Font Size
15px

Hujan turun malam itu. Tidak deras, tapi cukup untuk nghapus jejak di tanah. Kaelen berdiri di balkon atas nara Veritas, natap kota yang basah oleh kabut dan lampu-lampu redup. Pidatonya pagi tadi tak diikuti sorak-sorai. Tapi ia tak ngharapkannya. Ia tahu, ombak tidak mbelah batu dalam satu pukulan.

Langkah pelan ndekat di belakang.

Lyra.

“Beberapa pengawal bilang Freyn ninggalkan kota. Katanya ingin ‘berpikir’.”

Kaelen tidak noleh. “Berpikir bisa berarti nyusun serangan.”

“Kau ngkhawatirkannya?”

“Aku ngkhawatirkan orang-orang yang percaya padanya.”

Lyra ndesah. “Dulu kita pikir musuh ada di luar pagar. Sekarang, pagar itu sudah tidak ada, tapi rasa takut masih tinggal.”

Kaelen jamkan mata. “Rasa takut lebih kuat daripada kebencian. Karena ia hidup di dalam.”

Sentara itu, jauh di lorong bawah tanah bekas benteng Ordo Cahaya, sekelompok pria dan wanita berkumpul. Beberapa makai bekas armor Ordo yang dilucuti lambangnya. Di tengah reka, Freyn duduk bersila. Wajahnya basah oleh keringat.

“Dia ngaku lupa,” gumamnya. “Tapi ingatan bukan satu-satunya yang bisa hilang. Kadang, jiwa pun bisa.”

Seorang wanita kurus berambut kelabu bersandar ke dinding. “Rakyat mulai bicara lagi. Tapi reka masih takut. reka butuh pemicu.”

Freyn ngangguk. “Maka kita beri reka api.”

Seorang pemuda lain nyela. “Kau ingin lawan Kaelen?”

Freyn mandang lurus ke arah pemuda itu. “Aku ingin nyelamatkan esensinya yang dulu. Dan kalau itu artinya nghancurkan dia sekarang—maka ya. Aku akan lawan.”

Di markas dewan, Alden nemui Lyra yang sedang mbaca peta wilayah.

“Mata-mata kita di daerah barat laporkan sesuatu aneh,” katanya cepat. “Gudang tua yang harusnya ditutup dipenuhi bekas senjata. Dan banyak wajah lama muncul—reka yang dulu hilang setelah Ordo tumbang.”

Lyra nyipitkan mata. “Kau pikir Freyn ngumpulkan pasukan?”

Alden ngangguk. “Tidak besar. Tapi cukup untuk mulai.”

“Dan Kaelen?” tanya Lyra.

“Dia... mbeku lagi. Seolah apa pun yang terjadi tak nyentuhnya.”

Lyra nggenggam gagang kursi. “Aku takut dia sudah terlalu dalam dalam pikirannya sendiri. Tak bisa kembali.”

Keesokan harinya, Kaelen berjalan sendirian di pasar bawah. Ia ngenakan tudung. Orang-orang ngenalinya, tapi tidak nyapa. Beberapa nunduk. Beberapa luk anak reka rapat-rapat.

Lalu terdengar suara:

“Kaelen!”

Ia noleh.

Seorang gadis kecil berlari ke arahnya, wajahnya kotor, tapi senyumnya lebar.

“Kaelen!” ulangnya, ngabaikan ibu yang berusaha nariknya.

Kaelen berlutut. “Siapa namamu?”

“Aryn.”

“Ibuku bilang kau lupa orang-orang. Tapi aku mau kau ingat aku.”

Kaelen mbeku.

Si ibu ndekat, panik. “Maaf, Tuan, dia—dia hanya anak—”

Kaelen ngangguk pelan. “Tak apa.”

Aryn nyodorkan bunga kecil yang hampir layu. “Ini untukmu. Biar kamu nggak lupa siapa yang kau lindungi.”

Kaelen nerimanya.

Tangan kecil itu mbuat dadanya bergetar pelan.

Malamnya, Kaelen duduk di ruang rapat yang kosong. Di depannya, peta, laporan, catatan dewan.

Tapi matanya natap kosong.

Lalu, pintu terbuka.

Alden masuk dengan langkah cepat.

“reka bergerak. Freyn dan kelompoknya. nuju utara. reka ngambil gudang senjata dan nyebarkan pamflet di tujuh distrik. Kau harus bicara.”

Kaelen masih diam.

“Kaelen!” bentak Alden.

“Aku bicara. Dan reka tetap bergerak.”

“Karena bicaramu terlalu terlambat!”

Kaelen berdiri pelan. Suaranya rendah, tapi tajam.

“Apa kau pikir aku tak tahu? Bahwa semua yang kuucapkan—semua yang kuperjuangkan—seperti ombak yang dihantam karang yang tak pernah retak?”

Alden ngatupkan rahangnya. “Lalu apa rencanamu? Diam sampai kota terbakar?”

Kaelen berjalan ke arah jendela besar.

“Tidak. Aku akan nemui Freyn. Sendirian.”

Tiga jam kemudian, Kaelen ndatangi reruntuhan aula tua tempat Freyn bersembunyi. Tak ada pasukan. Hanya dia dan angin.

Freyn muncul dari bayang-bayang.

“Kau datang.”

Kaelen berdiri tegak. “Aku tak ingin mbunuhmu.”

“Tapi kalau harus?”

“Kalau harus, aku akan hancurkan kebencianmu, bukan dirimu.”

Freyn tertawa getir. “Terlambat. Kebencianku adalah aku sekarang. Dan kau—kau hanya cangkang dari pemimpin yang dulu kami ikuti.”

Kaelen maju satu langkah. “Aku tidak nyesal telah milih lupakan demi nyelamatkan. Tapi aku nyesal tidak ngatakan ini lebih awal: setiap kehilangan kita—itu bukan harga untuk kekuasaan. Tapi tanda bahwa kita masih hidup.”

Freyn ngangkat belatinya. “Kau nyelamatkan dunia, tapi kehilangan jiwa. Aku kehilangan teman-temanku, tapi aku tetap manusia.”

reka saling tatap.

Senjata di tangan Freyn bergetar.

Kaelen nutup matanya sejenak. “Kalau kau perlu nebas aku untuk rasa utuh lagi, lakukan.”

Tangan Freyn getar.

Ia langkah maju.

Lalu berhenti.

njatuhkan belatinya.

Air matanya jatuh lebih dulu.

“Aku hanya... lelah kehilangan,” bisiknya.

Kaelen ndekat. Perlahan, letakkan tangan di bahu Freyn.

“Begitu juga aku.”

Malam itu, tidak ada perang. Tidak ada ledakan.

Tapi dunia berubah.

Karena untuk pertama kalinya, seorang yang marah, dan seorang yang terluka, milih berdamai sebelum darah kembali tumpah.

Dan kadang, kenangan itu cukup untuk lanjutkan langkah berikutnya.

You are reading The Shattered Light Chapter 194: – Ombak yang Membelah Batu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.