Langkah kaki Kaelen terdengar berat di antara puing-puing. Sisa ritual pemurnian telah musnah, tapi tanah belum sempat ndingin. Udara masih berbau darah dan debu sihir yang ledak semalam. Tak jauh darinya, Lyra duduk di bawah reruntuhan pilar, tangannya nggenggam luka di sisi perut.
Kaelen nghampiri dan berlutut di sampingnya.
“Kau seharusnya istirahat,” katanya pelan.
Lyra tersenyum tipis, napasnya berat. “Kau juga. Tapi kita terlalu keras kepala untuk itu, bukan?”
Dia tertawa kecil, tapi segera batuk. Kaelen nahan dorongan untuk nahannya. Ia tahu, terlalu banyak luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan kekuatan atau mantra.
“reka bilang... ini kenangan,” kata Lyra sambil natap ke arah langit yang masih kelabu. “Tapi kenapa rasanya seperti kita baru saja kehilangan sesuatu yang tidak akan bisa kembali?”
Kaelen tidak njawab.
Sentara itu, di sudut dan perang yang mulai lengang, Eryon berdiri sendiri. Ia mandangi tangannya—masih berlumur darah, skipun sudah berkali-kali dicuci. Ia tidak tahu apakah itu darah musuh, atau bekas ingatan yang tak bisa dihapus.
Langkah cepat ndekatinya. Alden.
“Kenapa kau kembali?” tanyanya tajam. “Setelah semua yang kau lakukan... kau pikir kau bisa begitu saja berdiri di sini dan diterima?”
Eryon tidak nolak. Tidak marah. Hanya ngangguk pelan.
“Aku tidak minta dimaafkan. Tapi aku tidak bisa mbiarkan reka nghapus dunia ini untuk alasan yang bahkan reka sendiri sudah lupa.”
Alden ndekat, matanya sempit. “Kau mbunuh Serina.”
Hening.
“Ya,” jawab Eryon. Suaranya lirih. “Dan aku nyesalinya setiap hari.”
Alden natapnya beberapa detik sebelum akhirnya njauh. Tidak maafkan, tapi juga tidak mbunuhnya. Hanya nyisakan jarak yang terlalu lebar untuk dijembatani.
Di malam hari, sisa pasukan berkumpul di sekitar api unggun kecil. Wajah-wajah reka tidak bersorak. reka duduk dengan kepala tertunduk, saling berbagi luka, saling berbagi diam. Kaelen berdiri di tengah reka, ncoba ncari kata.
“Aku tahu kita lelah,” katanya akhirnya. “Dan aku tahu kalian tidak ingin ndengar pidato.”
Beberapa dari reka ngangkat kepala. Ada yang terluka, ada yang kehilangan orang terdekat.
“Kenangan hari ini bukan akhir. Elvior mungkin sudah hancur, tapi Ordo masih punya sisa-sisa... dan ideologi tidak mati hanya karena tokohnya gugur. Kita akan terus bertarung. Bukan hanya lawan reka—tapi lawan apa yang mungkin kita jadi karena perang ini.”
Satu orang bertanya pelan, “Dan apa yang akan terjadi setelahnya, Kaelen? Kalau semua ini selesai... apa kau masih ingat siapa kau sebenarnya?”
Kaelen terdiam.
Lalu berkata, “Aku tidak tahu.”
Larut malam, Kaelen duduk sendiri di depan api. Lyra nghampirinya dengan langkah tertatih.
“Boleh duduk?”
Kaelen ngangguk.
“Dulu,” kata Lyra, “kau pernah bilang ingin lihat dunia yang damai.”
“Ya.”
“Apakah kau masih bisa mbayangkan seperti apa bentuknya?”
Kaelen natap bara api. “Aku takut tidak lagi.”
Lyra terdiam sebentar, lalu nyandarkan kepalanya ke bahunya.
“Aku masih bisa. Jadi... biarkan aku mbayangkan untuk kita berdua.”
Kaelen nutup mata.
Dan dalam gelap, suara-suara masa lalu—tawa Serina, teriakan Varrok, senyum ibunya—semuanya berbaur, nghilang sedikit demi sedikit seperti abu yang tertiup angin.
Tapi satu suara bertahan.
“Kaelen,” bisik Lyra. “Apa pun yang hilang, aku masih di sini.”
Ia mbuka mata. natap Lyra.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia mbiarkan dirinya percaya, ski hanya sedikit.
Namun jauh di reruntuhan istana Ordo, di balik ruang bawah tanah yang terkunci, seseorang mbuka mata.
Suara rantai berderak.
Senyum yang terlupakan perlahan muncul di wajah pucat itu.
“Jadi... reka sudah mulai lupa.”
Reviews
All reviews (0)