Font Size
15px

Angin pagi mbawa dingin yang tak biasa, seolah bumi ikut berkabung. Di tengah reruntuhan benteng tua di dataran tinggi Vareth, puluhan orang berdiri ngelilingi peti batu yang baru selesai dipahat. Di dalamnya terbaring Grandmaster Elvior—pemimpin terakhir Ordo Cahaya—yang kini akan turun ke tanah yang pernah ia pimpin dengan tangan besi.

Lyra berdiri di depan peti itu, ngenakan jubah abu-abu, wajahnya pucat tapi teguh. Tangannya nggenggam sebuah liontin kecil yang dulu diberikan Elvior padanya saat masih kecil, ketika ia belum tahu siapa sebenarnya pria itu baginya.

Di sisi lain, Kaelen berdiri diam. Tidak di depan. Tidak di samping. Hanya natap dari belakang, seperti bayangan dari sesuatu yang pernah terang.

Tak ada imam yang mimpin upacara. Tak ada ritual agung. Hanya suara alam dan manusia yang tersisa.

Alden langkah maju, nggenggam kapak perak yang sudah tumpul. “Elvior bukan pria suci. Tapi dia mati bukan sebagai musuh, lainkan seseorang yang... pada akhirnya milih bertarung demi yang benar.”

Hening nyambut kata-kata itu.

Alden natap Lyra. “Dan dia ayahmu. Kau yang harus nutupnya.”

Lyra narik napas dalam-dalam. Ia ndekat ke peti, lututnya hampir goyah. Ia nunduk, nyentuh dahi Elvior dengan tangan getar.

"Aku mbencimu bertahun-tahun," bisiknya. "Karena kau ninggalkanku. Karena kau njadi alasan ibuku nangis setiap malam. Tapi... hari ini aku ngubur itu semua bersama jasadmu."

Ia natap wajah dingin ayahnya. “Karena aku tak mau njadi seperti kau.”

Dengan itu, Lyra njentikkan jari, dan nyala sihir lembut lingkupi peti, ngikatnya perlahan dengan cahaya perak. Tanah terbelah sedikit, dan peti mulai turun.

Setelah pemakaman, reka berpencar. Hanya Kaelen dan Lyra yang masih tinggal.

“Dia bukan pahlawan,” kata Lyra pelan, natap langit kelabu. “Tapi juga bukan monster. Dan anehnya... itu mbuat kehilangannya jauh lebih sulit.”

Kaelen nunduk. “Kita tumbuh berharap semua musuh bisa kita benci tanpa ragu. Tapi kenyataan selalu mbuat garis itu kabur.”

Lyra noleh padanya. “Apa kau ingat bagaimana wajah Serina saat tertawa?”

Kaelen mbeku.

“Suaranya...?” Lyra nambahkan, pelan.

Kaelen ncoba.

Kosong.

“Aku tahu aku pernah ncintai seseorang lain,” katanya, suara parau. “Tapi wajahnya buram. Namanya hilang. Kadang aku bangun malam-malam dengan perasaan bersalah, tapi tak tahu kenapa.”

Lyra tidak berkata apa-apa.

Ia hanya nggenggam tangan Kaelen.

Dan untuk pertama kalinya, Kaelen tidak mbalas genggaman itu.

Sore harinya, Kaelen berdiri di puncak tebing, mandangi lembah yang dulunya markas Ordo. Sekarang hanya reruntuhan, bekas dan perang, dan asap dari tenda-tenda penyintas.

Alden datang, mbawakan secangkir air.

“Kau terlihat lebih tua,” katanya.

Kaelen nyeringai tipis. “Perang mbuat semua orang tua.”

“Tidak, bukan secara fisik. Jiwamu.” Alden duduk di atas batu. “Kau nang. Dunia bebas. Tapi aku tidak tahu apakah kau ikut terbebas.”

Kaelen natap ke kejauhan. “Aku rasa ringan. Tapi juga kosong. Seperti beban yang kugendong terlalu lama... dan sekarang, setelah kulepaskan, aku lupa bagaimana caranya berdiri.”

Alden natapnya serius. “Apa kau pikir, semua ini sepadan?”

Kaelen diam lama.

“Ya dan tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku tak tahu apakah aku nyelamatkan dunia... atau cuma ngganti bentuk kehancurannya.”

Di kejauhan, para penyintas mulai mbangun kembali. Anak-anak bermain di antara puing, tak sadar betapa dekat reka dengan kematian beberapa hari lalu. Dunia bergerak, bahkan saat hati belum pulih.

Kaelen berdiri lebih lama, sampai matahari tenggelam.

Lyra ndekat, gang pundaknya.

“Besok kita mulai nyusun dewan baru,” katanya. “Dunia mbutuhkan struktur. Dan kau... kau bisa mimpin.”

Kaelen noleh padanya.

“Tidak,” katanya. “Aku sudah cukup lama mimpin perang. Kini saatnya aku belajar diam.”

Lyra tak njawab. Ia tahu—Kaelen sedang bersiap njauh.

Dan ski hatinya mberontak, ia tidak nahan.

Karena beberapa luka hanya bisa disembuhkan oleh keheningan.

You are reading The Shattered Light Chapter 191: – Pemakaman Elvior on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.