan perasaan campur aduk. Lyra sesekali noleh ke arahnya, ncoba mastikan Kaelen baik-baik saja, skipun hatinya sendiri dipenuhi ketakutan.

Dan di kejauhan, mata-mata Eryon mungkin sedang ngintai, nyaksikan kejatuhan Kaelen yang perlahan—sedikit demi sedikit, nuju kegelapan yang tak terhindarkan. Bagi Eryon, ini bukan sekadar pengintaian—ini adalah permainan panjang untuk njatuhkan musuh tanpa harus ngangkat pedang sendiri.

You are reading The Shattered Light Chapter 30: – Duri dalam Bayangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.