Langit rah seperti luka terbuka. Puing-puing istana Elvior njulang di sekeliling reka, reruntuhan yang njadi saksi hancurnya Ordo Cahaya. Tapi dua sosok berdiri di tengah dan, tidak bergerak. Hening.
Kaelen nggenggam pedangnya erat, napasnya berat. Di hadapannya berdiri Eryon—mantan ntor, musuh, penyebab semua kehilangan yang mbentuk dirinya kini.
“Tak ada lagi yang bisa kau lindungi,” kata Eryon pelan.
“Bukan itu masalahnya,” Kaelen mbalas, matanya nyala oleh sisa kekuatan yang ia paksa dari dalam. “Yang kau lupakan, Eryon... adalah bahwa aku tidak pernah berperang hanya untuk nang. Aku berperang agar aku bisa milih untuk tidak mbunuh.”
Eryon ngangkat pedangnya, masih tenang. “Kau terlalu lemah untuk pilihan seperti itu. Dunia ini tidak mberi ruang bagi belas kasih. Aku sudah belajar dari Ordo. reka mbentukku seperti ini. Dan sekarang, aku milih.”
Kaelen nyerang lebih dulu.
Benturan pedang reka nggemakan suara logam dan sihir. Setiap ayunan Kaelen penuh emosi, bukan karena amarah, tapi karena rasa kehilangan yang tak bisa ia ingat dengan utuh.
Eryon nangkis, berbalik nyerang, lebih teratur, dingin, matikan. Tapi sesuatu dalam gerakannya ragu. Pandangannya terselip ke luka di dada Kaelen, lalu ke bekas luka lama di lehernya sendiri—sisa pertarungan reka yang pertama.
“Kenapa kau tidak mbenciku sepenuhnya, Kaelen?” tanya Eryon di sela duel. “Biar lebih mudah.”
Kaelen ndesis. “Karena bagian dariku masih percaya... kau bisa berubah.”
Eryon mundur setengah langkah. “Kepercayaan itu akan mbunuhmu.”
“Tapi kebencian sudah mbunuhmu, bukan?”
Benturan terakhir mbuat reka terpisah. Kaelen berdarah di bahu, Eryon terseret mundur. reka terengah-engah. Dunia seperti lambat.
Kaelen nurunkan pedangnya sedikit. “Berapa banyak lagi yang harus mati supaya kau rasa cukup?”
“Bukan tentang cukup.” Eryon natapnya. “Ini tentang... ngakhiri semuanya sebelum penderitaan baru dimulai. Kau pikir Ordo telah hancur? reka nyebar. Seperti penyakit. Dan kita... kita hanya gejala.”
Kaelen langkah ndekat, tapi tak nyerang. “Kalau begitu, bunuh aku sekarang. Selesaikan."
Eryon negang. Tangannya getar.
“Apa kau pikir aku tidak mau?” bisiknya. “Apa kau pikir aku tidak mbayangkan dunia ini lebih baik tanpamu? Tapi... ada sesuatu yang lebih ngerikan dari musuh yang tangguh.”
“Yakni?”
“Musuh yang ngingatkanmu pada siapa dirimu dulu.”
Hening nggantung.
Kilatan cahaya nyapu reruntuhan. Dari arah barat, pasukan kecil Kaelen muncul di balik asap. Lyra di depan, luka di pipi masih segar, tapi matanya teguh.
“Kaelen!” serunya. “Dia sudah kalah!”
Kaelen noleh padanya. Lalu natap Eryon.
“Tidak,” katanya. “Dia belum kalah. Tapi aku juga belum nang.”
Eryon natapnya, lelah. “Kau akan nyesal mbiarkan ini berakhir seperti ini.”
“Sudah terlalu banyak yang kusesali,” Kaelen njawab, lalu nurunkan pedangnya sepenuhnya.
Ia berbalik, ninggalkan Eryon berdiri sendiri, pedangnya masih di tangan tapi tak lagi terangkat.
Lyra nghampiri. “Kau... yakin?”
Kaelen ngangguk. “Jika dia kembali... jika dia milih jalan gelap lagi... maka aku akan ada. Tapi hari ini, aku ingin seseorang lihat bahwa dunia bisa nolak dendam.”
Beberapa langkah di belakang reka, Eryon natap ke langit. Lalu ke pedang di tangannya.
Ia lemparkannya ke tanah.
Dan untuk pertama kalinya sejak njadi bagian dari Ordo Cahaya, Eryon nangis.
Bukan karena kalah.
Tapi karena akhirnya... ia dibebaskan dari dendamnya sendiri.
Reviews
All reviews (0)