Tiga hari setelah rapat dewan terakhir, suasana kota Veritas mulai terasa ganjil. Tidak ada ledakan, tidak ada pertempuran terbuka. Tapi ketegangan itu ada, nyelinap seperti asap dari bara yang tersembunyi. Jalan-jalan ramai tapi penuh bisik-bisik. Pandangan curiga. Bisik antar kelompok.
Di salah satu kedai kecil dekat alun-alun, seorang pemuda berambut ikal, dikenali sebagai mantan prajurit barisan Serina, berdiri di atas ja.
“Apa ini dunia yang kita perjuangkan?” teriaknya lantang, mbuat semua kepala noleh. “Dulu kita bertaruh nyawa demi kebebasan. Sekarang, mantan Ordo duduk di dewan. reka nandatangani kebijakan. reka ngatur kita!”
“Duduklah, Freyn,” sahut seorang wanita tua dari balik konter. “Kami semua kehilangan sesuatu. Kau bukan satu-satunya yang berhak marah.”
“Tapi aku satu-satunya yang masih bicara!” bentaknya.
Beberapa orang bertepuk tangan.
Yang lain nunduk.
Sore itu, Lyra nghadiri pertemuan informal dengan kelompok sipil yang mulai khawatir. Ia datang sendiri, tanpa Kaelen.
Seorang lelaki dengan janggut lebat dan luka lama di pipi mbuka pembicaraan.
“Kami tidak ingin kekacauan, Lady Lyra. Tapi kalau situasi ini dibiarkan, akan ada pertumpahan darah. Orang-orang tidak percaya dewan. reka rasa pengkhianat bebas berkeliaran.”
Lyra ndengarkan dengan tenang. “Aku ngerti. Tapi siapa yang akan kalian percayai kalau bukan kita yang dulu bersama kalian sejak awal?”
Wanita di sebelah pria itu njawab, “Kami mpercayaimu, Lyra. Tapi Kaelen? Dia sudah... berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu jauh. Dan kalau pemimpin kita tidak bicara, orang lain akan bicara nggantikan.”
Kata-kata itu nghantam lebih keras daripada teriakan.
Di luar kota, di sebuah lereng berbatu yang pernah njadi titik pos pengintaian, Kaelen berdiri sendiri. Angin mbawa debu, ngeringkan keringat yang tidak terasa. Ia natap horizon, di mana langit dan tanah seolah bertabrakan.
Di belakangnya, suara langkah.
Alden.
“Kau nghilang lagi,” katanya tanpa basa-basi.
Kaelen tetap mandangi cakrawala. “Kau yang dulu selalu bilang, diam kadang lebih lantang daripada seribu pidato.”
“Tapi sekarang orang ngira diam artinya nyerah,” jawab Alden. “Atau nyesal.”
Kaelen ngangguk pelan. “Mungkin keduanya benar.”
Alden diam sejenak sebelum ndekat. “Freyn. Anak muda yang dulu ikut Serina. Dia bicara di publik. nyulut kemarahan. Ada yang ngikutinya. Banyak.”
“Biarkan saja,” gumam Kaelen. “Kalau reka butuh pemimpin baru, siapa aku untuk nahan?”
“Masalahnya bukan itu,” kata Alden tajam. “Masalahnya, reka ngira kau yang tidak peduli. Dan yang lebih buruk—beberapa orang mulai percaya kau nyembunyikan sesuatu.”
Kaelen noleh perlahan. “Apa maksudmu?”
Alden natapnya lurus. “Rumor tentang kenanganmu yang hilang. Tentang Serina. Tentang Lyra. reka pikir kekuatanmu nelan jiwamu, dan kini kau hanya bayangan dari Kaelen yang dulu.”
Kaelen tidak nyangkal. “Mungkin reka benar.”
“Tapi selama kau tidak bicara, reka akan terus nciptakan cerita sendiri.”
Malam itu, Lyra nulis sendiri pidato untuk pertemuan rakyat esok hari. Ia nulis dengan tangan getar. Bukan karena takut. Tapi karena ragu. Ragu apakah suara rakyat masih bisa diarahkan, atau sudah njadi ombak yang tak bisa dikendalikan.
Tiba-tiba, pintu diketuk.
Kaelen.
Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah letih.
“Aku tak tahu harus bicara apa pada reka,” katanya lirih.
Lyra berdiri, ndekat perlahan.
“Kau tidak harus mberikan jawaban, Kaelen. Kau hanya perlu jujur.”
Kaelen natap mata Lyra. Kali ini, dalam diam, ia seperti ncari sesuatu yang hilang jauh di masa lalu.
“Aku bahkan tak tahu siapa yang bicara dalam diriku sekarang. Apa ini aku... atau sisa dari semua luka dan kehilangan yang kutanggung.”
Lyra nggenggam tangannya. “Kalau begitu, biarkan kami yang ngingatkan siapa kau.”
Kaelen jamkan mata sejenak, lalu mbuka perlahan. “Besok... aku akan bicara.”
Pagi berikutnya, alun-alun Veritas penuh sesak. Wajah-wajah tegang, beberapa penuh harap, lainnya skeptis. Freyn berdiri di pinggir, dikelilingi para pengikut barunya. Di atas panggung kayu, Lyra berdiri bersama Alden.
Lalu Kaelen muncul.
Ia tidak ngenakan jubah perang. Tidak pula armor. Hanya pakaian biasa, seperti rakyat yang datang. Rambutnya agak panjang, ikat kepalanya lusuh.
Ia natap reka semua. Lama. Sunyi.
Lalu berkata:
“Aku... tidak datang hari ini sebagai pemimpin. Aku datang sebagai orang yang kehilangan. Kehilangan teman. Keluarga. Diri sendiri.”
Alun-alun hening.
“Aku tak bisa njanjikan dunia yang sempurna. Aku bahkan tidak yakin bisa nyebut dunia ini lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku tahu, kalau kita terus saling curiga, maka perang yang kita lawan akan nang dengan cara lain.”
Freyn langkah ke depan. “Kau tak ingat Serina, bukan? Orang bilang kekuatanmu nghapusnya dari ingatanmu.”
Kaelen natapnya. “Aku... tidak sepenuhnya ingat. Tapi rasa sakit itu masih ada. Dan karena rasa sakit itulah aku tahu... dia nyata. Dan berharga.”
Freyn terdiam.
“Jika kita biarkan amarah mimpin kita, maka kita hanya akan njadi Ordo versi baru. Tapi jika kita saling jujur tentang luka kita—dan bersedia nyembuhkan bersama—mungkin... dunia yang kita perjuangkan bisa benar-benar ada.”
Tak ada tepuk tangan setelah pidato itu.
Tapi juga tak ada teriakan.
Hanya hening.
Dan dalam hening itu, benih keraguan mulai tergantikan oleh sesuatu yang lebih dalam: pertanyaan.
Dan dari pertanyaan, bisa lahir perubahan.
Atau kehancuran.
Reviews
All reviews (0)