Pagi itu, kabut tebal masih nyelimuti pos. Udara dingin nusuk hingga ke tulang. Sisa malam yang penuh ketegangan masih terasa di wajah-wajah para prajurit. Kaelen berdiri di nara pengawas, mandang ke arah hutan yang masih tampak sunyi, skipun ia tahu musuh ada di sana, bersembunyi, ngintai reka.
Varrok naik ke nara, berdiri di sampingnya. Suara kayu berderit di bawah kaki reka.
"Tak ada tanda-tanda gerakan semalam," ucap Varrok pelan.
Kaelen ngangguk. "reka nunggu waktu yang tepat. Tapi kita juga harus siap kapan saja."
Varrok terdiam sejenak. "Aku bicara dengan beberapa prajurit. Beberapa mulai goyah. reka takut ada mata-mata di antara kita. Kejadian semalam mbuat reka makin waspada, tapi juga saling ncurigai."
Kaelen nghela napas panjang. "Aku tahu... Kita harus nenangkan reka. Tapi aku juga tak bisa ngabaikan rasa curiga ini, Varrok. Garel... Aku lihatnya tadi malam, dia berkeliaran di sekitar tenda penyimpanan saat semua orang tertidur. Ketika aku ncoba ndekat, dia langsung pergi, seolah tidak ingin ketahuan. Aku rasa dia tahu lebih banyak daripada yang dia tunjukkan."
Varrok ngangguk, tetapi sebelum reka bisa lanjutkan percakapan, terdengar suara langkah cepat ndekati nara.
Serina datang dengan wajah cemas. "Kaelen, Balrik dan Joren hampir berkelahi. Kau harus turun sekarang."
Kaelen dan Varrok segera turun dari nara. Di bawah, beberapa prajurit berkumpul. Balrik ndorong Joren hingga jatuh ke tanah, wajahnya rah padam.
"Aku tahu kau lihat sesuatu! Kau diam saja, ya?! Apa kau yang mbawa kematian itu ke pos ini?!" teriak Balrik.
Joren bangkit dengan wajah rah karena malu dan marah. "Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak mbunuh siapa pun! Kenapa kau terus nyalahkanku?!"
Kaelen langkah di antara reka, suaranya tegas. "Berhenti! Tidak ada perpecahan di antara kita. Balrik, Joren, kalian sama-sama lelah, tapi ini bukan cara kita. Jika kita mulai saling ncurigai, musuh sudah nang bahkan sebelum nyerang."
Balrik nundukkan kepala, napasnya mburu. Joren natap Kaelen dengan rasa terima kasih bercampur takut.
Kaelen lanjutkan, kali ini dengan nada lebih rendah tapi tajam. "Aku tahu kita semua lelah. Tapi kita harus kuat. Kita harus percaya satu sama lain. Jika ada yang rasa ada sesuatu yang ncurigakan, laporkan padaku atau Varrok. Jangan bertindak sendiri."
Kerumunan perlahan mbubarkan diri. Hanya Serina dan Lyra yang masih berdiri di dekat Kaelen.
Serina naruh tangan di bahu Kaelen. "Kau tak bisa terus nanggung semuanya sendiri. Kami di sini bersamamu." Kaelen rasakan kehangatan dari sentuhan itu, namun bersamaan dengan itu muncul keraguan. Di tengah beban tanggung jawab yang ia pikul, ada perasaan halus yang mulai tumbuh untuk Serina. Namun, pikirannya juga berkelana ke Lyra, ngingat tatapan sayu gadis itu yang kerap ia tangkap diam-diam. Hatinya terbelah, antara tugas sebagai pemimpin dan perasaan yang perlahan ngakar.
Kaelen tersenyum tipis. "Terima kasih, Serina. Aku tahu itu."
Lyra diam, namun sorot matanya penuh kekhawatiran. Ia ingin bicara, ingin nyatakan apa yang ada di hatinya, tetapi suasana di pos ini terlalu suram untuk mbahas perasaan.
njelang siang, Kaelen manggil seluruh prajurit untuk berkumpul di tengah pos.
"Kita tidak tahu kapan musuh akan nyerang, tapi aku ingin kalian semua tahu satu hal. Aku percaya kepada kalian. Kita telah lalui banyak hal bersama. Jangan biarkan rasa takut ngalahkan kepercayaan kita. Jika kita berdiri sebagai satu kesatuan, kita bisa lewati ini."
Prajurit ngangguk, beberapa tampak lebih tenang. Varrok berdiri di samping Kaelen, nunjukkan dukungannya.
Namun, di sudut, Garel masih ncatat sesuatu dengan tenang, sesekali lirik ke arah Kaelen. Tatapan reka sempat bertemu, dan lagi-lagi Kaelen rasakan getaran waspada di dadanya.
Saat matahari mulai condong ke barat, Kaelen berbicara sejenak dengan Varrok di dekat pagar kayu yang mulai lapuk. "Aku akan lakukan patroli kecil di sekitar pos," ucap Kaelen.
Varrok ngangguk, namun wajahnya nyiratkan kekhawatiran. "Berhati-hatilah. Jangan terlalu jauh. Jika ada sesuatu yang ncurigakan, jangan hadapi sendiri. Kembalilah secepatnya. Kita tak bisa kehilanganmu, Kaelen."
Kaelen nepuk bahu Varrok dengan penuh rasa percaya. "Aku ngerti. Aku akan berhati-hati."
Setelah itu, Kaelen mutuskan untuk lakukan patroli kecil di sekitar pos. Ia ngajak Rhal dan dua prajurit lain. reka berjalan perlahan di tepi hutan, langkah reka hati-hati.
"Lihat ini," bisik Rhal sambil nunjuk jejak kaki samar di tanah.
Kaelen berjongkok. Jejak itu baru, dan ukurannya lebih besar dari manusia biasa. Ada jejak lain di dekatnya, lebih kecil, tetapi bergerak cepat, seperti makhluk yang rayap.
"reka semakin dekat," gumam Kaelen.
Tiba-tiba, terdengar suara ranting patah. Semua ncabut senjata. Di antara kabut, bayangan samar tampak bergerak.
"Siapa di sana?!" seru Kaelen.
Tidak ada jawaban. reka maju perlahan, dan nemukan sesuatu yang mbuat darah reka mbeku. Sebuah kepala manusia ditancapkan di atas tombak. Matanya terbuka, bibirnya nyeringai, namun jelas itu bukan senyuman alami. Tubuhnya entah di mana.
Rhal nahan muntah. Salah satu prajurit bergetar hebat.
"Ini peringatan... reka ingin lemahkan ntal kita," kata Kaelen dengan suara bergetar.
reka segera kembali ke pos. Kaelen laporkan apa yang reka temukan kepada Varrok dan seluruh prajurit.
"reka semakin dekat. reka ingin kita takut. Jangan biarkan itu terjadi. Perkuat penjagaan malam ini. Tidak boleh ada yang sendirian. Kita berjaga dalam pasangan."
Malam itu, pos terasa lebih hening dari biasanya. Api unggun nyala terang, tetapi hawa dingin kegelapan tetap rasuk. Kaelen duduk di dekat gerbang, matanya natap ke kegelapan.
Serina datang, duduk di sampingnya. "Kau harus istirahat."
Kaelen nggeleng. "Aku tak bisa. Aku harus tetap waspada. Aku harus lindungi kalian."
Serina nyandarkan kepalanya di bahu Kaelen. "Aku percaya padamu, Kaelen. Tapi jangan lupakan dirimu sendiri. Kami di sini bersamamu. Aku... di sini bersamamu."
Di kejauhan, Lyra mperhatikan dari balik tenda, tangannya ngepal. Ia berpura-pura sibuk ngasah ujung panahnya, tetapi matanya terus ngamati kedekatan Kaelen dan Serina. Ada rasa sakit yang tertahan di dadanya, namun ia tak ingin nunjukkan kelemahan. Ia hanya bisa berharap Kaelen nyadari keberadaannya—dan perasaannya—sebelum semuanya terlambat.
Kaelen terdiam. Ia rasakan kehangatan, tapi juga ketakutan. Takut kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Takut mbuat keputusan yang salah.
Di sudut lain pos, Garel berdiri di bayangan, ngamati dari jauh, senyum tipis tersungging di wajahnya.
Kaelen natap langit malam yang kelam. Perang besar belum dimulai, tetapi retakan di antara reka semakin lebar. Ia tahu, malam ini bisa jadi awal dari akhir. Dari kejauhan, terdengar suara ranting patah disertai bisikan samar yang terbawa angin. Kaelen najamkan pendengarannya, namun yang tersisa hanyalah desir dingin kabut yang ngelus kulit. Namun, perasaan diawasi itu tetap ngendap di benaknya.
Reviews
All reviews (0)