Matahari pagi belum sepenuhnya nembus awan kelabu ketika Kaelen berdiri di tepian Lembah Rauthen—dulu markas pertama reka saat perang baru dimulai. Tanah itu kini sunyi. Rumput liar nutupi bekas tenda dan parit. Tapi aroma darah dan bara masih tertinggal, ski bertahun telah lewat.
“Sudah lama,” gumam seseorang dari belakang.
Kaelen noleh. Lyra.
Ia ndekat, narik tudung dan natap dataran yang dulu reka sebut rumah. “Kau ingat saat kita mbangun dapur dari batu-batu kali? Kau—kita, selalu ribut soal sup.”
Kaelen tersenyum kecil. “Karena kau pakai akar pahit.”
“Itu akar obat,” sahut Lyra. “Dan aku tetap hidup, bukan?”
Kaelen nunduk, senyumnya mudar. “Ya. Kau tetap hidup.”
reka berdiri lama tanpa bicara. Di antara reka, hanya desiran angin yang bicara.
“Ada alasan kau datang ke sini?” tanya Lyra akhirnya.
Kaelen ngangguk pelan. “Karena aku ingat tempat ini, bahkan saat aku tak lagi ingat detail wajah Serina... atau suara ayahku.”
Lyra natapnya lama, seperti ncari sesuatu yang dulu hilang di mata Kaelen. “Tempat nyimpan luka, kadang lebih setia daripada pikiran kita sendiri.”
Kaelen narik napas dalam. “Aku ingin mastikan. Apakah aku benar-benar kehilangan semuanya... atau hanya bagian yang kupilih untuk dilupakan.”
Seketika angin berubah arah.
Langkah berat terdengar dari sisi lembah.
Alden muncul tergesa, wajahnya gelisah. “Kaelen, ada sesuatu... sesuatu yang aneh di bukit timur. Kami nemukannya tadi malam.”
Kaelen langsung siaga. “Apa itu?”
Alden nyerahkan gulungan perkan. Di atasnya, terukir simbol yang seharusnya sudah mati: lambang Ordo Cahaya.
Lyra mucat. “Itu tidak mungkin. Lambang itu dimusnahkan bersama benteng utama.”
“Tidak,” kata Kaelen pelan. “Yang kita musnahkan hanyalah struktur. Ideologi tidak mati hanya karena benteng runtuh.”
reka tiba di bukit itu saat matahari tergelincir ke barat. Di antara reruntuhan batu dan pohon-pohon lapuk, ada bekas altar. Di tengahnya berdiri sosok tua, berjubah abu-abu, wajahnya terlindung tudung.
Ia berbalik perlahan, dan untuk sesaat, dunia seakan berhenti.
Lyra nahan napas. “...Thalos?”
Sang mantan penasihat Ordo, yang dikira tewas dalam pengepungan lima tahun lalu, masih hidup—dan tersenyum.
“Sudah lama... anak-anak kecil yang ingin main jadi pahlawan.”
Kaelen maju satu langkah. “Apa ini permainanmu, Thalos? nyebar lambang-lambang lama untuk mbakar perang baru?”
Thalos tertawa pelan. “Perang tak butuh undangan, Kaelen. Ia hanya nunggu satu alasan yang cukup.”
Alden narik pedangnya. “Kau tak seharusnya hidup.”
“Tapi aku hidup. Sama seperti doktrin yang kalian kira sudah punah. Kau lupa, Kaelen... Ordo bukan hanya pasukan. Ia keyakinan. Dan keyakinan tidak mati oleh pedang.”
Kaelen ngepalkan tangan. “Aku tidak datang untuk berdebat. Aku datang untuk ngakhiri sisa-sisa hantu masa lalu.”
“Lucu,” Thalos berbisik, suaranya dingin. “Karena kau sendiri adalah hantu dari masa lalu. Separuh jiwamu sudah dikorbankan. Berapa banyak yang masih tersisa, Kaelen?”
Diam.
Lalu Lyra nyela, suaranya lirih tapi tegas.
“Cukup untuk milih. Cukup untuk berdiri di sisi yang benar, ski tidak sempurna.”
Tatapan Thalos berpindah padanya. “Anak Elvior. Masih ngira bisa nebus dosa ayahmu dengan berpura-pura jadi manusia biasa?”
Lyra tidak gentar. “Aku tidak berpura-pura. Justru karena aku tahu siapa aku, aku milih berdiri di sini, sekarang.”
Alden bergerak maju. “Kita tangkap dia. Bawa ke dewan.”
Tapi Kaelen nahan. “Tidak. Kita biarkan dia pergi.”
Alden lotot. “Apa?!”
“Karena musuh terbesar bukan dia. Tapi rasa percaya kita yang goyah. Kalau kita tangkap dia hari ini, reka akan bilang kita takut. Biarkan dia bicara. Kita akan bicara lebih keras.”
Thalos nyeringai. “Kau belajar dengan baik, Kaelen. Tapi hati-hati. Bahkan bayangan yang kau kendalikan, bisa nelanmu saat malam tiba.”
Ia berbalik dan lenyap dalam kabut.
Malam turun cepat. Di markas, Lyra, Kaelen, dan Alden duduk ngelilingi ja kecil.
“Dia akan nyebar rumor,” ujar Lyra.
“Biar saja,” kata Kaelen. “Tapi kita mulai duluan. Besok pagi, aku ingin bicara di alun-alun. Bukan pidato. Bukan propaganda. Hanya... kejujuran.”
Alden terdiam. “Kau pikir cukup?”
Kaelen natap bunga kering di atas ja. Yang diberikan Aryn, anak kecil di pasar.
“Kalau aku lupa wajah reka satu per satu, maka aku harus ingat untuk siapa aku milih berdiri.”
Lyra tersenyum kecil. “Mungkin kita tidak akan nyelamatkan dunia sepenuhnya.”
“Tapi mungkin kita bisa nghentikan dunia dari lukai dirinya sendiri sekali lagi,” jawab Kaelen.
Dan malam itu, di tengah gelap, satu obor dinyalakan.
Bukan untuk perang.
Tapi untuk ngingat.
Bahwa harapan—ski kecil, masih ada.
Reviews
All reviews (0)