Fajar nyingsing perlahan di balik perbukitan, nyinari lembah tempat Kaelen dan kelompoknya beristirahat semalam. Udara pagi mbawa embun segar, tetapi ketenangan itu segera pudar saat Varrok ngamati jejak samar di tepian sungai.
"Jejak ini baru," gumam Varrok, suaranya rendah namun tegas. Ia berjongkok, nyentuh tanah yang masih sedikit basah. "Seseorang lewati sini semalam... atau dini hari."
Kaelen yang berdiri di sampingnya ikut ngamati. "Ordo Cahaya?"
"Mungkin. Tapi ini langkah ringan. Bisa saja pengintai," jawab Varrok.
Suasana riang malam sebelumnya berganti njadi waspada. Darek dan Aria segera riksa periter, sentara Serina naikkan busurnya, bersiap untuk segala kemungkinan. Lyra berdiri di dekat Kaelen, kedua tangannya ngepal untuk nahan kegugupan.
"Kita harus bergerak," ucap Varrok. "Terlalu berisiko netap lebih lama."
Perjalanan reka lanjutkan ke arah hutan yang lebih rapat. Kabut tipis nggantung di antara batang pohon tua. Suara burung hutan yang biasanya njadi pengiring pagi terasa berkurang. Setiap langkah terasa diawasi, seolah mata-mata tersembunyi ngintai dari balik dedaunan.
Kaelen berjalan di samping Lyra. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya pelan.
Lyra tersenyum kecil, ski wajahnya nyiratkan kegelisahan. "Aku baik. Hanya... aku mulai mahami kenapa kalian semua tampak begitu tegar. Hidup seperti ini... penuh bahaya di setiap sudut."
Kaelen ngangguk. "Tapi di antara semua itu, ada hal-hal yang mbuat kita tetap berjalan."
Tatapan reka bertemu sejenak sebelum suara gerisik mbuat reka kembali siaga.
Varrok ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti. Di kejauhan, samar-samar terlihat bayangan beberapa sosok. reka bergerak perlahan, ngenakan jubah abu-abu dengan lambang cahaya rah samar di dada.
"Pengintai Ordo Cahaya," bisik Serina.
Kaelen rasakan darahnya berdesir. Tangan kanannya raba gagang pedang di pinggang. Namun, Varrok mberi isyarat untuk mundur.
"Kita belum siap untuk bentrokan. Jangan gegabah," ucapnya tegas.
reka ngendap-endap mundur, njauhi jalur para pengintai. Namun, salah satu pengintai tampaknya nangkap gerakan reka. Ia noleh, kemudian mberi isyarat kepada rekannya.
"Lari!" seru Varrok.
Kelompok itu segera berlarian di antara pepohonan. Anak panah lesat, nghantam batang pohon di sekitar reka. Kaelen rasakan jantungnya berpacu, tetapi kakinya terus berlari. Lyra berada di belakangnya, dan ia sesekali noleh untuk mastikan ia baik-baik saja.
Tiba di sebuah tebing curam, reka terhenti. Di bawah, sungai deras ngalir. Di belakang, suara langkah kaki musuh semakin dekat.
"Kita tak punya pilihan," ujar Varrok.
Satu per satu reka lompat ke sungai. Kaelen nggenggam tangan Lyra sebelum lompat bersama. Air dingin mbungkus tubuh reka, arus kuat nyeret ke hilir. Kaelen berusaha mpertahankan kesadarannya, mastikan Lyra tetap bersamanya.
Beberapa nit kemudian, reka terdampar di tepi sungai. Nafas reka tersengal, pakaian basah kuyup. Serina dan Varrok muncul tak lama kemudian, diikuti Darek dan Aria.
"Kita selamat," ujar Darek, ski nadanya lebih seperti yakinkan diri sendiri.
Kaelen natap kelompoknya. reka hidup, tetapi ia tahu pengejaran belum selesai. Mata Eryon mungkin saja sedang ngamati reka dari kegelapan.
Kaelen ngepalkan tangannya. Ia berjanji dalam hati—ia akan lindungi reka, apa pun yang terjadi.
Ketika semua sudah berkumpul, Varrok ngatur napasnya. "Kita istirahat sebentar, lalu lanjutkan perjalanan. Sungai mungkin ngaburkan jejak kita, tapi jangan lengah."
Serina ngangguk, ski tangannya masih getar. Ia natap Kaelen sekilas, seolah ncari kekuatan dalam dirinya. Lyra duduk di samping Kaelen, ncoba ngatur napasnya yang belum stabil.
"Aku tak pernah mbayangkan hidupku akan seperti ini," bisik Lyra.
Kaelen noleh, natapnya dengan lembut. "Tidak ada yang nginginkan ini... Tapi kita harus bertahan."
Lyra tersenyum samar. "Dan aku bersyukur ada kau di sini."
Kaelen hanya ngangguk, ski dalam hatinya ia rasa beban itu semakin berat. Ia tak hanya bertarung lawan musuh di luar sana, tetapi juga lawan kegelapan dalam dirinya sendiri.
Di bawah bayangan perang yang semakin dekat, reka terus berjalan, ncari harapan di antara kegelapan.
Reviews
All reviews (0)