Udara sore di pos kecil itu terasa lebih berat dari biasanya. Langit kelabu, seolah njadi pertanda bahwa sesuatu yang lebih buruk akan segera datang. Di sekeliling pagar kayu yang mulai lapuk, para prajurit sibuk mperkuat pertahanan. Suara palu nempa besi, kayu dipaku, dan desah napas berat para prajurit bercampur njadi satu. Semuanya tahu, malam ini bisa jadi akhir bagi reka.
Kaelen berdiri di tengah pos, matanya tajam ngamati segala aktivitas. Di dalam dadanya, perasaan waspada bercampur dengan kecemasan yang terus nghantuinya sejak bisikan di hutan. Garel masih berdiri di sudut, ncatat sesuatu di perkan seperti biasa. Namun kini, setiap gerakan Garel terasa lebih ncurigakan bagi Kaelen.
"Kaelen," panggil Varrok, nghampiri dengan langkah tegas. "Kami sudah masang barikade tambahan di sisi timur dan selatan. Tapi kekuatan kita nipis. Jika reka nyerang dalam jumlah besar, kita bisa habis."
Kaelen ngangguk pelan. "Aku tahu. Kita tidak punya pilihan selain bertahan. Kita tidak bisa mundur."
Serina dan Lyra datang mbawa kantung air dan roti kering. Keduanya tampak khawatir, namun berusaha nutupi rasa takut reka.
"Makanlah dulu, Kaelen," ujar Serina lembut.
Kaelen ngambil kantung air itu dan neguknya perlahan.
Lyra berdiri di samping Serina, suaranya lirih. "Apa nurutmu... kita bisa selamat?"
Kaelen terdiam sejenak, lalu natap reka berdua. "Aku tidak tahu. Tapi aku berjanji... aku akan lindungi kalian sampai akhir."
Serina nunduk, nggenggam tangannya erat. Lyra mandang Kaelen, ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ia urungkan. Di dalam hati Kaelen, muncul rasa bersalah. Ia tahu Serina dan Lyra sama-sama peduli padanya, tapi di tengah ancaman ini, perasaannya bercampur aduk antara rasa tanggung jawab dan ketakutan kehilangan reka.
Rhal ndekat, suaranya tegas seperti biasa. "Kaelen, aku ingin berbicara empat mata."
Kaelen ngikuti Rhal ke sudut pos yang lebih sepi. Rhal natapnya dengan serius.
"Aku lihat cara kau natap Garel. Kau curiga padanya, bukan?" tanya Rhal.
Kaelen nghela napas. "Aku tidak yakin. Tapi... ada sesuatu yang nggangguku. Sejak bisikan itu, aku rasa seperti dia tahu lebih banyak daripada yang terlihat."
Rhal ngangguk. "Aku juga rasakannya. Dia selalu ngamati, ncatat, dan tahu banyak hal. Jika dia berkhianat... kita bisa celaka."
Kaelen ngepalkan tangannya. "Tapi kita belum punya bukti. Kita tidak bisa sembarangan nuduh. Itu bisa cah belah kita."
Rhal setuju. "Baik. Tapi kita harus tetap awasi dia. Aku akan berjaga malam ini, pastikan dia tidak bergerak aneh."
Saat reka kembali ke kelompok, Balrik tampak tengah berbicara dengan Varrok.
"Aku lihat sesuatu tadi di luar pagar. Seperti bayangan. Tapi saat aku dekati, hilang," lapor Balrik, napasnya berat.
Varrok ngusap dagunya. "reka sedang ngamati kita. reka nunggu saat yang tepat."
Kaelen rasakan bulu kuduknya berdiri. Musuh ada di luar sana, ngintai. Dan mungkin, musuh juga ada di dalam pos ini.
Malam njelang, dan suasana njadi semakin ncekam. Api unggun dinyalakan di beberapa titik, namun cahaya itu seakan kalah oleh kegelapan yang ngitari hutan. Setiap suara ranting patah mbuat para prajurit tersentak.
Kaelen duduk di dekat api, Serina duduk di sampingnya. Lyra tak jauh dari reka, mperbaiki busurnya.
"Kaelen," bisik Serina. "Apa kau... masih ingat ibumu?"
Kaelen terdiam. Ada kekosongan di kepalanya setiap kali ncoba ngingat sosok ibunya. Wajah itu semakin pudar. Suaranya bahkan sudah hilang.
"Aku... tidak bisa ngingat suaranya lagi," jawab Kaelen pelan, suaranya bergetar.
Serina natapnya iba. Ia nggenggam tangan Kaelen, ncoba mberi kehangatan. Kaelen rasa hangat, tetapi juga canggung. Di seberang api, Lyra lirik reka. Ada nyeri yang tak ia ungkapkan. Hatinya dipenuhi pertanyaan—apa Kaelen mulai milih Serina?
Tiba-tiba, suara jeritan pendek terdengar dari sisi utara pos. Semua langsung bangkit, ncabut senjata.
Varrok berlari ke arah sumber suara, diikuti Kaelen dan Rhal. reka nemukan seorang prajurit terkapar, matanya terbuka lebar, tapi kosong. Tidak ada luka, namun wajahnya pucat seperti kehilangan jiwa.
"Apa yang terjadi?!" tanya Varrok tegang.
Prajurit lain tergagap. "Kami hanya berjaga... dia tiba-tiba jatuh... lalu begitu saja... seperti ini."
Kaelen berjongkok, nyentuh leher prajurit itu. Masih hangat, tapi jiwanya jelas telah pergi.
"Ini sihir kegelapan," gumam Kaelen.
Balrik ndekat, wajahnya rah marah. "Dia berjaga dengan Joren! Kau lihat apa?! Kau pasti tahu sesuatu!"
Joren tersentak. "Aku... aku tidak tahu apa-apa! Aku lihatnya sehat-sehat saja! Aku bersumpah!"
"Cukup!" bentak Kaelen. "Jangan biarkan ketakutan mbuat kita saling nyerang. Kita harus bersatu!"
Namun, percikan kecurigaan sudah nyebar. Beberapa prajurit mulai saling pandang dengan gelisah.
Kaelen berdiri, suaranya tegas. "Tetap waspada! Jangan biarkan ketakutan nguasai kalian! Kita hadapi ini bersama!"
Namun, dalam hatinya, Kaelen tahu... musuh sudah mulai rasuki reka. Dan ia harus nentukan siapa yang bisa benar-benar dipercaya.
Di sudut pos, Garel mperhatikan kejadian itu dengan senyum tipis. Tangannya ncatat sesuatu di perkan, matanya mancarkan sesuatu yang sulit ditebak. Kaelen lihat sekilas, dan rasa curiga itu semakin kuat.
Sebelum kembali ke tendanya, Kaelen narik Varrok ke sudut.
"Aku tak yakin kita bisa bertahan jika kita mulai saling curiga," bisik Kaelen.
Varrok ngangguk. "Aku tahu. Tapi kita harus bersiap. Musuh kita mungkin ada di dalam sini."
Kaelen mandang hutan yang gelap. Di kejauhan, samar-samar, ia lihat cahaya kehijauan berkelebat. Seperti sosok berjubah tinggi. Kaelen berkedip, dan cahaya itu lenyap.
"Apa itu..." gumamnya.
Varrok noleh. "Apa kau lihat sesuatu?"
Kaelen nggeleng. "Mungkin hanya pikiranku yang lelah."
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu—ini baru permulaan.
Reviews
All reviews (0)