Langit masih kelabu saat Kaelen dan Lyra masuki kamp sektor utara. Tak ada sambutan. Tak ada penjaga di gerbang. Hanya tatapan dingin dari puluhan mata yang bersembunyi di balik tenda dan bayang-bayang.
Aroma tanah basah bercampur asap tipis nuhi udara.
Alden, yang semula bersikeras ikut namun akhirnya tertinggal karena serangan ndadak di markas pusat, hanya sempat berpesan satu hal lewat utusan: "Jika reka mbungkammu, biarkan keheninganmu lebih lantang dari pidatomu."
Kaelen turun dari kudanya perlahan. Ia tak makai baju zirah lengkap, hanya mantel gelap dan pedang pendek di punggungnya. Sinyal bahwa ia datang bukan sebagai komandan perang... lainkan sebagai seseorang yang ingin didengar, bukan ditakuti.
Lyra berdiri di sampingnya, pandangan tajamnya nyapu kamp.
“Tak ada hormat. Tak ada aba-aba. reka siap bertarung atau kabur. Tak ada di antara,” bisiknya.
Kaelen njawab lirih. “Yang paling matikan bukan yang nggenggam senjata... tapi yang lihara dendam dan diam.”
reka terus berjalan. Di tengah kamp, akhirnya muncul seorang pria bertubuh kekar dengan janggut yang tak terurus. Ia berdiri tegak, tapi matanya rah, jelas kurang tidur—atau terlalu banyak kehilangan.
“Kaelen.”
Kaelen berhenti. “Aris. Lama tak bertemu.”
“Harusnya kau tetap tidak muncul.”
“Kalau aku tidak muncul, kalian akan percaya pada kabar yang kalian belum dengar dari mulutku sendiri.”
Aris nyeringai sinis. “Kami tidak butuh klarifikasi. Kami butuh pemimpin yang tahu kapan harus nyelesaikan musuh, bukan ngampuni.”
Beberapa prajurit mulai berkumpul. Ada yang lipat tangan di dada. Ada yang ncengkeram gagang pedang.
Lyra tetap diam, tapi tangan kirinya sudah nyentuh gagang belati di balik mantel.
“Aku datang ke sini bukan untuk mbela Thalos,” ucap Kaelen keras, motong kerumunan suara. “Aku datang untuk ngatakan bahwa dendam bisa mbakar dunia yang sudah kita perjuangkan. Aku tidak ingin kalian ikut terbakar bersamaku.”
Aris tertawa pendek. “Lucu. Karena dunia ini sudah terbakar. Oleh kebijakanmu. Oleh belas kasihanmu.”
Kaelen ngangguk pelan. “Mungkin. Tapi mari aku tanya kau satu hal, Aris. Jika kau berdiri di tempatku saat Thalos jatuh tersungkur, tubuhnya penuh luka, nafasnya satu-satu... apakah kau yakin, sangat yakin, mbunuhnya akan nyembuhkanmu?”
Hening.
“Sembuh?” Aris ludah ke tanah. “Aku tak minta sembuh. Aku minta harga. Balas. Setimpal.”
Seorang prajurit wanita, mungkin tak lebih tua dari dua puluh tahun, maju selangkah.
“Adikku mati di pembantaian Celurian,” katanya pelan. “Apa kau tahu itu, Kaelen? Thalos rintahkan itu. Kalau aku yang ada di sana, aku tak akan ragu nusuk jantungnya. Kau terlalu lemah.”
Kaelen natap matanya. Tak marah. Tak mundur.
“Aku ngerti.”
Suasana hening kembali. Lalu perlahan Kaelen narik pedangnya.
Beberapa prajurit bergerak gugup.
Namun ia tak ngangkatnya. Ia njatuhkan pedang itu ke tanah.
“Aku tidak akan minta maaf karena tidak mbunuh Thalos. Tapi aku minta kalian nilai aku bukan dari satu keputusan, tapi dari seluruh jalanku.”
“Jalanmu sudah mbuat banyak orang tersesat,” balas Aris.
“Mungkin. Tapi jika kau berpikir kau bisa mimpin dengan lebih baik, bunuh aku sekarang. Di depan pasukanmu. Lalu pimpin reka dengan cara yang nurutmu benar.”
Kaelen mbuka mantelnya, ngekspos dadanya yang tanpa pelindung.
Lyra bergerak cepat. “Kaelen, cukup—”
“Tidak,” potong Kaelen. “Jika aku harus mbuktikan siapa aku dengan darah, maka biar aku lakukan sekarang.”
Aris natapnya. Wajahnya seperti batu. Beberapa prajurit nahan napas.
Tak ada yang bergerak.
Beberapa detik yang terasa seperti tahun berlalu.
Lalu Aris mundur setapak. “Kau... bodoh.”
“Bisa jadi,” jawab Kaelen.
Aris ndengus. “Tapi aku takkan mbunuh orang yang punya nyali ngaku salah di depan orang-orang yang ingin lihatnya jatuh.”
Kaelen nghela napas pelan. Lalu berkata, “Aku tak ingin kalian ikut terbakar karena aku. Tapi jika kalian tetap ingin berjalan di jalur ini, aku tidak akan maksa.”
Seorang prajurit lain akhirnya bersuara. “Apa Thalos masih hidup?”
Kaelen ngangguk. “Di dalam sel. Dan dia tidak diberi hak bicara lagi. Tapi aku juga tidak akan mbiarkan kebenciannya njadi bahan bakar perang ini. Bukan lagi.”
Seiring malam turun, suasana perlahan lunak.
Beberapa prajurit mulai beranjak pergi. Ada yang masih murung, ada yang ngangguk pelan ke arah Kaelen—tanda bahwa setidaknya, sebagian dari reka mau ndengar lagi.
Saat malam benar-benar sunyi dan angin nyusup di antara celah tenda, Kaelen duduk di luar dengan Lyra.
Ia mandangi api unggun kecil. “Aku lelah, Lyra.”
“Semua orang lelah. Tapi tidak semua orang berani ngakuinya.”
Ia noleh padanya. “Kau masih percaya padaku?”
Lyra tak njawab langsung. Lalu ia njulurkan tangan dan nggenggam jemari Kaelen yang penuh bekas luka.
“Aku tidak percaya padamu karena kau selalu benar, Kaelen. Aku percaya padamu karena kau tahu saat kau salah... dan tetap berdiri ski seluruh dunia ingin kau jatuh.”
Kaelen tersenyum lemah.
Di kejauhan, suara malam perlahan kembali seperti biasa. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, bara di dalam dadanya terasa... sedikit lebih hangat dari biasanya.
Reviews
All reviews (0)