Font Size
15px

Dua hari telah berlalu sejak pertemuan Kaelen dengan Eryon. Langit tetap kelabu, seolah alam turut rasakan ketegangan yang mulai rayapi hati reka. Rombongan itu terus bergerak lewati hutan lebat, ninggalkan tebing berbahaya yang njadi saksi pertarungan Kaelen dan Eryon. Namun, ski luka di tubuh Kaelen mulai sembuh, luka di hatinya justru semakin dalam.

Kaelen berjalan paling depan, berusaha nutupi kecamuk dalam dirinya. Rahangnya ngatup rapat, matanya tajam natap ke depan, namun sorotnya nyiratkan ketegangan. Sesekali tangannya ngepal kuat, seakan berusaha nahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Kenangan kecil dalam duel itu tidak nghadirkan rasa puas, justru numbuhkan keraguan baru. Ia tahu, Eryon belum nunjukkan seluruh kekuatannya—sama seperti dirinya yang nahan kekuatan gelap itu.

"Berhenti sebentar," suara Varrok mbuyarkan pikirannya.

reka tiba di sebuah celah sempit yang njadi gerbang alami nuju lembah tersembunyi. Varrok mberi isyarat untuk beristirahat. Serina segera nyiapkan air, sentara Darek mbantu Kael dan Aria mbuat perapian kecil.

Lyra duduk di dekat Kaelen. "Apa yang kau pikirkan?"

Kaelen natapnya, sejenak ingin berkata jujur, tetapi ia nahan diri. "Aku hanya... mikirkan langkah kita selanjutnya."

Lyra remas tangannya lembut. "Aku tahu kau kuat... Tapi kau juga manusia, Kaelen. Kau bisa berbagi beban dengan kami."

Kaelen tersenyum kecil, namun di hatinya ia sadar, ada bagian dari dirinya yang mungkin takkan pernah bisa ia bagi dengan siapa pun—kegelapan itu.

Malam njelang. Udara semakin dingin, dan kabut turun nyelimuti lembah. Saat semua terlelap, Kaelen duduk berjaga di dekat api. Tatapannya kosong, tetapi telinganya waspada.

Serina nghampirinya. "Boleh aku duduk di sini?"

Kaelen ngangguk. reka duduk dalam diam untuk beberapa saat, hanya ditemani suara api yang berderak.

"Aku lihatmu saat lawan Eryon," ucap Serina tiba-tiba. "Ada sesuatu... di matamu. Aku tahu kau nahan sesuatu."

Kaelen negang. "Aku baik-baik saja."

Serina natapnya tajam. "Kaelen, aku mungkin bukan Varrok, tapi aku tahu kau nyimpan sesuatu. Apa itu... tentang kekuatan yang kau sembunyikan?"

Kaelen terdiam. Seketika ia rasa telanjang di hadapan Serina. Namun, sebelum ia njawab, suara gerisik terdengar dari arah semak-semak.

Kaelen langsung bangkit, detak jantungnya berpacu liar, tangannya nggenggam pedang erat hingga buku-buku jarinya mutih. Ia rasakan keringat dingin ngalir di pelipisnya, sentara napasnya berusaha tetap tenang ski dadanya berdebar kencang. Serina ngambil busurnya. reka bersiaga.

Dari balik semak, muncul seorang lelaki tua dengan pakaian compang-camping. Wajahnya dipenuhi luka, dan matanya nyiratkan ketakutan.

"Tolong... tolong aku..." suaranya serak.

Varrok segera terbangun, diikuti yang lain. reka ngelilingi lelaki itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Varrok tegas.

Orang tua itu getar. "Ordo Cahaya... reka mbakar desa kami... reka... reka mbantai semua orang... Aku... aku lari, tapi reka ngejar..."

Kaelen rasakan kemarahan mbakar dadanya. Kenangan pembantaian desanya sendiri kembali nghantui. Ia ngepalkan tinjunya.

"Kapan itu terjadi?" tanya Darek.

"Dua hari lalu... reka... dipimpin seseorang yang kuat... Aku... aku ndengar nama itu... Eryon..."

Semua terdiam. Nama itu lagi.

Varrok nghela napas berat. "reka bergerak lebih cepat dari yang kita duga."

Kaelen natap lelaki tua itu. "Apa ada yang selamat?"

Orang tua itu nggeleng pelan. "Aku... tidak tahu... Aku hanya lari... Aku pengecut..."

Kaelen berlutut, natapnya dalam-dalam. "Bukan pengecut. Kau hidup... Itu berarti kau bisa mberi tahu dunia tentang kekejaman reka."

Mata lelaki itu berkaca-kaca. "Terima kasih... terima kasih..."

Varrok berdiri. "Kita harus bergerak lebih cepat. Jika Eryon benar-benar ada di sekitar sini, berarti kita semua dalam bahaya."

Malam itu, Kaelen kembali duduk di dekat api. Serina masih di sampingnya.

"Kau tahu, Kaelen," bisik Serina. "Aku takut... Bukan hanya pada musuh... Tapi juga pada apa yang akan kau lakukan demi lawan reka."

Kaelen noleh, natap mata Serina yang penuh kekhawatiran. Ia ingin ngatakan bahwa ia juga takut—takut kehilangan dirinya sendiri. Tapi ia hanya berkata pelan, "Aku akan berjuang... untuk kalian". Tapi beban itu semakin berat, Kaelen rasakannya di setiap tarikan napas. Janji ini, janji untuk lindungi reka semua, njadi rantai yang nahan dirinya di tepi jurang. Ia takut suatu hari nanti, ia akan jatuh—dan nyeret semua orang yang ia cintai bersamanya.

Dalam hati, Kaelen tahu. Setiap langkah ke depan mbawanya semakin dekat pada batas yang misahkan dirinya dari kekuatan gelap itu. Dan mungkin, suatu hari nanti, ia harus milih: njadi manusia... atau njadi monster.

You are reading The Shattered Light Chapter 21: – Luka yang Tak Terlihat on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.