Setelah semalaman bergelut dengan dinginnya sungai dan kelelahan yang nyiksa, Kaelen dan kelompoknya kembali napaki hutan lebat. Kabut masih nyelimuti pepohonan, nciptakan bayangan samar yang mbuat reka semakin waspada. Suara gemuruh sungai perlahan njauh di belakang reka, digantikan oleh kesunyian yang negangkan.
Varrok berjalan paling depan, mata tajamnya terus ngamati sekeliling. Darek dan Aria berjaga di sisi kiri dan kanan, sentara Serina rapatkan busurnya, siap ngangkatnya kapan saja. Lyra berada di samping Kaelen, langkahnya tertatih, tetapi ia berusaha njaga ketenangan.
"Bagaimana bahumu?" tanya Lyra pelan, rujuk pada luka yang Kaelen dapatkan dalam pertempuran sebelumnya.
Kaelen noleh, ncoba tersenyum. "Masih bisa bergerak. Aku lebih khawatir tentang kalian."
Lyra nghela napas. "Aku baik... untuk saat ini."
Perjalanan reka semakin nanjak, masuki jalur berbatu yang licin karena embun pagi. Setiap langkah harus hati-hati. Varrok tiba-tiba ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti. Semua nahan napas.
"Apa itu?" bisik Serina.
Varrok nunjuk jejak kaki yang samar di tanah basah. Tidak banyak, tetapi cukup jelas bagi mata seorang pemburu.
"reka masih di sekitar sini," gumam Varrok. "Pengintai atau mungkin lebih..."
Kaelen rasakan ketegangan rambat di tulangnya. Eryon pasti belum nyerah. reka diikuti—dan itu berarti bahaya bisa muncul kapan saja.
"Haruskah kita berbalik?" tanya Darek dengan suara rendah.
Varrok nggeleng. "Tidak. Kita terlalu jauh masuk. Mundur berarti mberi reka kesempatan untuk ngepung kita. Kita lanjut... tapi lebih hati-hati."
reka lanjutkan perjalanan, kali ini lebih lambat. Setiap dahan yang patah, setiap gesekan daun, mbuat jantung Kaelen berdetak lebih cepat. Ia tahu musuh ada di sekitar, ski tak terlihat.
Beberapa jam kemudian, reka ncapai sebuah cekungan lembah kecil yang tertutup rapat oleh pepohonan. Di sana, Varrok mutuskan untuk berhenti sejenak.
"Kita perlu rencanakan langkah selanjutnya," kata Varrok. "Jika reka benar-benar ada di sekitar, kita harus bersiap."
Kaelen duduk di atas batu, natap langit yang tertutup dedaunan. Ia rasa tubuhnya lelah, tetapi pikirannya lebih lelah lagi. Setiap langkah yang diambil terasa seperti tarikan nuju jurang gelap yang tak terlihat.
Serina duduk di sebelahnya. "Aku tahu kau mikul beban besar... Tapi jangan biarkan itu nghancurkanmu."
Kaelen natapnya, ndapati kekhawatiran yang tulus di mata Serina. Ia ingin njawab, ingin ngatakan bahwa ia baik-baik saja, tapi kata-kata itu terasa seperti kebohongan.
"Kau tahu aku akan lindungi kalian," ujar Kaelen akhirnya.
Serina tersenyum tipis, ski matanya masih nyimpan kecemasan. "Dan kami juga akan lindungimu, Kaelen. Kita bersama dalam ini."
Obrolan reka terputus ketika Varrok tiba-tiba berdiri, ekspresinya tegang. Ia ndengar sesuatu—suara langkah kaki, samar namun ndekat.
"reka datang," bisik Varrok.
Kaelen bangkit, ncabut pedangnya. Yang lain juga bersiap. Napas reka tertahan. Dari balik pepohonan, muncul prajurit Ordo Cahaya, bersenjata tombak dan pedang ringan. reka terkejut lihat kelompok Kaelen, tetapi segera ngangkat senjata.
"Habisi reka!" seru salah satu prajurit.
Pertempuran pecah seketika. Varrok nghadapi dua prajurit sekaligus, tebasannya cepat dan matikan. Darek dan Aria saling lindungi punggung, nangkis serangan tombak musuh. Serina lepaskan anak panah dengan presisi, nembus dada salah satu prajurit.
Kaelen berhadapan dengan prajurit terakhir. Pedang reka saling beradu, percikan api beterbangan. Kaelen lancarkan serangan bertubi-tubi, maksa lawannya mundur. Namun, prajurit itu terlatih, mampu nangkis dengan cekatan.
Dorongan kekuatan gelap itu muncul lagi dalam tubuh Kaelen. Suara berbisik di kepalanya.
"Gunakan aku... Akhiri reka... Selamatkan orang-orangmu..."
Kaelen ngeraskan rahangnya. Ia nahan dorongan itu, milih ngandalkan kekuatan dirinya sendiri. Dengan gerakan cepat, ia nghindari tusukan lawan, lalu mbalas dengan tebasan lurus ke perut prajurit itu.
Darah segar ngalir. Prajurit itu terjatuh, ngerang kesakitan sebelum akhirnya diam.
Ketika pertempuran berakhir, tubuh-tubuh musuh tergeletak di tanah. Kaelen natap tangannya yang berlumuran darah. Ia nang, tetapi perasaan hampa kembali nyelimuti dadanya.
"Kita harus segera pergi. Suara pertempuran ini bisa narik lebih banyak musuh," ucap Varrok.
Semua ngangguk. reka ngambil barang-barang dengan cepat dan lanjutkan perjalanan, njauh dari tempat itu.
Kaelen berjalan di barisan belakang. Di dalam dirinya, pertempuran lain terus berlangsung—antara kekuatan yang ia tolak dan rasa takut kehilangan orang-orang yang ia cintai.
Lyra berjalan ndekat, natap Kaelen dengan lembut. "Kau tak apa-apa?"
Kaelen tersenyum samar. "Aku baik... selama kalian baik."
Lyra nggenggam tangannya sesaat, mberi kekuatan dalam diam.
Langkah demi langkah, reka bergerak di ambang bahaya. Dan Kaelen tahu, semakin jauh reka langkah, semakin dekat pula ia pada hari di mana ia harus milih—antara kekuatan... atau kenangan.
Reviews
All reviews (0)