Font Size
15px

Asap dari pos yang terbakar masih terlihat samar di kejauhan ketika Kaelen dan kelompoknya nyusuri hutan. Matahari mulai tenggelam, nyisakan cahaya temaram yang nembus celah dedaunan. Langkah reka cepat, tetapi setiap derap kaki penuh kewaspadaan. reka tahu, balasan dari Ordo Cahaya hanya soal waktu.

Varrok berjalan paling depan, matanya tajam ngamati jejak di tanah. Serina berada di belakangnya dengan busur yang selalu siaga. Darek dan Aria njaga sisi kiri dan kanan, sedangkan Lyra berjalan di samping Kaelen. Sesekali, Kaelen lirik ke arah Lyra—wajahnya tegang, tetapi tetap berusaha tenang.

"Seberapa jauh kita akan pergi sebelum beristirahat?" tanya Lyra dengan suara pelan.

Kaelen natap Varrok yang tetap fokus ke depan. "Kita terus bergerak sampai malam benar-benar turun. reka pasti sudah ngirim pemburu."

Varrok ngangguk tanpa noleh. "reka tahu jalur ini. Kita harus nghindari titik-titik terbuka. Jika kita lengah, kita mati."

Baru beberapa jam berlalu sejak keberhasilan reka mbakar pos perbatasan, tetapi rasa kenangan itu telah sirna. Sekarang yang tersisa hanya ketakutan akan pengejaran.

Ketika malam akhirnya njatuhkan tirainya, Varrok mberi isyarat berhenti. reka nemukan cekungan kecil di balik bebatuan besar, cukup aman untuk beristirahat tanpa terlihat jelas. Api tidak dinyalakan. Hanya sisa cahaya bulan yang njadi penerang.

reka duduk mbentuk lingkaran, napas berat terdengar di antara kesunyian.

"Besok, kita berpencar njadi dua kelompok," ucap Varrok pelan. "Aku, Darek, dan Aria akan riksa jalur barat. Kaelen, kau bersama Serina dan Lyra nuju jalur selatan. Jika ada sesuatu yang ncurigakan, jangan bertarung. Kembali ke titik ini."

Semua ngangguk, ski ada keraguan di wajah Lyra dan Serina. Kaelen rasakan tekanan yang semakin berat di pundaknya. Ia harus mastikan reka selamat.

Malam itu, Kaelen tak bisa tidur nyenyak. Bisikan gelap yang selama ini nghantuinya kembali muncul.

"Gunakan aku... Lindungi reka... Kau butuh kekuatanku..."

Kaelen ngepalkan tangan. Ia tahu setiap kali ia ngandalkan kekuatan itu, ia akan kehilangan sebagian dari dirinya. Sebagian dari orang-orang yang ia cintai.

Pagi njelang. reka berpisah sesuai rencana. Kaelen berjalan di depan, diikuti Serina dan Lyra. Hutan pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Bahkan suara burung pun jarang terdengar.

"Kaelen, kau yakin ini jalur yang aman?" tanya Serina sambil mperhatikan sekeliling.

"Sebaiknya kita tetap berpegangan pada rencana Varrok," jawab Kaelen. "Jangan keluar dari jalur."

Namun, firasat buruk semakin nguat. Setiap langkah terasa seperti diintai.

Tiba-tiba, dari balik semak, tiga sosok berseragam Ordo Cahaya muncul. reka bersenjata lengkap, wajah reka tertutup kain hitam. Salah satu dari reka nghunuskan pedangnya ke arah Kaelen.

"Serahkan diri kalian, atau mati di tempat."

Serina langsung ngangkat busurnya, tetapi Kaelen ngangkat tangan sebagai tanda agar ia tenang.

"Kami tidak ncari masalah," ucap Kaelen dengan suara datar.

Prajurit itu nyeringai. "Terlambat. Kami sudah ndapat perintah untuk mburu kalian."

Pertempuran pecah seketika.

Serina lepaskan anak panah, ngenai bahu salah satu prajurit. Lyra nghunus belatinya, berusaha lindungi diri. Kaelen nghunus pedangnya, nangkis serangan musuh yang ngarah ke dadanya.

Benturan senjata bergema di tengah hutan. Kaelen nghindar, ngayunkan pedangnya ke arah lawan. Namun, prajurit itu terlalu cekatan. Serangan Kaelen ditangkis, dan tendangan keras nghantam perutnya.

Kaelen terjatuh. Musuh ngangkat pedangnya, bersiap nebas.

Saat itu, suara di dalam kepalanya nggema lebih kuat.

"Gunakan aku... atau reka mati..."

Kaelen lihat sekilas ke arah Lyra yang dikepung dua prajurit. Serina berusaha mbantu, tetapi ia pun terdesak. Detik itu, Kaelen tahu ia tidak punya pilihan.

Ia mbiarkan kekuatan itu keluar.

Seketika, tubuhnya dipenuhi energi gelap. Pandangannya njadi tajam, dan gerakannya lesat lebih cepat dari sebelumnya. Dengan satu tebasan, ia lukai prajurit yang hendak mbunuhnya.

Dua prajurit lain terkejut. Namun, Kaelen bergerak seperti bayangan. Ia nyerang dengan brutal, nebas kaki salah satu prajurit hingga roboh.

Serina dan Lyra hanya bisa nyaksikan dengan mata terbelalak. reka belum pernah lihat Kaelen seperti ini.

Dalam beberapa detik, ketiga prajurit itu tergeletak, berlumuran darah.

Kaelen berdiri di tengah mayat, napasnya terengah. Jantungnya masih berpacu, tetapi rasa kenangan itu lenyap seketika. Sebaliknya, kehampaan nyelimuti dadanya. Ia segera rasakan sesuatu yang hilang—bukan sekadar rasa bersalah karena mbunuh, lainkan kehancuran pada bagian dirinya yang paling rapuh. Ia ncoba ngingat wajah ibunya, senyum lembut yang dulu selalu nyambutnya setiap pagi. Namun, yang muncul hanya bayangan samar. Suara hangat yang pernah njadi pelipur lara di masa kecilnya, kini hilang, seolah tersapu angin. Dadanya sesak, seakan ada lubang yang tak bisa ia tutupi lagi. Ia berusaha ngingat wajah ibunya—tetapi suara lembutnya, suara yang dulu selalu ia ingat, kini lenyap.

Ia tersentak.

Serina ndekat, wajahnya khawatir. Matanya nyiratkan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. "Kaelen... Apa yang baru saja kau lakukan? Itu... bukan kau... Apa yang terjadi padamu?" Suaranya bergetar, antara cemas dan bingung. Ia lirik mayat-mayat yang bersimbah darah di sekitar reka, lalu kembali natap Kaelen dengan was-was. "Aku tak pernah lihatmu seperti itu... Kau... kau baik-baik saja?"

Lyra natapnya dengan campuran rasa syukur dan ketakutan. "Kau... kau baik-baik saja?"

Kaelen nunduk, nyadari harga yang baru saja ia bayar. Dadanya terasa sesak, seolah sebagian dirinya direnggut paksa. Suara ibunya yang dulu hangat kini lenyap, digantikan kehampaan yang ncekik. Ia rasa seperti berdiri di ambang jurang, semakin dekat pada kehilangan semua yang ia cintai. Jika ini baru awal, bagaimana jika ia terus nggunakan kekuatan itu? Apakah suatu hari ia akan lupakan semuanya—Varrok, Serina, Lyra? Apakah kenangan benar-benar sepadan dengan harga ini? Dengan suara lirih, ia akhirnya berkata, "Aku baik... Kita harus pergi."

reka lanjutkan perjalanan dengan hati berat. Kaelen tahu, ini baru permulaan. Setiap langkah ke depan, ia semakin jauh dari orang yang dulu ia kenal sebagai dirinya sendiri.

You are reading The Shattered Light Chapter 27: – Pemburu di Balik Kabut on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.