Font Size
15px

Langit ndung nggantung rendah saat kelompok Kaelen lanjutkan perjalanan. Rasa perih di bahunya masih tersisa, namun ia maksakan diri untuk tetap kuat. Varrok sesekali liriknya dengan khawatir, tetapi Kaelen hanya mbalas dengan anggukan tegas. Ia tahu, kelemahan sedikit saja bisa njadi celah yang dimanfaatkan musuh.

Di depan reka terbentang jalur sempit di tepi tebing. Di bawahnya, sungai deras ngalir, suaranya bergemuruh. Kabut tipis mbatasi pandangan, mbuat setiap langkah harus dihitung cermat. Udara dingin nusuk, nambah tegangnya suasana.

"Berhati-hatilah. Tempat seperti ini adalah favorit para pemburu Ordo Cahaya," ujar Varrok pelan.

Serina nggenggam busurnya erat. Lyra berjalan lebih dekat dengan Kaelen, seakan takut kehilangan perlindungan dari sosok yang kini njadi sandaran emosionalnya. Kaelen bisa rasakan kehadirannya, dan ski hatinya nghangat, ia juga nyadari tatapan Serina yang penuh kecemasan dari belakang.

Tiba-tiba, sebuah siulan tajam mbelah udara. Panah lesat dari kabut, nghantam batu di samping reka dan nimbulkan percikan kecil.

"Serangan!" teriak Varrok.

Kaelen langsung ncabut pedangnya. Dari balik kabut, beberapa prajurit Ordo Cahaya muncul dengan langkah tegas. reka bersenjata lengkap, bergerak dengan formasi disiplin. Namun, satu sosok ncuri perhatian Kaelen—pria berjubah hitam dengan lambang cahaya rah di dada. Sorot matanya tajam, penuh rasa percaya diri, dan aura kekuasaan nyelimuti tubuhnya.

Kaelen rasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya bereaksi tanpa kendali, kekuatan gelap di dadanya bergetar liar, seakan ngenali bahaya sejati.

"Eryon..." bisik Varrok dengan suara berat. "Itu dia."

Tanpa aba-aba, Eryon maju perlahan, pandangannya lurus pada Kaelen.

"Kalian cukup repotkan," suaranya dalam, penuh wibawa. "Tapi hari ini, aku ingin lihat sejauh mana batasmu."

Kaelen negakkan tubuh, ngangkat pedangnya dengan kedua tangan. "Kalau begitu, datanglah."

Seketika, Eryon lesat. Kecepatannya lampaui dugaan Kaelen. Pedang reka beradu keras, suara dentingan nggetarkan udara. Bentrokan itu nggetarkan tangan Kaelen, kekuatan Eryon luar biasa. Setiap tebasannya bagaikan palu besi yang siap remukkan lawan.

Kaelen mundur selangkah, lalu mbalas dengan tebasan nyilang. Eryon nangkis dengan mudah, lalu lancarkan serangan beruntun. reka saling bertukar pukulan dengan kecepatan tinggi. Percikan api beterbangan saat bilah-bilah pedang reka terus berbenturan.

Suara pertempuran di sekeliling reka seakan nghilang. Dunia hanya nyisakan Kaelen dan Eryon. Setiap langkah Eryon dipenuhi keyakinan, setiap gerakan Kaelen dipacu oleh naluri bertahan hidup.

Bisikan itu muncul lagi di benak Kaelen, kali ini lebih kuat.

"Bebaskan aku... berikan kekuatan... hancurkan dia... Lindungi reka... dengan darah..."

Kaelen nahan napas, nepis suara itu. Ia tahu risikonya. Satu kali saja ia mbiarkan kekuatan itu nguasai, mungkin ingatan tentang orang-orang yang ia sayangi akan terkoyak lagi.

Namun, Eryon seolah mbaca kebimbangannya. Dengan satu gerakan cepat, ia berhasil nggores lengan Kaelen. Darah ngalir hangat.

"Kau nahan diri... itu akan mbunuhmu," ucap Eryon sambil natapnya tajam.

Kaelen rasakan kemarahan bercampur ketakutan. Napasnya mburu, matanya mulai rah. Kekuatan gelap itu semakin maksa keluar.

"Aku tidak akan kalah," gumam Kaelen.

Dengan teriakan penuh tenaga, Kaelen lancarkan serangan balasan. Kali ini, ayunan pedangnya lebih kuat, lebih cepat. Eryon tampak terkejut sesaat. Dentingan pedang reka semakin keras, hingga tanah di bawah kaki reka bergetar.

Kaelen rasakan energinya ningkat, tetapi ia tahu itu bukan hanya kekuatan dirinya—itu kekuatan gelap yang mulai nyusup perlahan. Ia sadar, ia berjalan di tepian jurang.

Eryon mundur beberapa langkah, matanya nyipit. "Kau... narik. Aku bisa rasakan itu... sesuatu dalam dirimu."

Kaelen nahan napas. Ia tahu yang dimaksud Eryon. Ia tahu pria itu rasakan kekuatan gelap yang bersarang di tubuhnya.

Tiba-tiba, Eryon ngangkat tangan, mberi isyarat mundur kepada pasukannya. Prajurit Ordo Cahaya segera narik diri. Suasana kembali sunyi, hanya nyisakan napas berat Kaelen dan detak jantungnya yang nggelegar.

"Kita akan bertemu lagi, Kaelen," ujar Eryon dingin. "Aku ingin lihat sampai di mana batas kekuatanmu. Dan aku akan njadi orang yang ngujinya."

Kaelen hanya berdiri terpaku. Varrok, Lyra, dan Serina segera nghampirinya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Lyra, suaranya bergetar.

Kaelen ngangguk, ski dadanya bergemuruh. "Aku baik... Tapi aku rasakan sesuatu. Dia tahu... dia bisa rasakan apa yang ada dalam diriku."

Varrok mandangnya tajam. "reka akan terus mburumu. Kau bukan hanya ancaman bagi reka... Kau njadi tantangan bagi orang seperti Eryon."

Kaelen natap jauh ke arah kabut yang mulai nelan Eryon dan pasukannya. Di hatinya, ia tahu—pertempuran ini bukan sekadar tentang hidup dan mati. Ini tentang siapa yang akan bertahan lebih lama tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Ia nggenggam pedangnya lebih erat. Jalan di depan semakin gelap, dan harga kenangan mungkin lebih tinggi daripada yang pernah ia bayangkan.

You are reading The Shattered Light Chapter 20: – Duel di Bawah Langit Kelabu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.