Font Size
15px

Setelah kepergian Eryon, suasana di antara kelompok Kaelen dipenuhi ketegangan yang nyesakkan. reka lanjutkan perjalanan dengan hati-hati, namun setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Nama Eryon kini nggantung di benak reka, ngukuhkan bahwa musuh yang reka hadapi jauh lebih kuat dan berbahaya daripada yang pernah reka bayangkan.

Malam itu, reka ndirikan perkemahan di antara rerimbunan pohon tua. Nyala api kecil njadi satu-satunya penerang di tengah kegelapan. Suara binatang malam bersahutan di kejauhan, nambah kesan suram. Udara dingin nyusup ke dalam pori-pori, mbuat tubuh reka nggigil, bukan hanya karena suhu, tetapi juga rasa takut yang belum reda.

Varrok duduk bersandar pada batang pohon, matanya ngamati api yang bergetar diterpa angin. "Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang," ucapnya lirih. "Eryon bukan lawan sembarangan. Jika dia sudah mulai nunjukkan dirinya, itu berarti kita telah dianggap ancaman nyata."

Kaelen natap bara api, pikirannya berkecamuk. Ia tahu benar apa yang dimaksud Varrok. Pertemuan singkat tadi sudah cukup mbuatnya rasakan tekanan dari sosok yang begitu kuat dan berwibawa. Namun, lebih dari itu, kata-kata Eryon terus terngiang di kepalanya—tentang seberapa jauh ia bersedia ngorbankan jiwanya. Rasa takut kehilangan dirinya sendiri semakin nyata.

Serina duduk tak jauh darinya. Ia ncoba nenangkan pikirannya, tetapi matanya tak bisa lepas dari Kaelen. Ia bisa lihat perubahan yang perlahan nggerogoti pria itu. Kekhawatirannya makin dalam, bercampur dengan rasa takut akan kehilangan sosok yang diam-diam telah ia cintai. Kenangan tentang masa kecil reka di desa sebelum kehancuran itu terlintas di benaknya. Saat itu, Kaelen selalu njadi sosok pelindung, namun sekarang, ia tampak rapuh ski berusaha nyembunyikannya.

Lyra duduk di sebelah Kaelen, ncoba nawarkan kenyamanan skipun dirinya sendiri diliputi rasa cemas. "Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan, suaranya lembut namun getar.

Kaelen tersenyum samar, ski lelah jelas terpancar dari wajahnya. "Aku baik... setidaknya untuk saat ini."

Namun, dalam hatinya, ia rasa jauh dari kata baik. Setiap penggunaan kekuatannya semakin ndekatkannya pada jurang kehampaan. Suara ibunya yang samar kini terasa seperti angin yang kian njauh. Ia takut, suatu hari ia akan bangun tanpa ngenal siapa pun di sekitarnya. Ia bahkan ncoba ngingat lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ibunya, tetapi hanya potongan nada tanpa arti yang muncul di kepalanya. Itu mbuat dadanya semakin sesak.

"Kita harus punya rencana," kata Darek, cah keheningan. "Serangan ke pos telah mberi peringatan kepada reka. Kita tidak bisa terus bergerak tanpa arah."

Varrok ngangguk. "Tujuan kita jelas. Kita harus lemahkan Ordo Cahaya satu per satu. Tetapi kita tidak bisa nghadapi Eryon dengan kekuatan kita sekarang."

Kaelen ngepalkan tangannya, kukunya nekan telapak hingga hampir berdarah. "Berarti kita harus njadi lebih kuat. Kita tidak bisa hanya berlari. Jika kita ingin nang, kita harus siap mpertaruhkan segalanya."

Suasana sejenak njadi hening. Kata-kata Kaelen mbawa beban yang lebih dalam daripada sekadar keberanian. Serina ngerti, Lyra juga. reka tahu apa yang dipertaruhkan Kaelen setiap kali ia nggunakan kekuatannya. Serina nundukkan kepala, nyembunyikan air mata yang hampir jatuh. Lyra nggenggam tangan Kaelen sejenak, ncoba nguatkan tanpa kata.

Malam berlalu dengan gelisah. Kaelen duduk berjaga hingga fajar njelang. Di dalam dirinya, ia terus berperang lawan suara kegelapan yang semakin sering rayunya. Setiap gerisik dedaunan mbuatnya waspada, seakan-akan Eryon bisa muncul kapan saja.

"Kau butuh aku... Kau tidak bisa lawannya tanpaku... Beri aku kendali... dan kau akan nyelamatkan reka semua..."

Kaelen nutup matanya erat. Ia nolak suara itu, untuk saat ini. Tapi ia tahu, hari itu akan datang—hari ketika ia tak lagi mampu nolak. Bayangan pertempuran besar di masa depan semakin jelas, dan dalam benaknya, ia lihat dirinya berdiri sendirian—tanpa wajah-wajah yang dikenalnya, tanpa suara-suara yang ia cintai. Kosong.

Pagi pun tiba. reka bersiap lanjutkan perjalanan. Di dalam hati masing-masing, reka mbawa ketakutan dan harapan yang saling bertarung. Namun satu hal yang pasti—api perlawanan reka belum padam.

Dan di kejauhan, Eryon mungkin sedang ngawasi, nanti saat di mana Kaelen jatuh ke dalam gelap sepenuhnya. Atau mungkin, ia hanya nunggu Kaelen nyerah—bukan pada pedangnya, lainkan pada kegelapan di dalam dirinya sendiri.

You are reading The Shattered Light Chapter 29: – Nyala Api dalam Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.