Font Size
15px

Matahari mulai runduk di ufuk barat, warnai langit dengan semburat jingga yang perlahan berubah kelam. Langkah kaki Kaelen dan kelompoknya semakin lambat. reka telah berjalan sepanjang hari, njauh dari lokasi pertempuran sebelumnya. Namun, bayang-bayang ketakutan masih ngikuti di setiap derap langkah.

Varrok berhenti di sebuah dataran kecil di pinggir jurang. Pepohonan di sekeliling mulai jarang, mperlihatkan hamparan lembah yang terbentang luas di bawah reka. Udara mulai terasa dingin, angin bertiup mbawa bisikan lembut yang ngingatkan reka akan kerapuhan hidup.

"Kita akan bermalam di sini," kata Varrok. Suaranya tegas, namun ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan. Garis-garis di wajahnya semakin jelas, nunjukkan beban yang ia pikul selama ini.

Darek dan Aria segera mulai ngumpulkan kayu untuk perapian. Serina riksa sekitar dengan busur siap di tangan, sedangkan Lyra mbantu ngatur perlengkapan. Kaelen berdiri di tepi jurang, natap ke kejauhan. Ia bisa lihat asap tipis dari desa yang jauh, mungkin sisa-sisa kampung yang dibakar Ordo Cahaya. Kepulan asap itu seolah njadi pengingat akan luka lama yang belum sembuh.

"Kaelen," panggil Lyra pelan.

Ia noleh. Lyra mbawa sepotong roti dan air. "Makanlah. Kau butuh tenaga."

Kaelen ngambilnya dengan anggukan singkat. reka duduk bersama di dekat perapian yang mulai nyala. Api kecil itu seolah njadi pelindung dari kegelapan yang perlahan nyelimuti hutan.

Varrok duduk di sebelah Kaelen. "Aku tahu pikiranmu tak tenang. Tapi ingat, kita butuh kepalamu tetap jernih. Jangan biarkan rasa bersalah atau amarah nguasaimu."

Kaelen natap bara api. "Aku tahu. Tapi terkadang... aku rasa itu satu-satunya yang mbuatku tetap berdiri."

Serina bergabung, duduk di seberang reka. "Kita semua punya alasan untuk berdiri di sini. Tapi jika kita hanya hidup untuk mbalas dendam... apa yang tersisa untuk kita nanti?"

Hening sejenak. Hanya suara kayu yang berderak terbakar.

Darek ncoba ncairkan suasana. "Setelah semua ini selesai... aku ingin kembali ke desaku. mbuka bengkel besi kecil. Mungkin mbuat pedang, tapi untuk perlindungan, bukan untuk mbunuh."

Aria tersenyum tipis. "Aku ingin punya ladang kecil... dan keluarga. Aku ingin anak-anakku bermain bebas tanpa rasa takut."

Lyra nunduk, suaranya lirih. "Aku hanya ingin... hidup tenang. Tanpa ketakutan. mbangun kembali rumah yang hancur, mungkin di tepi sungai. Dengan seseorang yang kucintai."

Kaelen ndengar semua itu. Di balik kelelahan dan luka, harapan kecil masih ada di hati reka. Ia nyadari, reka berjuang bukan hanya untuk ngalahkan Ordo Cahaya, tapi untuk kehidupan setelah itu. Kehidupan yang sederhana, jauh dari peperangan.

Serina nambahkan, suaranya agak bergetar. "Aku... ingin kembali ke ladang keluargaku. nanam gandum lagi... dan mungkin lihat senyum adikku skipun hanya dalam mimpi."

Kaelen rasa dadanya sesak. Ia lihat reka semua sebagai lebih dari sekadar pejuang. reka adalah manusia dengan harapan, impian, dan kehilangan yang reka pikul.

Malam semakin larut. Satu per satu reka berbaring, ncoba ncuri istirahat di tengah ketidakpastian.

Kaelen tetap terjaga, berjaga di tepi perapian. Matanya natap nyala api, tetapi pikirannya jauh. Ia tahu Eryon belum nyerah. Musuh itu ngintai, nunggu saat yang tepat.

Dan di dalam dirinya, suara itu masih berbisik.

"Aku bisa mbuatmu lebih kuat... Lindungi reka... dengan kekuatanku..."

Kaelen ngepalkan tangan. Ia tahu, hari itu akan datang—hari di mana ia harus milih.

Di bawah langit penuh bintang, Kaelen berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan lawan. Bukan hanya musuh di luar sana, tapi juga kegelapan di dalam dirinya.

Apa pun yang terjadi, ia akan lindungi reka.

Namun, malam itu, ia juga mulai sadar... jika hari itu tiba, mungkin perlindungan yang ia janjikan harus dibayar dengan kehilangan kenangan yang paling ia hargai.

You are reading The Shattered Light Chapter 25: – Senja di Balik Bayang-Bayang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.