Kelompok itu bergerak perlahan nuju barat laut, nembus rimbunnya hutan yang terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis nyelimuti jalur yang reka lalui, sentara suara burung-burung liar seolah ngawasi langkah reka. Aroma tanah basah bercampur samar bau abu, ngingatkan Kaelen pada malam desanya dilalap api.
Kaelen berjalan di depan bersama Varrok, ski pria tua itu masih terlihat lelah akibat luka yang dideritanya. Namun, tekad dan ketegarannya tidak luntur sedikit pun. Di belakang reka, Lyra berjalan berdampingan dengan Serina. Keduanya sesekali bertukar pandang, namun kata-kata sulit keluar. Darek njaga barisan belakang, dengan Kael dan Aria berjalan di tengah. Aria tampak masih terguncang, sesekali noleh ke belakang dengan cemas.
Suasana di antara reka lebih tenang dibanding malam sebelumnya, tetapi ketegangan masih terasa. Kematian selalu mbayang di setiap langkah. Kaelen ncoba tetap fokus, namun suara-suara samar dari masa lalunya sesekali nyusup ke pikirannya—jeritan ibunya, suara ayahnya yang manggilnya untuk lari.
Saat matahari mulai ninggi, reka berhenti di sebuah dataran kecil untuk beristirahat. Varrok duduk bersandar pada pohon, ngatur napasnya. Kaelen duduk di sampingnya.
"Bagaimana lukamu?" tanya Kaelen.
Varrok ngusap bahunya yang diperban seadanya. "Bukan yang terburuk yang pernah kuterima. Aku pernah ditusuk lebih dalam di masa mudaku, tapi lihat aku sekarang. Masih hidup. Kau juga akan jadi sekuat itu suatu hari nanti."
Kaelen tersenyum kecil, skipun di hatinya ia masih rasakan kekhawatiran. "Aku berharap aku bisa sekuatmu... dan tetap bisa berpikir jernih. Kadang... aku rasa amarahku terlalu nguasai. Aku takut, Pak Tua."
Varrok natapnya serius. "Itu sebabnya kau butuh teman di sekelilingmu. Orang-orang yang bisa narikmu kembali sebelum kau terjerumus terlalu jauh. Kau ngerti?"
Kaelen ngangguk, ski dalam hatinya ia tahu betapa sulitnya nahan bara dendam yang terus berkobar.
Di sisi lain, Lyra duduk di samping Serina. Hening di antara reka begitu kental hingga hanya terdengar desiran angin dan dedaunan yang berguguran.
"Kau ngenalnya sejak lama, ya?" tanya Lyra tiba-tiba, cah keheningan.
Serina noleh, sedikit terkejut. "Kaelen? Tidak terlalu lama. Tapi... aku rasa aku bisa mpercayainya. Dan kau?"
Lyra terdiam sejenak sebelum njawab. "Dia orang pertama yang mbuatku rasa aman sejak aku kehilangan keluargaku. Aku takut kehilangan dia."
Serina ngangguk pelan, ski di dalam hatinya ada gemuruh perasaan yang sulit ia kendalikan. Ia sadar, Lyra miliki tempat yang spesial di hati Kaelen. Dan entah kenapa, itu lukai dirinya lebih dari yang ia duga. Perasaan itu mbawanya kembali ke kenangan lama—seorang lelaki yang pernah ia cintai, yang terbunuh di depan matanya saat Ordo Cahaya nyerang desanya dulu. Luka itu belum sembuh, dan kini perasaan baru terhadap Kaelen mbuatnya semakin rumit.
Setelah beristirahat, reka lanjutkan perjalanan. Saat njelang senja, reka tiba di dekat desa kecil yang disebut Varrok sebagai tempat perlindungan para penyintas. Namun, yang reka temui hanyalah puing-puing bangunan yang hangus terbakar. Asap tipis masih ngepul dari beberapa sudut, nandakan peristiwa itu belum lama terjadi.
Kaelen ndekat dengan hati-hati. Ia lihat tubuh-tubuh yang berserakan di tanah, beberapa dengan luka bacokan yang kejam. Mata Lyra mbesar, air matanya nggenang. Serina nghela napas panjang, berusaha nahan emosinya.
Varrok ngepalkan tinjunya. "reka ndahului kita. Ordo Cahaya sudah sampai di sini lebih dulu."
Darek nendang batu di dekatnya dengan kesal. "Sampai kapan kita hanya jadi yang tertinggal?"
Kaelen rasakan amarah itu juga. Namun, ia ngingat kata-kata Varrok. Ia narik napas dalam-dalam, berusaha nahan ledakan emosi.
"Kita tetap harus ncari penyintas, siapa tahu ada yang bersembunyi," ucap Kaelen.
reka mulai nyisir reruntuhan. Di balik sebuah dinding yang hampir runtuh, Kaelen nemukan seorang lelaki tua yang terluka parah. Napasnya tersengal.
"reka... datang... tanpa ampun..." kata lelaki itu dengan suara lemah.
Kaelen berlutut. "Siapa? Ordo Cahaya?"
Lelaki itu ngangguk. "Dan... reka... nyebut nama... Eryon..."
Kaelen ncatat nama itu dalam ingatannya, ski belum nganggapnya sebagai ancaman berarti. Nama itu asing baginya. Ia hanya ngira itu salah satu prajurit tinggi Ordo Cahaya, seperti yang lain-lainnya. Fokusnya saat itu hanya pada penyintas dan keselamatan kelompoknya.
Sebelum Kaelen sempat bertanya lebih jauh, lelaki tua itu nghembuskan napas terakhirnya.
Kaelen berdiri perlahan, natap Varrok. "Salah satu pemimpin reka... Eryon."
Varrok ngangguk, wajahnya ngeras. "Kalau begitu, kita harus lebih siap. Dan kita akan mbalas reka... dengan cara kita."
Di antara abu dan mayat yang berserakan, Kaelen berdiri dengan hati yang semakin mbaja. Perjalanan reka baru saja masuki babak yang lebih berbahaya. Namun, di pikirannya, Eryon hanyalah salah satu nama di antara banyak musuh. Ia belum tahu, pertemuannya dengan sosok itu kelak akan ngubah segalanya.
Reviews
All reviews (0)