Langit malam berubah rah.
Awalnya hanya semburat tipis di ufuk barat, tapi dalam hitungan nit, seluruh cakrawala mbara seperti luka terbuka. Pasukan Kaelen, yang masih bertahan di balik reruntuhan altar, hanya bisa mandang ke atas dengan ngeri dan kebingungan.
"Apa itu?" tanya Lyra lirih, matanya natap langit yang seperti terbakar.
Kaelen ngernyit, lalu ngalihkan pandangan ke simbol yang perlahan-lahan terbentuk dari cahaya api di angkasa. Bentuknya rumit, seperti ukiran kuno yang ia kenali dari kitab sihir terlarang—lingkaran penyegelan yang digunakan dalam ritual pemurnian massal.
Alden berlari dari sisi timur reruntuhan, keringat dan darah mbasahi wajahnya.
"Itu bukan hanya pertanda," katanya cepat. "Itu instruksi. Ordo Cahaya sedang ngaktifkan Nox Lux Ordinem—ritual pemusnahan bagi semua yang nolak tunduk."
Lyra negang. "Ritual pemurnian?! Bukankah itu sihir yang dilarang bahkan oleh reka sendiri?"
Kaelen narik napas panjang. "Itu bukan sihir... itu kutukan yang reka beri nama indah."
Di atas altar, Grandmaster Elvior berdiri tegap, tubuhnya mancarkan cahaya samar. Di sekelilingnya, empat penyihir tinggi mbentuk formasi, masing-masing mbacakan bagian dari mantra yang mbelah udara malam.
Eryon berdiri di sisinya, wajahnya tak tergoyahkan, tetapi matanya tidak sekosong sebelumnya. Ada keraguan. Sekilas. Namun cukup terlihat oleh reka yang pernah ngenalnya.
“Elvior,” katanya pelan, “ritual ini akan mbunuh ribuan... termasuk para pendeta muda, rakyat sipil, bahkan anak-anak.”
Elvior tidak noleh. “Pengorbanan kecil untuk tatanan abadi.”
“Dan kalau reka tidak ingin tatanan itu?”
“Orang-orang bodoh tidak diberi pilihan. Kita milih untuk reka.”
Eryon ngepalkan tangan. Tapi ia tetap diam.
Sentara itu, Kaelen bergerak ke barisan depan, mandang para penyintas pasukannya yang kini berdiri dengan luka, debu, dan darah, tapi tetap tegak.
"Kita hanya punya satu pilihan," katanya. "Entah kita hentikan ritual itu sekarang... atau kita biarkan dunia dibakar atas nama kebenaran palsu."
Lyra langkah ke sisinya. “Bagaimana cara nghentikannya?”
Kaelen nunjuk langit. “Kita harus ngacaukan titik pusat mantra. Ada empat penyihir penjaga, satu di tiap sudut altar. Hancurkan satu saja, formasi akan goyah.”
Alden ngangkat satu alis. “Kau ingin kami nyerbu lagi, dalam kondisi seperti ini?”
Kaelen ngangguk. “Tidak untuk nang... tapi untuk mbuat pilihan. Dunia yang kita perjuangkan bukan dunia sempurna. Tapi setidaknya, itu dunia yang bisa milih.”
Pertempuran kedua ledak lebih liar dari yang pertama. Tidak ada taktik. Tidak ada waktu.
Lyra dan Alden masing-masing mimpin tim kecil nuju dua penjaga. Kaelen milih sisi timur, tempat cahaya mantra paling kuat bersinar—tanda bahwa penyihir terkuat berdiri di sana.
Kaelen bertemu langsung dengan lelaki berjubah hitam yang wajahnya ditutupi topeng emas. Setiap gerakan pria itu nyayat udara dan nciptakan kilatan cahaya nyilaukan.
“Tak ada gunanya, Kaelen,” katanya. “Kau hanyalah bayangan yang lawan matahari.”
Kaelen tidak mbalas. Ia nyerang.
Serangan demi serangan dibalas dengan mantra. Tanah ledak, udara ndesis, dan tubuh Kaelen tersambar dua kali, tetapi ia terus maju.
Di belakangnya, sisa pasukan bertarung dengan pasukan Ordo yang masih bertahan. Jeritan dan teriakan bercampur, tapi dunia Kaelen nyempit hanya pada satu hal: mbungkam penjaga itu.
Di sisi lain altar, Lyra hampir tak mampu berdiri. Bahunya terbakar oleh sihir, dan tombaknya patah. Tapi dengan kekuatan terakhir, ia nusukkan pecahan senjata ke jantung penjaga wanita berjubah ungu.
Seketika, langit bergetar. Cahaya mantra bergoyang.
"SATU GAGAL!" teriak penyihir utama dari altar.
Eryon lihat ke bawah. Napasnya tercekat.
Seketika, ia teringat sesuatu.
Senyuman Serina. Darah di tangannya.
Wajah Kaelen yang dulu ia bantu bangkit.
"Apa yang telah kujadi?"
Saat itulah Eryon bergerak. Ia mbelokkan tombaknya, bukan ke musuh... tapi ke penyihir penjaga ketiga.
Dalam satu gerakan cepat, ia nghantam jantung si penjaga dari belakang.
Dua titik gagal.
Mantra terguncang.
Elvior berbalik dengan marah. "PENGKHIANAT!"
Eryon natapnya, mata basah. “Kebenaran yang maksa manusia lupa siapa reka... bukan kebenaran. Itu penjara.”
Elvior ngangkat tongkatnya, tapi sebelum serangannya dilepaskan, Kaelen lompat ke altar.
Tubuhnya berdarah. Tapi matanya nyala penuh bara.
Dua mantan saudara berdiri berhadapan lagi—tapi kali ini, reka di sisi yang sama.
Dan reka nyerang.
Pilar cahaya di langit runtuh. Formasi mantra hancur total.
Langit kembali gelap.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama...
...malam benar-benar tenang.
Kaelen jatuh berlutut. Eryon berdiri di sampingnya, diam.
reka nang. Tapi ini belum akhir.
“Terima kasih,” bisik Kaelen.
Eryon hanya ngangguk, lalu langkah njauh... nuju malam yang tidak njanjikan pengampunan.
Reviews
All reviews (0)