Pagi yang dingin nyambut kelompok Kaelen. Sisa-sisa desa yang hancur masih ninggalkan bau anyir darah dan abu yang nyengat. reka mutuskan untuk beristirahat di tepi hutan, cukup jauh dari puing-puing desa, untuk nghindari kemungkinan patroli Ordo Cahaya kembali.
Varrok duduk bersandar pada pohon, raba perbannya. Wajahnya tegar, tetapi Kaelen tahu luka itu lebih dalam dari yang terlihat. Darek berjaga di pinggiran, sesekali mutar kapaknya untuk mastikan keseimbangan. Aria dan Kael duduk berdempetan, saling nguatkan.
Di antara reka, Kaelen, Lyra, dan Serina duduk dalam keheningan yang tegang. Kaelen sesekali lirik Lyra, yang tampak sibuk mandang jemarinya sendiri, seakan ncoba ngalihkan pikirannya. Serina duduk dengan tangan terlipat di dada, pandangannya nerawang ke arah hutan, namun ekor matanya sesekali nangkap kedekatan Kaelen dan Lyra. Udara di antara reka terasa berat, seakan ada sesuatu yang tak terucap, dan setiap gerakan kecil seperti batuk pelan atau helaan napas terdengar lebih keras dari seharusnya. Ada banyak yang ingin dikatakan, tetapi lidah reka seakan terkunci oleh kelelahan dan rasa waspada.
Kaelen akhirnya mbuka suara. "Apa langkah kita selanjutnya, Pak Tua?"
Varrok nghela napas. "Kita nuju barat laut, lebih dalam ke wilayah Bayangan Malam dulu. Ada pos persembunyian lama di sana. Jika masih berdiri, kita bisa berkumpul dengan yang lain."
Lyra tampak lega. "Apa mungkin ada yang selamat?"
Varrok natapnya sejenak, lalu ngangguk. "Harapan selalu ada. Dan kita harus tetap hidup demi itu."
Kaelen natap Lyra. Ada ketenangan di matanya, namun Kaelen bisa rasakan ketakutan itu masih ngendap. Di sisi lain, Serina ngamati interaksi reka dengan pandangan sulit ditebak. Perasaan asing yang mulai nguasai hatinya mbuatnya resah.
Saat matahari mulai naik, reka bergerak kembali. Hutan semakin rapat. Langkah kaki reka nyaris tak bersuara di atas tanah lembab. Namun, setiap kerikan ranting atau suara angin mbuat reka selalu siaga.
Kaelen berjalan di samping Lyra. reka berbicara pelan, lebih seperti ncari penghiburan di tengah ketidakpastian.
"Kau kuat," bisik Lyra.
Kaelen tersenyum kecil. "Aku hanya berusaha bertahan."
Lyra nunduk. "Aku ingin sekuat itu."
Kaelen berhenti sejenak, natapnya. "Kau lebih kuat dari yang kau kira, Lyra. Aku lihat itu setiap hari."
Lyra tersipu, tapi sorot matanya bergetar oleh emosi yang tertahan. Serina yang berjalan tak jauh di belakang reka, ngeratkan genggaman pada busurnya. Perasaan cemburu mulai mbakar hatinya, ski ia berusaha nekannya.
Di tengah perjalanan, Varrok mberi isyarat berhenti. reka semua runduk.
"Lihat itu," bisik Varrok.
Di kejauhan, tampak beberapa prajurit Ordo Cahaya bergerak di antara pepohonan. reka tampak ncari sesuatu—atau seseorang. Wajah-wajah dingin di balik helm baja reka ngingatkan Kaelen pada malam desanya dibakar. Dendam itu nyala kembali di dadanya.
"Kita harus nghindari reka," kata Varrok.
Kaelen ngangguk, ski di dalam dirinya ada suara yang ndesak untuk nyerang. Ia rasakan desakan itu rambat ke seluruh tubuhnya—jantungnya berdetak lebih cepat, otot-ototnya negang. Ada bisikan halus di benaknya, suara yang bukan miliknya, seakan mbujuk: 'Habisi reka... Hancurkan...' Kaelen nggeleng pelan, berusaha ngusir suara itu, tetapi ia tahu kekuatan gelap itu semakin kuat, nanti saatnya ngambil kendali. Ia rasakan kekuatan gelap itu bergetar halus, minta untuk dilepaskan. Namun, ia nahannya.
reka mutar jalur, bergerak lebih hati-hati. Butuh waktu lebih lama, tetapi akhirnya reka berhasil keluar dari area patroli tanpa diketahui.
Saat malam mulai turun, reka ndirikan perkemahan sederhana di bawah naungan pohon besar. Api kecil dinyalakan sekadar untuk nghangatkan tubuh.
Kaelen duduk di samping Lyra, sentara Serina duduk agak njauh. Darek dan Varrok mbicarakan rencana perjalanan esok hari. Aria telah tertidur bersandar pada Kael.
Dalam cahaya api unggun, Kaelen dan Lyra berbicara pelan.
"Kau pernah mbayangkan hidup normal?" tanya Lyra.
Kaelen terdiam sejenak. "Dulu, sebelum semuanya hancur. Sekarang... aku bahkan lupa seperti apa rasanya."
Lyra tersenyum tipis. "Kalau kita nang, kau pikir itu mungkin?"
Kaelen natapnya. "Aku ingin percaya... Tapi kadang aku takut, setelah semua ini berakhir, aku tak punya apa-apa lagi. Semua yang kubangun hanya untuk perang."
Lyra raih tangan Kaelen perlahan. "Kalau kau mau... aku bisa ada di sana, setelah semuanya."
Kaelen rasakan dadanya nghangat, tetapi bersamaan dengan itu, rasa bersalah muncul. Ia lirik Serina yang natap reka sekilas, sebelum ngalihkan pandangannya ke gelapnya hutan.
Kaelen tahu, api sedang nyala di antara reka. Ia mulai rasakan perasaannya terhadap Lyra tumbuh lebih dari sekadar rasa perlindungan. Namun, di sisi lain, ia tak bisa ngabaikan Serina—kehadirannya mberi rasa tenang yang berbeda, ski kini dibalut ketegangan. Kaelen takut, jika dibiarkan, perasaan ini akan cah belah reka, rusak kepercayaan yang begitu sulit dibangun. Di tengah ancaman musuh, perpecahan dari dalam adalah bahaya yang sama matikannya. Dan api itu bisa njadi cahaya... atau mbakar reka semua.
Reviews
All reviews (0)