Font Size
15px

Pagi di kota bentukan baru, Veritas, terasa aneh. Terlalu tenang untuk dunia yang baru saja keluar dari perang. Di balai pusat—bangunan kayu setengah jadi yang difungsikan sebagai tempat dewan sentara—perdebatan berlangsung sengit.

“Apa kita biarkan wilayah timur dikuasai kelompok mantan Ordo begitu saja? reka bersenjata, terorganisir, dan tidak semua sudah nyerah,” ujar seorang pria berambut abu-abu dengan jubah rah marun.

“reka rakyat juga,” sahut Lyra cepat. “Banyak dari reka dipaksa bergabung. Kita tak bisa nghukum semua karena dosa segelintir pemimpin.”

“Kalau kita terlalu lunak, reka akan kembali mberontak,” potong yang lain. “Dunia ini baru pulih. Kita butuh kontrol.”

Kaelen hanya duduk di sudut ruangan. Tak berkata-kata. Matanya natap ja bundar di hadapannya, tapi pikirannya entah di mana.

Lyra mperhatikan Kaelen sesekali, ragu untuk nyentuh peran yang semakin disingkirkan oleh Kaelen sendiri. Setelah dewan bubar sentara, ia nghampiri Kaelen yang masih duduk mbisu.

“Kau belum bicara sepatah kata pun,” katanya pelan.

“Apa pendapatku masih penting?” Kaelen bertanya tanpa natapnya.

Lyra nghela napas. “Kau bukan hanya penyelamat dunia, Kaelen. Kau—”

“Bukan pemimpin,” potong Kaelen cepat. “Aku tahu itu. Dan kurasa sekarang semua juga tahu.”

Lyra duduk di sampingnya. “Dulu, kau berjuang karena kau punya sesuatu untuk dilindungi. Sekarang... apa yang kau rasakan?”

Kaelen diam lama. “Aku rasa seperti lukisan yang sudah selesai. Tak bisa ditambah... tapi juga tak bisa diperbaiki.”

Di luar balai, di dekat pasar kecil yang baru dibangun, Alden sedang berbicara dengan sekelompok mantan pejuang. reka gelisah.

“Kami tidak suka kebijakan pengampunan itu,” kata salah satu, seorang perempuan dengan luka di pipi. “Kami kehilangan keluarga. Kami tak bisa duduk satu ja dengan pembunuh reka dan nyebut itu damai.”

Alden ncoba nenangkan. “Kalau kita mulai mbalas, itu bukan keadilan. Itu hanya perang yang disamarkan.”

“Tapi kalau tak ada hukuman, itu penghinaan!” bentak yang lain. “Apa darah kami tak berarti?”

Alden natap reka. Lelah. Bingung.

Di belakangnya, Kaelen ngamati. Dari jauh.

Malam hari, Kaelen kembali ke kamar sempitnya di rumah tua yang kini ia tinggali sendiri. Dindingnya masih setengah roboh. Tak ada pengawal. Tak ada lambang kejayaan. Hanya kesunyian.

Ia duduk di lantai. natap sebuah benda kecil—potongan kain biru tua yang sudah usang. Seperti bagian dari jubah.

Ia tak ingat dari mana ia ndapatkannya.

Ia hanya tahu... benda itu mbuat dadanya sesak.

Lalu suara pintu diketuk.

Lyra.

“Boleh masuk?”

Kaelen ngangguk tanpa berkata.

Lyra duduk di lantai bersamanya, mandangi potongan kain itu.

“Serina?” tebaknya lirih.

Kaelen tidak njawab. Tapi sorot matanya ngiyakan.

“Sebagian dirimu masih tahu. Tapi tubuhmu nolak ngingat.”

“Apa aku masih manusia, Lyra?”

Pertanyaan itu mbuatnya tercekat.

“Aku tak tahu,” jawab Lyra jujur. “Tapi aku tahu, aku masih ncintaimu. Bahkan saat kau mulai lupa siapa dirimu.”

Kaelen natap matanya. Ada luka. Tapi ada juga ketulusan.

“Aku ingin... ninggalkan semuanya.”

Lyra terdiam.

“Bukan untuk lari. Tapi untuk nemukan sesuatu yang nyata. Aku sudah terlalu lama berada di dan perang. Dunia ini butuh penyembuh, bukan pembunuh.”

“Dan aku?” tanya Lyra nyaris tak terdengar.

Kaelen jamkan mata.

“Aku tak ingin kau ikut... jika itu hanya akan mbuatmu nderita. Aku mungkin tidak ingat semua tentang Serina. Tapi aku tahu apa rasanya kehilangan. Aku tak mau nyakitimu juga.”

Lyra nahan air mata.

“Aku bisa milih bertahan. Tapi jangan minta aku untuk nunggu.”

Kaelen ngangguk.

“Kalau kau ingin mbenciku... aku akan nerimanya.”

Lyra berdiri. “Aku tidak akan mbencimu, Kaelen. Tapi suatu hari, aku akan belajar hidup tanpamu. Dan kau harus siap... untuk dunia yang akan terus bergerak ski kau tidak ada di dalamnya.”

Di luar kamar itu, bulan nggantung sendu.

Retakan dalam dunia baru tak datang dari sisa-sisa perang.

Tapi dari jiwa-jiwa yang tak pernah benar-benar pulih.

Dan Kaelen, sang penyelamat, mulai nyadari...

Ia tak bisa nyelamatkan dunia dan dirinya sendiri sekaligus.

You are reading The Shattered Light Chapter 192: – Retakan Pertama dalam Dunia Baru on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.