Setelah perjalanan panjang yang dipenuhi ketegangan dan bahaya, Kaelen dan kelompoknya akhirnya nemukan tempat yang aman untuk beristirahat. reka tiba di sebuah lembah kecil yang tersembunyi, dikelilingi pohon-pohon tinggi dan aliran sungai jernih yang mbelah bebatuan. Udara sejuk mbelai wajah reka, mbawa ketenangan yang sudah lama tak reka rasakan. Kicauan burung-burung kecil terdengar samar, nambah kedamaian tempat itu.
Varrok ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti. "Kita bermalam di sini," ucapnya. Suaranya tenang, tetapi penuh kewaspadaan. ski tempat itu tampak aman, naluri Varrok sebagai prajurit tak pernah padam.
Serina segera ncari kayu bakar, sentara Darek dan Aria nata tempat tidur dari dedaunan kering. Lyra duduk di tepi sungai, ncelupkan tangannya ke air dingin, mbiarkan arus lembut nghapus lelah di jemarinya. Ia nyentuh wajahnya, mbasuh sisa debu dan keringat, berharap kesegaran air dapat redakan kepenatannya.
Kaelen berdiri sejenak, ngamati reka satu per satu. Ia lihat kehangatan dalam kebersamaan itu—sesuatu yang hampir dilupakan di tengah peperangan dan dendam. Matanya berhenti pada Lyra. Ada ketenangan yang terpancar dari wajahnya, sesuatu yang mbuat dada Kaelen berdesir.
Ia berjalan ndekati Lyra. "Airnya dingin?"
Lyra tersenyum tipis. "Dingin, tapi nenangkan. Aku hampir lupa rasanya damai seperti ini."
Kaelen duduk di sampingnya. "Aku juga."
reka terdiam, nikmati suara gericik air. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kaelen rasa hatinya sedikit lebih ringan. Namun, di sudut hatinya, ia tahu kedamaian ini hanyalah sentara.
Di dekat api, Serina letakkan kayu terakhir dan nyalakan nyala kecil yang perlahan mbesar. Varrok duduk di sampingnya, ngamati kobaran api dengan pandangan yang sarat pengalaman. "Perjalanan kita masih panjang," katanya pelan, "tapi malam ini... kita beristirahat."
Serina ngangguk, matanya lirik sekilas ke arah Kaelen dan Lyra. Ada rasa yang ia pendam, tetapi malam itu, ia milih untuk nyimpannya sendiri. Hatinya bergetar lihat kedekatan Kaelen dan Lyra, namun ia nutupinya dengan senyum samar.
Saat makanan sederhana selesai disiapkan, reka duduk lingkari api. Obrolan ringan mulai ngisi udara.
"Aku dulu pernah berburu rusa bersama ayahku di hutan seperti ini," cerita Darek sambil tersenyum. "Suatu kali, aku terpeleset masuk lumpur, dan rusa itu malah natapku seolah ngejek sebelum kabur."
Aria tertawa. "Aku bisa mbayangkan wajahmu waktu itu."
"Lalu ibuku nyuruhku ncuci lumpur di sungai yang dinginnya lebih parah dari ini," lanjut Darek, mbuat reka semua tergelak.
Varrok ikut tersenyum, lalu mulai berbicara. "Dulu, ketika aku baru jadi prajurit muda, aku pernah tersesat di pegunungan. Aku berpikir aku akan mati di sana, sampai aku nemukan seorang kakek yang tinggal sendiri di gubuk. Dia mberiku makanan, dan ngatakan satu hal yang selalu kuingat—'Seorang prajurit harus tahu kapan berperang dan kapan diam untuk ndengar dunia.' Aku tidak langsung ngerti waktu itu, tapi sekarang... aku mulai paham."
Serina tersenyum kecil, lalu nambahkan, "Aku ingat masa kecilku. Di desa, aku sering bermain ke ladang gandum bersama adik perempuanku. Kami berlari di antara batang-batang gandum, tertawa hingga lupa waktu. Saat malam tiba, ibuku akan marahi kami, tapi kemudian ia akan nyelimuti kami dengan pelukan hangat."
Suasana hening sejenak, sebelum Serina berkata lirih, "Aku rindu semua itu."
Kaelen ndengarkan semua cerita itu dengan hati yang mulai hangat. Ia noleh ke Lyra, yang natap api dengan tatapan sayu.
"Apa kau punya kenangan seperti itu?" tanya Kaelen.
Lyra terdiam sesaat, lalu berkata pelan, "Aku ingat suara ibuku nyanyi di dapur. Setiap pagi. Lagu sederhana. Aku sering ngeluh karena bosan ndengarnya, tapi... sekarang aku ingin ndengarnya sekali lagi."
Kaelen ngangguk pelan. "Aku juga ingin ndengar suara ibuku lagi."
Percakapan reka reda, digantikan keheningan yang hangat. reka semua nyadari bahwa di balik kekerasan dunia yang reka jalani, ada kerinduan akan rumah—akan kehidupan yang damai.
Malam kian larut. Satu per satu reka tertidur di bawah langit berbintang. Kaelen duduk di dekat api, berjaga bersama Varrok.
"Kaelen," ujar Varrok tiba-tiba. "Apapun yang terjadi nanti... ingatlah malam ini. Kita bukan hanya bertarung untuk nang. Kita bertarung untuk njaga ini—mon-mon seperti ini."
Kaelen ngangguk. Ia mahami maksud Varrok. Perjuangan reka bukan hanya soal mbalas dendam atau ngalahkan musuh, lainkan njaga kehidupan yang sederhana dan damai seperti malam itu. Rasa haru nyusup perlahan ke dalam dirinya. Ia mulai ngerti bahwa kekuatan sejati bukan hanya ada di pedang, tetapi juga di hati yang mampu tetap hangat ski dunia di sekelilingnya mbara.
Angin lembut berhembus, mbelai wajah reka. Untuk sesaat, dunia terasa lebih ringan.
Kaelen natap api yang bergetar pelan, berharap esok hari reka masih bisa bersama, langkah nuju harapan yang belum padam. Ia nengadah natap bintang-bintang, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia berdoa dalam hati. Semoga reka semua pulang dengan selamat.
Reviews
All reviews (0)