Font Size
15px

Suasana di alun-alun kota Veradya pagi itu tidak seperti biasanya. Penduduk berkerumun, wajah-wajah reka cemas, bingung, sebagian besar dipenuhi bisik-bisik.

Kaelen berdiri di atas panggung kecil dari kayu. Di sisinya, Lyra dan Alden natap kerumunan dengan ketegangan yang tak bisa disembunyikan.

Di belakang reka, bendera Pasukan Pembebasan dikibarkan setengah tiang. Bukan karena kematian seseorang, tapi karena sesuatu yang lebih rumit: kehilangan kepercayaan.

"Dia terlambat," bisik Alden.

“Dia berpikir terlalu lama, bukan terlambat,” jawab Lyra.

Kaelen natap ke depan, lalu ngambil langkah maju. Suaranya jelas dan tenang.

"Aku tahu... kalian semua ndengar desas-desus. Tentang seseorang dari Ordo yang masih hidup. Tentang bagaimana perang ini tidak mbebaskan kalian, lainkan ngganti satu penindas dengan yang lain."

Kerumunan bergeming. Suara-suara mulai nggeliat seperti ular bangun dari tidur panjang.

"Aku tidak akan berdiri di sini dan bilang semuanya sempurna. Tidak. Kami salah. Aku salah."

Beberapa orang mulai noleh ke sesamanya, tak yakin apakah ini bagian dari pidato atau pengakuan.

Kaelen lanjutkan.

"Serina, Lyra, Varrok... banyak orang telah mati dalam perang ini. Bukan hanya karena musuh, tapi karena aku—yang mimpin dan milih jalur kekerasan saat diplomasi belum sepenuhnya mati. Aku tidak akan minta kalian lupakan itu. Tapi aku minta kalian ngingat satu hal: kita milih jalan ini bersama."

Tepat ketika suasana mulai tenang, seorang lelaki berteriak dari barisan belakang.

“Lalu kenapa kau biarkan Thalos hidup?!”

Seisi alun-alun sontak gaduh.

Kaelen matung sejenak.

Alden bergerak maju, tapi Kaelen ngangkat tangan, nghentikannya.

Pria itu maju. Wajahnya penuh luka bekas perang. Di pundaknya tergantung lencana pasukan barisan depan.

“Aku kehilangan dua adik di Benteng Vandra karena Thalos. Dan kau biarkan dia bicara, nyebar api lagi? Itu bukan keadilan. Itu pengecut.”

Kaelen natapnya dalam diam. Lalu berkata pelan, “Kalau aku mbunuh dia di depan kalian, apakah itu akan mbuatmu rasa keadilan sudah ditegakkan?”

Lelaki itu ragu. “Setidaknya... itu akan nunjukkan bahwa kau bukan berpihak padanya.”

“Aku tidak berpihak padanya,” jawab Kaelen. “Tapi aku tidak bisa lagi rintah dengan pedang. Kita tidak butuh pahlawan yang mbakar musuh di tengah kerumunan. Kita butuh pemimpin yang bisa nahan diri, bahkan saat seluruh tubuhnya minta untuk mbalas.”

Tapi kemarahan sudah telanjur tumbuh. Beberapa mulai berteriak. Lalu sebuah botol dilempar, pecah di dekat panggung.

Lyra ncabut belatinya, bukan untuk nyerang, tapi untuk bersiaga. “Kaelen... kita harus turun.”

Tiba-tiba, dari arah gang sempit, teriakan terdengar: “Api di barat! Gudang logistik dibakar!”

Kaelen dan Alden langsung bergerak.

“Bukan kebetulan,” kata Alden di sela langkah cepat reka. “Thalos nyalakan banyak api dalam waktu singkat.”

“Tapi bukan dengan tangan sendiri,” jawab Kaelen. “Dia punya orang di antara kita.”

Gudang logistik terbakar hebat. Api njilat langit, mbuat langit sore seakan berubah jadi bara. Kaelen dan pasukannya berusaha madamkan api, tapi pasokan air terbatas.

Di sela kekacauan, Lyra nemukan secarik kain bertuliskan pesan.

“Dari abu lama, akan bangkit tatanan baru.”

Dia mberikannya pada Kaelen.

“Dia tak hanya mprovokasi. Dia nyusup.”

Malamnya, ruang dewan militer terasa tegang. Kaelen, Lyra, Alden, dan beberapa kepala regu duduk ngelilingi ja bundar.

“Ada laporan bahwa pasukan cadangan di sektor utara nolak perintah,” kata Alden. “reka bilang... tidak percaya siapa pun yang ‘mbiarkan musuh hidup demi moral.’”

“Ini nyebar terlalu cepat,” ujar salah satu kepala regu.

Kaelen nyandarkan punggung ke kursi. "Karena ini bukan sekadar kabar. Ini keyakinan. Dan keyakinan nyebar seperti api jika kita tidak segera kendalikan."

“Lalu apa rencanamu?” tanya Lyra lembut.

Kaelen jamkan mata sejenak. “Aku akan ke utara. Bicara langsung. reka harus tahu bahwa ini bukan tentang Thalos. Ini tentang apakah kita masih percaya pada satu sama lain.”

“Sendiri?” Alden nyaris mbentak. “Kau bisa dibunuh sebelum sempat bicara!”

“Aku harus ambil risiko. Kalau aku mati, biarlah aku mati mbawa satu pesan sederhana: bahwa perang ini tak bisa dinangkan dengan curiga dan kebencian.”

Hening.

Lalu Lyra berdiri. “Kalau kau pergi, aku ikut.”

Kaelen natapnya. “Kau tidak harus—”

“Aku tahu.”

Malam itu, sebelum berangkat, Kaelen duduk di ujung kamp, natap langit berbintang. Di tangannya, secarik kertas usang—sketsa wajah Serina, yang dulu pernah digambarnya saat iseng.

Ia natapnya lama. ncoba ngingat tawa yang kini hanya gema samar.

Lalu ia mbakar kertas itu.

Bukan karena ingin lupakan.

Tapi karena ia tahu, kadang untuk langkah ke depan, kita harus relakan satu bagian dari masa lalu... agar yang lain bisa tetap hidup dalam kenangan yang benar.

You are reading The Shattered Light Chapter 196: – Lidah Api di Balik Nama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Above The Sky cover
Similar genre

Above The Sky

Gloomy Sky Hidden God ·Fantasy

Thefirststarthatpassedawayextinguishedtwothousandyearsago. Fourhundredyearslater,themysteriousCalamityofHeavenlyFalldestroyedthecivilizationofthepr...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.