Font Size
15px

Pagi nyapa dengan hawa dingin yang nusuk tulang. Kaelen mbuka mata, natap langit yang mulai cerah. Di sekitarnya, rekan-rekannya masih terlelap, kecuali Varrok yang sudah berjaga di ujung tebing. Suara angin nggoyang dedaunan tipis, mbawa bisikan samar yang mbuat Kaelen sadar, hari ini akan njadi awal yang baru dalam perjuangan reka.

"Sudah waktunya bergerak," ujar Varrok ketika Kaelen nghampirinya.

Kaelen ngangguk. reka akan nuju pos perbatasan Ordo Cahaya hari ini. Itu adalah target pertama reka—penyerangan awal untuk nunjukkan bahwa Bayangan Malam telah bangkit lawan tirani cahaya.

Saat sarapan seadanya selesai, Varrok ngumpulkan semua.

"Kita akan nyerang pos penjagaan di perbatasan utara. Itu titik strategis untuk nghambat pergerakan Ordo Cahaya ke desa-desa sekitar. Kita harus cepat, tepat, dan senyap. Kesalahan sekecil apa pun bisa mbawa kematian. ngerti?" ucap Varrok tegas.

Semua ngangguk. Sorot mata reka dipenuhi tekad. Ketegangan nyelimuti udara di antara reka.

Perjalanan nuju pos makan waktu setengah hari. reka bergerak lalui jalur-jalur tersembunyi yang hanya diketahui penduduk lama. Sesekali, Kaelen lirik Lyra dan Serina. Keduanya tampak tegang, tetapi tetap fokus. Kaelen tahu, misi ini berbahaya, dan kesalahan kecil bisa renggut nyawa. Lyra nggenggam gagang belati di pinggangnya erat-erat, sentara Serina sesekali raba ujung anak panah di tabungnya, seolah mastikan senjatanya siap setiap saat.

Ketika reka tiba di titik pengamatan, pos Ordo Cahaya terlihat jelas di bawah sana. Sebuah bangunan batu sederhana dengan nara pengawas. Enam prajurit berjaga di luar, dan kemungkinan lebih banyak di dalam.

Varrok mberi isyarat. "Serina, kau urus penjaga di nara. Darek, Aria, siapkan pengalih perhatian. Kaelen, kau ikut aku. Kita habisi yang di pintu depan. Semua paham?" reka ngangguk tanpa suara.

Serina ngangkat busurnya. Nafasnya ditahan, fokus. Anak panah dilepaskan, tepat ngenai leher penjaga di nara. Tubuhnya roboh tanpa suara, jatuh ke bawah tanpa sempat mperingatkan siapa pun.

Darek dan Aria mulai lempar batu ke sisi lain pos, nciptakan bunyi-bunyian yang mbuat dua prajurit bergerak riksa. reka mbawa obor, terlihat waspada namun tidak nduga ada bahaya besar.

"Sekarang!" bisik Varrok.

Kaelen dan Varrok nerjang. Pedang Kaelen nebas prajurit pertama di leher. Darah hangat nyembur ngenai tangannya. Varrok nusuk lawannya di dada, mbuatnya jatuh seketika dengan mata terbelalak.

Teriakan tertahan terdengar. Dua prajurit yang tersisa berbalik, namun Serina kembali lesatkan anak panah, newaskan satu lagi. Kaelen berhadapan dengan prajurit terakhir. reka saling bertukar serangan. Pedang beradu. Kaelen rasakan kekuatan gelap dalam dirinya kembali bergetar, minta dilepaskan. Bisikan itu muncul lagi di benaknya, njanjikan kenangan cepat.

"Tidak..". Ia nahan dorongan itu.

Dengan gerakan cepat, ia nghindar dan nusuk perut lawannya. Prajurit itu ambruk dengan erangan lirih.

Sunyi.

reka berkumpul di tengah pos. Semua prajurit telah dilumpuhkan. Napas reka terengah. Mata masing-masing saling natap, mastikan semua baik-baik saja.

Varrok riksa bangunan. Tidak ada yang tersisa. Ini kenangan kecil, tetapi berarti besar. Itu adalah langkah pertama reka dalam mbangkitkan harapan bagi rakyat yang tertindas.

Kaelen berdiri di tengah genangan darah. Ada rasa puas, namun juga kekosongan yang nyusup. Ia natap tangannya yang berlumuran darah, bertanya-tanya apakah ini mang jalan yang harus ia tempuh.

Lyra nghampirinya. "Kau baik-baik saja?" suaranya lembut, penuh kekhawatiran.

Kaelen natapnya, lalu tersenyum kecil ski dalam hatinya bergejolak. "Ya. Kita berhasil."

Serina lihat reka dari kejauhan. Ada kelegaan di wajahnya, tetapi juga kegelisahan yang ia simpan sendiri. Setiap kali lihat kedekatan Kaelen dan Lyra, hatinya semakin berat.

Saat reka bersiap mbakar pos sebagai tanda pemberontakan, Kaelen rasakan sesuatu yang ganjil. Sebuah kilasan wajah ibunya lintas di pikirannya—namun samar, seperti mulai mudar. Senyumnya yang dulu begitu jelas, kini seperti dilapisi kabut.

Ia tertegun.

Apakah itu dampak dari kekuatan gelap yang terus nggoda dirinya? Atau hanya ketakutan yang lahir dari dendam berkepanjangan?

Api mulai mbakar bangunan. Asap mbumbung tinggi. Itu adalah sinyal bagi Ordo Cahaya bahwa perlawanan telah dimulai.

Kaelen natap api itu. Perasaan lega bercampur cemas nuhi dadanya. Ia tahu, ini baru awal. Balas dendam telah nuntunnya sejauh ini, tetapi harga yang harus dibayar mungkin lebih besar dari yang ia bayangkan.

Perjalanan balas dendam ini baru saja dimulai.

You are reading The Shattered Light Chapter 26: – Serangan ke Pos Perbatasan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.