Fajar nyingsing perlahan, ngusir kabut tipis yang nyelimuti mulut gua. Kaelen mbuka mata, ndapati tubuhnya kaku karena udara dingin yang nusuk tulang. Di sekelilingnya, yang lain masih terlelap—kecuali Varrok yang sudah duduk bersandar pada batu besar, ngasah pedangnya dengan pelan. Suara gesekan logam terdengar lirih, berpadu dengan gerisik dedaunan yang tertiup angin lembah.
Kaelen bangkit dan berjalan ke arahnya. "Tidurmu nyenyak?" tanya Kaelen lirih.
Varrok nyeringai kecil. "Tidur adalah kewahan yang semakin sulit kita dapatkan."
Kaelen ngangguk, pandangannya nyapu ke arah hutan yang nghitam di kejauhan. Hari ini, reka akan semakin masuk ke wilayah yang jarang dijamah manusia. Bahaya tak hanya datang dari Ordo Cahaya, tetapi juga dari alam liar dan makhluk-makhluk yang bersembunyi di dalamnya.
Saat yang lain mulai bangun, Lyra tampak lebih tenang dibanding malam sebelumnya, ski sesekali masih terlihat gelisah. Serina, sebaliknya, terlihat semakin nutup diri. Ia berbicara seperlunya saja, dan lebih banyak nundukkan wajahnya. Darek, Kael, dan Aria bersiap dengan senjata di tangan, seakan kelelahan tidak pernah njadi alasan untuk lengah.
Perjalanan dilanjutkan. Langkah reka makin pelan karena jalan setapak berubah njadi dan bebatuan curam. Varrok mimpin, sesekali mberi isyarat berhenti ketika ndengar suara ncurigakan. Napas reka pelan, dan percakapan pun nyaris nihil.
Di tengah perjalanan, Kaelen berjalan berdampingan dengan Lyra. "Kau rasa lebih baik?" tanya Kaelen pelan.
Lyra ngangguk. "Aku rasa lebih aman ketika bersamamu."
Kaelen tersenyum, tetapi ia rasakan pandangan Serina dari belakang. Tatapan yang sulit diartikan—antara marah, kecewa, dan mungkin juga sedih. Kaelen tahu, ada sesuatu yang ngganjal dalam hubungan reka bertiga, tetapi ia belum punya keberanian untuk nghadapinya.
Tiba-tiba, Varrok ngangkat tangan. Semua berhenti. Di depan reka terbentang tanah lapang dengan rumput liar tinggi. Sepintas terlihat biasa, tetapi Varrok berjongkok, raba tanah dengan jarinya.
"Ini bukan tanah sembarangan... jebakan," bisiknya.
Kaelen mperhatikan lebih saksama. Ada jejak tali halus yang hampir tak terlihat, terhubung pada pancang-pancang kecil di antara rumput. Tanah lapang itu bukan tempat biasa—ini adalah ladang pembantaian yang dirancang untuk reka yang ceroboh.
"reka sudah mperkirakan jalur kita," ucap Darek dengan nada geram.
"Tidak mungkin kita berbalik. Terlalu jauh," kata Varrok tegas.
"Kita lewati perlahan," usul Kaelen. "Aku akan di depan."
Varrok ngangguk. "Hati-hati. Jangan ada yang gegabah."
Kaelen langkah hati-hati, diikuti yang lain. Setiap pijakan diperhitungkan dengan cermat. Napas reka tertahan. Satu kesalahan kecil bisa micu jerat maut. Angin yang berhembus seolah mbawa bisikan maut.
Saat hampir ncapai ujung tanah lapang, Aria tersandung akar kecil. Kakinya nyentuh tali perangkap. Dalam sekejap, bunyi geretak terdengar. Busur otomatis tersembunyi di semak lepaskan panah beracun.
"Aria, awas!" teriak Darek.
Kaelen bergerak cepat, ndorong Aria ke tanah. Panah itu lesat, ngenai bahu Kaelen. Ia ringis, rasakan racun mulai nyebar. Tubuhnya langsung terasa panas dan kebas.
"Kaelen!" seru Lyra panik.
Varrok segera nariknya ke tempat aman. Serina mbuka kantong obat dan ngeluarkan ramuan penawar. "Tahan napas, ini akan perih."
Kaelen ngangguk. Racun panas njalar di tubuhnya, tetapi ia nahan erangan. Serina ngoleskan ramuan ke luka, sentara Lyra gang tangan Kaelen erat. Kaelen bisa rasakan jemari Lyra bergetar, antara cemas dan ketakutan.
"Kau selalu seperti ini... ngambil risiko untuk orang lain," ujar Lyra lirih.
Kaelen tersenyum samar, ski nahan nyeri. "Sudah tugasku."
Beberapa saat kemudian, rasa sakit mulai reda. reka mutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum lanjutkan perjalanan.
Di kejauhan, tanpa reka sadari, sepasang mata ngawasi. Sosok berjubah gelap berdiri di balik pepohonan. Matanya tajam, penuh rasa ingin tahu. Ia ngamati reka dengan seksama, seolah nghafalkan wajah-wajah itu. Lalu ia berbalik, nghilang ke dalam hutan tanpa suara.
Kaelen rasa dadanya masih panas karena racun, tetapi hatinya lebih panas karena kesadaran baru: musuh reka lebih dekat dari yang reka kira. Dan yang lebih nakutkan, musuh itu tampaknya tahu siapa reka.
Reviews
All reviews (0)