Font Size
15px

Malam itu dingin nusuk tulang. Setelah percakapan hangat di tepi api unggun, kelompok Kaelen ncoba terlelap. Namun, Kaelen sendiri hanya mampu jamkan mata sejenak. Pikirannya penuh oleh wajah Lyra, tatapan Serina, dan bisikan gelap yang kian hari kian nguat. Ia mulai khawatir, apakah kekuatan itu perlahan renggut akal sehatnya.

Ia terbangun saat ndengar langkah ringan. Instingnya segera nyala. Tangan Kaelen rayap ke pisau di pinggangnya. Namun, sosok yang muncul dari kegelapan hanyalah Varrok.

"Kau tidak tidur?" bisik Varrok seraya duduk di sampingnya.

Kaelen nggeleng. "Aku... rasa sulit tidur akhir-akhir ini."

Varrok natapnya lama. "Aku tahu beban di pundakmu berat. Aku pernah muda sepertimu, Kaelen. Amarah itu... keinginan mbalas dendam... itu bisa mbunuhmu lebih cepat daripada musuhmu sendiri."

Kaelen terdiam. Ia ngerti maksud Varrok, tetapi nahan bara dendam itu semakin sulit. Ia rasakan energi dingin bergetar di dadanya, seolah kekuatan gelap itu nertawakan kelemahannya.

"Besok kita masuki wilayah lebih berbahaya. Kau harus kuat. Untuk reka, dan untuk dirimu sendiri," lanjut Varrok.

Kaelen ngangguk. Ia nghormati lelaki itu lebih dari siapa pun, bahkan lihatnya sebagai sosok ayah yang hilang.

Saat fajar nyingsing, reka lanjutkan perjalanan ke barat laut. Udara semakin nusuk, dan hutan semakin pekat. Akar-akar ncuat seperti tangan yang hendak ncengkeram. Kabut tipis layang, ngaburkan pandangan. Suara burung hantu terdengar samar, ngiringi langkah reka.

Lyra berjalan di samping Serina. Percakapan reka minim. Keduanya masih terjebak dalam pusaran perasaan yang belum terselesaikan. Sesekali Kaelen ncuri pandang ke arah reka, rasa terjepit di antara dua hati yang perlahan ngisi kekosongan hidupnya. Ia takut, suatu saat, pilihan yang harus ia buat bisa rusak semua yang sedang reka bangun.

Di tengah perjalanan, Varrok berhenti tiba-tiba dan ngangkat tangannya. Semua langsung runduk. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara langkah kaki banyak orang. Detak jantung Kaelen ningkat, naluri bertarungnya seketika nyala.

"Patroli lagi?" bisik Darek.

Varrok ngamati jejak di tanah yang masih basah. "Tidak... ini bukan patroli biasa. Ini... perburuan."

Kaelen rasakan bulu kuduknya remang. Serina nyiapkan busurnya, sentara Lyra nggenggam belati kecil. Tangan Kaelen secara refleks raba gagang pisau di pinggangnya, tetapi ia juga rasakan dorongan kekuatan itu semakin kencang, seolah berbisik agar dilepaskan.

reka bersembunyi di balik semak lebat, nahan napas. Beberapa nit kemudian, sekelompok prajurit Ordo Cahaya lintas. Namun, yang mbuat reka bergidik adalah sosok di tengah kelompok itu—seorang pria berbaju zirah hitam dengan lambang cahaya rah di dadanya. Tatapan matanya tajam, dan aura di sekelilingnya begitu nekan. Langkahnya tenang, penuh percaya diri, seperti pemburu yang tahu buruannya tak mungkin lolos.

Kaelen belum ngenalnya, namun perasaannya ngatakan pria itu berbeda. Ada sesuatu yang mbuat Kaelen tidak nyaman—seolah kekuatan dalam dirinya respons kehadiran orang itu.

"Siapa dia?" bisik Lyra nyaris tak terdengar.

Varrok njawab pelan, "Aku belum pernah lihatnya. Tapi dia bukan prajurit biasa."

Kaelen ncatat sosok itu di pikirannya, tapi tanpa naruh curiga berlebihan. Baginya, ini hanyalah musuh baru yang suatu hari nanti pasti akan reka hadapi. Ia tak tahu, pertemuan sejati reka masih akan datang.

Setelah pasukan itu njauh, reka lanjutkan perjalanan dengan lebih waspada. Kaelen rasa kekuatan gelap dalam dirinya berdenyut lagi, bereaksi terhadap kehadiran pria tadi. Ia mulai bertanya-tanya, apakah kekuatan ini sekadar alat atau kutukan yang perlahan nelannya hidup-hidup.

Saat sore njelang, reka tiba di sebuah gua kecil di lereng bukit. Varrok mutuskan untuk bermalam di sana. Gua itu sempit, tetapi cukup untuk berlindung. Suhu udara turun, dan rasa lelah mulai nekan tubuh reka.

Saat malam tiba, Kaelen duduk di mulut gua, natap bintang-bintang samar yang tertutup kabut tipis. Lyra nghampirinya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lembut.

Kaelen tersenyum tipis. "Aku hanya... rasa semuanya makin berat. Kadang aku takut aku tidak bisa lindungi kalian."

Lyra letakkan tangannya di pundaknya. "Kau sudah lakukan lebih dari cukup, Kaelen. Kami di sini... karena kau."

Kaelen noleh, natap mata Lyra yang hangat. Hatinya bergetar. Di balik kekerasan dunia yang ia jalani, ada kelembutan yang mulai nyusup ke dalam dirinya. Namun, di sudut gua, Serina lihat reka dalam diam. Lagi-lagi, nyeri itu nghunjam dadanya. Ia nunduk, ngeratkan genggamannya pada busur, rasa asing dengan perasaan lemah yang kian hari semakin tumbuh.

Di dalam kegelapan, Kaelen tahu, bukan hanya musuh di luar sana yang harus ia hadapi. Ada perasaan yang berkelindan, mbentuk bara yang bisa njadi cahaya... atau api yang mbakar segalanya. Dan di dadanya, kekuatan gelap itu berbisik lagi, seolah ngingatkan bahwa harga perlindungan dan cinta bisa jadi lebih mahal dari yang pernah ia bayangkan.

You are reading The Shattered Light Chapter 18: – Bayangan dalam Keheningan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.