Font Size
15px

Angin malam nyapu dataran Narth, mbawa bau besi, tanah basah, dan ketegangan yang nempel seperti kabut di dada siapa pun yang masih terjaga malam itu. Tenda komando berdiri hening, diterangi lentera kecil yang bergoyang pelan karena tiupan angin.

Kaelen berdiri di luar tenda, matanya natap ke arah bukit tempat pasukan reka kini tersembunyi. Bayangan kerangka pengepungan yang dirancang Aris mulai nampak: senjata berat disamarkan oleh ilalang, titik-titik api kecil sebagai penyamaran, dan suara langkah yang nyaris tidak terdengar.

Tapi malam ini bukan tentang taktik.

Ini malam terakhir sebelum perang. Malam sebelum dia, sekali lagi, kehilangan sesuatu yang tak bisa dia simpan di dalam dirinya.

Langkah kaki lembut nghampirinya. Kaelen tak noleh. Ia tahu langkah itu.

“Harusnya kau istirahat,” kata Lyra.

“Harusnya semua orang istirahat. Tapi tak ada satu pun dari kita yang benar-benar bisa tidur malam ini, bukan?”

Lyra berdiri di sebelahnya. “Kau takut?”

Kaelen ngangguk perlahan. “Bukan karena aku bisa mati. Tapi karena aku takut lupa.”

Lyra narik napas, lalu berkata, “Kaelen... jika kau sampai lupakan aku, aku ingin kau tahu satu hal.”

Kaelen noleh. Pandangan reka bertemu.

“Aku tidak nyesal pernah ncintaimu,” katanya. “Bahkan jika nanti kau berjalan lewatiku tanpa ngenaliku, aku akan tetap rasa cukup karena pernah bersamamu sejauh ini.”

Kaelen mbuka mulut, ingin njawab, tapi suaranya tercekat.

“Tapi jangan mati. Jangan tinggalkan aku... bukan malam ini.”

Ia ngulurkan tangan, nggenggam tangan Kaelen. Hangat. Nyata.

“Aku janji,” kata Kaelen, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku akan kembali. skipun aku harus rangkak.”

Lyra tertawa, getir. “Kalau perlu, aku akan nyeretmu kembali sendiri.”

Tiba-tiba, langkah berat terdengar dari arah kanan. Aris muncul, ditemani dua penjaga. Matanya tajam, tapi wajahnya sedikit lebih lunak malam ini.

“Kita siap,” katanya. “Pasukan cadangan sudah di posisi. Musuh bergerak besok pagi, seperti dugaanmu.”

Kaelen ngangguk. “Bagaimana moral reka?”

“Campur aduk,” jawab Aris. “Sebagian ingin mbunuh, sebagian ingin bertahan hidup. Tapi anehnya... semuanya tetap tinggal.”

Aris ndekat, lalu mandang Kaelen. “Aku ingin kau tahu... aku tetap tak setuju dengan semua keputusanmu. Tapi kalau aku harus mati besok, aku lebih pilih mati di bawah komando seseorang yang masih punya hati.”

Kaelen sedikit tersenyum. “Semoga kita semua tetap hidup. Kita sudah kehilangan terlalu banyak.”

Aris nepuk pundaknya, lalu pergi.

Setelah ia berlalu, Kaelen dan Lyra kembali dalam keheningan.

“Besok,” ucap Kaelen, “aku akan berhadapan langsung dengan Eryon.”

“Kau yakin dia akan muncul?” tanya Lyra.

“Dia tahu aku tak akan biarkan yang lain nuntaskan ini. Dan dia... juga ingin ngakhiri semua ini sendiri.”

“Kaelen,” suara Lyra kini bergetar, “jika dia ncoba manipulasi ingatanmu lagi—”

“Kalau aku lupa siapa diriku,” Kaelen motong, “ingatkan aku. Dengan apa pun.”

Lyra nunduk. Lalu, perlahan rogoh sakunya dan nyodorkan sesuatu: seutas pita kecil, kusam, tapi harum. Pita yang pernah ia kenakan di rambutnya bertahun-tahun lalu, di hutan pertama reka bertemu.

“Kalau kau lupa, simpan ini. Dan mungkin... hatimu akan ngingat ski kepalamu tidak.”

Kaelen nerima pita itu. Lama natapnya. Lalu masukkannya ke dalam baju perangnya, tepat di dekat jantung.

njelang tengah malam, Kaelen manggil Varian, tangan kanannya yang kini mimpin satuan elit.

“Aku butuh satu regu di belakang barisan. Jaga jalur mundur. Tapi yang lebih penting—jaga Lyra.”

Varian terkejut. “Kaelen, kau tahu dia tidak akan mundur. Bahkan kalau kau nyuruhnya sekalipun.”

Kaelen natapnya dalam-dalam. “Itulah sebabnya aku butuh kau. Kalau aku jatuh, atau kehilangan kendali... jangan biarkan dia ikut hancur bersamaku.”

Varian terdiam. Lalu ngangguk tegas.

“Kau selalu mbuat rencana rumit, tapi kau tetap orang yang paling takut kehilangan.”

Kaelen tidak nyangkal. Ia hanya nepuk bahu Varian sebelum kembali ke tendanya.

Di dalam tenda, Kaelen nyiapkan peralatan tempurnya. Bukan demi kenangan. Tapi demi njaga harapan agar sesuatu dari dirinya—entah itu kenangan, cinta, atau sekadar namanya—masih tersisa setelah perang ini selesai.

Ia natap pantulan wajahnya di potongan logam perisai. Lelah. Tua. Tapi juga teguh.

Besok, ia akan nghadapi Eryon. Mungkin bukan untuk nang. Tapi untuk ngakhiri.

Ia jamkan mata.

Dan dalam sunyi yang nggantung, ia ngucapkan satu doa pelan—bukan kepada dewa, tapi kepada dirinya sendiri:

“Jangan lupakan apa yang mbuatmu manusia.”

You are reading The Shattered Light Chapter 199: – Di Ambang Perpisahan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.