Font Size
15px

Langit mulai nggelap saat Kaelen, Serina, dan Lyra lanjutkan perjalanan reka. Peristiwa sebelumnya masih mbekas di benak reka. Kaelen berjalan di depan dengan langkah berat. Suara ibunya yang hilang njadi lubang nganga di hatinya, tetapi ia nutupi rasa sakit itu dengan diam.

Serina sesekali lirik Kaelen, kekhawatiran terlihat jelas di matanya. Sentara itu, Lyra tampak ingin ngatakan sesuatu, namun ragu. Ada jarak yang terasa di antara reka setelah insiden kekuatan gelap Kaelen.

"Kaelen..." Lyra akhirnya bersuara. "Aku... aku ingin berterima kasih. Kau telah nyelamatkan kami."

Kaelen nghentikan langkahnya, noleh. Rahangnya ngeras, berusaha nutupi gejolak dalam dadanya. "Aku hanya lakukan apa yang harus aku lakukan," ucapnya, namun dalam hatinya ia mpertanyakan itu. Apakah benar ia hanya lakukan yang harus dilakukan, atau perlahan-lahan ia mulai bergantung pada kekuatan yang renggut ingatannya? Apakah setiap penyelamatan yang ia lakukan sepadan dengan potongan jiwanya yang hilang?

Serina nimpali, suaranya lebih tajam. "Tapi bagaimana caramu lakukannya? Itu bukan... kekuatan biasa."

Kaelen nghela napas panjang. "Aku tidak tahu pasti. Kekuatan itu... muncul sendiri saat aku terdesak. Tapi aku tahu ada harga yang harus kubayar setiap kali aku nggunakannya."

Serina ngepalkan tangannya. "Harga apa?"

Kaelen terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Aku kehilangan sebagian kenangan tentang ibuku."

Hening. Lyra nutup mulutnya dengan tangan, sentara Serina natap Kaelen dengan mata terbelalak.

"Kau... kehilangan kenangan orang yang kau cintai karena kekuatan itu?" tanya Serina, suaranya bergetar.

Kaelen ngangguk. "Setiap kali aku nggunakannya... aku kehilangan sedikit demi sedikit. Aku takut suatu hari aku akan lupakan semuanya. Varrok, kalian... semua orang. Bahkan sekarang... aku berusaha ngingat suara ibuku, tetapi yang muncul hanya samar-samar. Dulu, aku bisa ndengar nyanyiannya dengan jelas setiap pagi... kini itu seperti dengung jauh yang hampir hilang."

Lyra ndekat, letakkan tangan di lengan Kaelen. "Kami tidak akan mbiarkan itu terjadi. Kau tidak sendirian."

Serina ngangguk, ski dalam hatinya ada perasaan lain yang bercampur aduk. Kekhawatiran, rasa kehilangan, dan juga cemburu lihat kedekatan Kaelen dan Lyra.

Perjalanan reka berlanjut. reka bergerak nuju titik pertemuan dengan Varrok dan yang lain, tetapi Kaelen terus rasa ada yang ngawasi. Setiap bayangan di antara pepohonan mbuatnya waspada.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Varrok muncul bersama Darek dan Aria. Wajah reka penuh kewaspadaan.

"Kami dibuntuti," kata Varrok pelan. "Ordo Cahaya telah ngirim pemburu terbaik reka. Kita harus bergerak cepat."

Kelompok itu bersatu kembali. reka bergerak lewati hutan yang semakin gelap, tetapi ancaman terasa semakin nyata.

Saat reka lewati lembah sempit, Kaelen rasakan kehadiran yang berbeda. Dari kegelapan, sosok tinggi dengan armor hitam dan lambang Ordo Cahaya muncul. Mata tajamnya mancarkan wibawa sekaligus bahaya.

"Kaelen," ucap sosok itu dengan suara dalam dan dingin.

Semua terkejut. Varrok langsung ngangkat pedangnya, Serina nyiapkan busurnya, dan yang lain bersiap bertarung.

"Aku adalah Eryon, Komandan Ordo Cahaya. Aku telah ndengar tentangmu."

Kaelen rasakan darahnya berdesir. Nama itu... nama yang telah lama dibisikan oleh para pejuang kegelapan. Eryon bukan prajurit biasa, ia legenda hidup. Lawan yang ditakuti.

"Aku tidak ingin mbunuhmu hari ini, Kaelen. Aku hanya ingin lihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Kegelapan itu... aku bisa rasakannya. Kau berbeda."

Kaelen nggenggam pedangnya erat. "Aku tidak tertarik dengan permainanmu."

Eryon tersenyum tipis, matanya nyipit dengan sorot penuh percaya diri, bibirnya lengkung seperti seorang pemburu yang baru nemukan mangsanya. Nada bicaranya datar, tetapi ada ketegasan dingin yang nusuk. "Aku akan nunggumu. Kita akan bertemu lagi, di dan yang lebih pantas. Dan saat itu, kau akan nunjukkan padaku seberapa jauh kau bersedia ngorbankan jiwamu."

Dengan langkah tenang, Eryon berbalik dan nghilang dalam bayang-bayang malam.

Keheningan nyelimuti kelompok Kaelen. Napas reka berat, bukan karena kelelahan, tetapi karena kesadaran bahwa musuh sejati kini telah mperhatikan reka.

Kaelen natap ke kegelapan tempat Eryon nghilang. Hatinya diliputi ketakutan dan amarah.

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

You are reading The Shattered Light Chapter 28: – Bayangan dan Cahaya on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.