Fajar rekah perlahan, nyelimuti kamp sektor utara dengan cahaya keemasan yang samar-samar nusuk dingin sisa malam. Asap tipis dari dapur darurat mulai nari di udara. Namun, bukan aroma roti atau sup hangat yang nuhi kamp pagi itu.
lainkan kesunyian yang padat.
Kaelen duduk di atas peti kayu, jubahnya lusuh, matanya natap api kecil yang hampir padam. Di tangannya, sepotong perkan lusuh dari Alden yang baru dikirim semalam. Hanya satu kalimat:
“Dataran Narth akan digempur dalam tiga hari.”
Lyra datang dengan mbawa secangkir teh hangat, aroma mint samar nguar.
“Minumlah,” katanya, lembut namun tegas.
Kaelen nerimanya, tapi tidak langsung minum. Matanya masih terpaku pada perkan itu.
“Kita belum siap,” ucapnya lirih. “Pasukan Aris terpecah. Rencana belum utuh. Dan aku...”
“Dan kau masih ragukan dirimu sendiri?” potong Lyra.
Ia duduk di sebelah Kaelen. Diam sejenak, lalu berkata, “Kau tahu... dulu, aku pernah percaya perang ini bisa dinangkan hanya dengan pedang dan siasat. Tapi sekarang aku sadar—yang mbuat kita bertahan bukan itu. Tapi pilihan.”
Kaelen ngangkat alis, natapnya. “Pilihan?”
“Ya,” Lyra natap ke arah tenda pusat kamp. “Pilihan untuk tetap mpercayai seseorang ski kita tahu dia akan ngecewakan kita suatu saat. Pilihan untuk tetap berdiri di sisi seseorang ski dunia nyuruhmu njauh. Dan... pilihan untuk tetap langkah walau kita tahu kita mungkin akan gagal.”
Kaelen nghela napas, dalam. “Kau masih yakin padaku?”
“Setiap harinya,” jawab Lyra tanpa ragu. “Dan kalau aku bisa, aku akan ngajarkan semua orang di kamp ini untuk percaya juga.”
Tepat saat itu, Aris ndekat. Langkahnya berat tapi tegap. Wajahnya tak lagi penuh amarah, tapi juga belum lunak.
“Pagi,” katanya datar.
Kaelen berdiri, perlahan. “Pagi.”
Aris nyodorkan sesuatu. Sebuah sketsa kasar dari benteng Ordo di Dataran Narth. Disertai beberapa tanda silang dan lingkaran.
“Ini rencana serangan reka,” katanya. “Mata-mataku nangkapnya dari tahanan yang kabur. Kalau benar, kita hanya punya dua hari untuk mindahkan pasukan utama ke bukit timur.”
Kaelen natapnya, ragu. “Kau percaya aku cukup untuk nyerahkan ini padaku?”
Aris ndengus. “Aku tidak percaya siapa pun saat ini. Tapi aku percaya pada tujuan. Dan kau satu-satunya yang bodoh cukup untuk tetap bertahan demi itu.”
Kaelen tersenyum tipis. “Aku akan anggap itu sebagai pujian.”
Aris noleh pada Lyra, lalu kembali ke Kaelen. “Aku akan pimpin pasukan cadangan. Tapi satu syarat: kau sendiri yang pimpin di garis depan.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang ingin lihatmu di sana. Kalau kau tidak berdiri bersama reka... maka tidak ada lagi yang akan berdiri.”
Kaelen diam. Lalu ngangguk.
Di aula strategi darurat, para komandan berkumpul. Tiga puluh orang—wakil dari fraksi yang dulu terpecah, kini duduk bersama. Sebagian masih mandang Kaelen dengan sinis, sebagian dengan keingintahuan.
Kaelen berdiri di tengah, peta Narth terbentang di ja bundar.
“Serangan reka datang dari utara dan barat,” jelasnya. “Tujuan utama reka bukan nghancurkan kita, tapi mbuat kita saling terpisah. Jika kita terpancing, kita kalah bukan karena kalah perang... tapi kalah arah.”
Salah satu komandan muda bertanya, “Apa kau punya solusi untuk nyatukan semua pasukan yang kini tersebar di tiga titik?”
Kaelen natapnya. “Tidak ada solusi mudah. Tapi ada dua hal yang bisa nyatukan kita: satu, ancaman bersama. Dua, harapan bersama.”
Ia natap satu per satu wajah di ruangan itu.
“Aku tahu aku telah gagal banyak hal. Telah mbuat keputusan yang nyakitkan banyak dari kalian. Tapi aku tidak akan berdiri di sini hari ini jika aku tidak masih percaya bahwa kita bisa nang—bukan hanya atas Ordo Cahaya, tapi atas diri kita sendiri.”
Semua hening. Sampai salah satu tetua kamp berdiri perlahan dan berkata, “Apa rencanamu?”
Kaelen nunjuk pada bagian bukit timur peta. “Kita kumpulkan pasukan cadangan di sini. Sembunyikan senjata berat. Aku akan mimpin umpan ke utara untuk narik perhatian reka. Saat reka fokus, kita serang dari sisi dan potong suplai reka.”
“Dan kalau gagal?” tanya Lyra, yang kini berdiri di pintu, ndengar dari kejauhan.
Kaelen natapnya.
“Maka aku akan jatuh... di tempat yang bisa kulihat mata kalian. Agar kalian tahu bahwa bahkan di akhirku, aku tetap milih kalian.”
Malam itu, ketika kamp mulai bersiap untuk pindah ke bukit timur, Kaelen berdiri di bawah langit berbintang. Lyra nghampirinya.
“Besok kita mulai bergerak.”
Kaelen ngangguk. “Dan besok malam, mungkin aku takkan sempat lihat bintang lagi.”
Lyra ndekat, nyentuh tangannya. “Kau akan kembali.”
“Jika aku kembali... apa kau masih akan ada di sisiku?”
Lyra tersenyum. “Aku akan selalu ada. Bahkan jika kau lupa aku lagi, aku akan tetap di sini. Karena cinta itu... bukan tentang dikenang. Tapi tentang milih bertahan.”
Kaelen nutup matanya. Di dadanya, rasa takut dan keyakinan bertabrakan. Tapi untuk pertama kalinya, ia rasa siap.
Dentang perang akan segera datang. Tapi kali ini, ia tidak sendiri.
Reviews
All reviews (0)